
Maaf yang nungguin, mak ada kesibukan plus kecapean jadi gak enak badan, baru sempet nulis sedikit
So sorry baru sempet up skrg, makasih ud nungguin
\================
POV Eliza
Tak sabar rasanya saat dokter didepan kami membuka laporan hasil tes kami. Sebenarnya aku sangat bersyukur melihatnya menerima berita ini dengan gembira. Dia sama tak sabarnya denganku.
"Aku sangat berharap ini benar."
"Kita berharap ini benar." Kata-katanya membuatku tersenyum. Dia tak membiarkan aku merasa ini akan menjadi perjalananku sendiri.
"Aku tak menyangka kau akan menerima ini."
"Sebenarnya aku sendiri tak menyangka." Dia tersenyum. "Tapi seperti kau aku juga menganggapnya keajaiban jika benar? Ini berita yang mengembirakan, kita yang tak pernah berharap kemudian diberikan ini, bukankah itu sebuah keajaiban dan anugerah. Dan mungkin aku merasa begitu karena ini bersamamu."
"Kita berharap ini benar bukan?"
"Kita berharap ini benar."
Dan sekarang kami menunggu didepan dokter yang memeriksa kami.
"Baiklah, coba kita lihat dulu..." Dokter membuka hasil tes kami di tabletnya. Aku dan Bova menunggu hasil ini dengan berpegangan tangan erat. Beberapa detik itu sekarang terasa sangat menyiksa sekarang.
"Selamat, Anda hamil." Sesaat rasanya aku tak percaya ini terjadi. Benar-benar keajaiban yang terjadi padaku kali ini.
"Saya hamil Dok? Anda yakin?" Dia tersenyum dengan pertanyaanku. "Sebelumnya saya punya kesulitan hamil, bagaimana,..." Aku memandang Bova yang sudah merangkul dan mencium pipiku, entah bagaimana dia malah terlihat sangat gembira dengann hasil ini.
"Dokter sudah bilang iya kenapa kau tak percaya." Bova tersenyum merangkulku.
"Bukan aku tak percaya, aku takut ada kasus hamil di luar kandungan, hamil anggur , banyak yang kukhawatirkan." Aku mengatakan apa yang ada dalam pikiranku. Takut aku kecewa dan terlanjur bergembira, padahal aku sangat ingin semuanya baik-baik saja.
"Ayo kita USG pertama. Kita lihat apa dia baik-baik saja. Mari berbaring di sini..." Dokter ternyata memaklumi kekhawatiran ku, dia menaruh gel dingin itu diperutku sementara mataku menatap layar monitor.
"Baiklah, ... nah ini dia. Ini delapan minggu." Aku melihat sebuah bulatan tak jelas. Sementara dokter menjelaskan sebesar apa dia dalam usia delapan minggu.
"Itu anak kita..." Sekarang matanya Bova yang hangat ini berkaca-kaca, dia mencium tanganku. Aku melihatnya yang begitu emosional jadi ikut terharu.
“Anak kita.” Aku melihat sebuah keajaiban berkembang dalam diriku dengan mengagumkan.
"Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Semua baik-baik saja. Cobalah makan sedikit-sedikit, gejalanya akan mereda setelah lewat trimester pertama." Aku bertanya banyak hal padanya si sesi itu, setelah membaca berbagai banyak hal bertahun-tahun yang lalu berharap ini mimpi dan akhirnya hari ini aku bisa merasakan sesi konsultasi pertamaku sendiri.
"Terima kasih dok." Kami akhirnya mengakhiri sesi konsultasi pertama kami.
Dia diam saja berpikir setelah kami sampai ke mobil, entah apa yang dia pikirkan mungkin seperti aku. Banyak hal yang lalu lalang di kepalaku, kebanyakan menbayangkan apa dia anak perempuan atau laki-laki dan seperti apa dia nantinya.
"Apa yang kau pikirkan?" Aku bertanya karena dia diam saja.
"Sayang kita harus tinggal bersama. Terlebih lagi kita harus mengatur sebuah pernikahan. Aku akan bicara pada Ayahmu? Apa yang kau inginkan? Sebuah pesta pernikahan? Kau bisa meminta pesta apapun yang kau inginkan..." Dia langsung menghadapkanku untuk bicara dengannya. Wajahnya serius sekali. Aku jadi tersenyum.
"Jika kau tanya aku apa yang kuinginkan, aku hanya ingin menikmati kehamilan ini, bolehkah kita hanya menikah di depan gereja dan mendaftarkannya. Hanya mengundang keluarga dan teman-teman dekat kita."
"Apapun yang kau inginkan. Aku juga khawatir kau sibuk dengan pernikahan sehingga mengabaikan kesehatanmu, kata dokter tubuhmu baru akan menyesuaikan diri dengan kehamilan, tapi kau ingin sebuah pernikahan yang meriahku asal kau senang aku akan mewujudkannya."
"Tidak. Selama kau menginginkannya. Aku akan setuju."
"Tapi sebelumnya kita harus menelepon Mamaku dulu. Kau tahu betapa dia akan gembira."
Dia segera menelepon dan mencapai Zia.
"Mama, aku punya kabar luar biasa untukmu." Bova menyalakan loudspeakers supaya aku bisa mendengarkannya juga.
"Apa yang luar biasa? Kau melamar Eliza? Dia menerimanya?" Aku tertawa. "Eliza kau disana, dia melamarmu?! Benar itu?!"
"Lebih baik lagi Mama, kau akan punya cucu!"
"Apa?!" Dia terdiam nampaknya memproses apa kata-kata yang akan dikatakannya. "Cucu?! Maksudmu Eliza hamil?"
"Iya Mama, kata dokter, sudah delapan minggu!" Dia meneriakkan kata-kata itu sambil tertawa.
"Benarkah? Ya Tuhan itu ..sebuah keajaiban. Eliza kau diberkahi sayang. Ya Tuhan aku yang diberkahi sekali, tak pernah aku menyangka aku akan di berikan cucu. Tuhan benar-benar mengabulkan doaku." Aku dan Fabri ikut berpandangan, kami pun tak menyangka akan diberikan karunia ini.
"Dan juga doa Lola." Aku ingat kata-kata anak kecil itu pada kami. Dia akan mendoakan kami agar mendapatkan seorang adik untuk temannya bermain.
"Siapa Lola? Maksudmu anak sepupu Fabri."
"Ohh iya aku ingat Lola mendoakan kita." Kami semua tertawa mengingat itu. Aku menceritakan pada Zia apa yang terjadi saat Lola datang.
"Fabri, kalian harus menikah. Kau tak bisa menundanya lagi." Zia langsung mendesak kami.
"Iya aku tahu, kami hanya ingin pernikahan gereja dan mengundang keluarga dan teman-teman untuk makan malam kecil. Supaya Eliza bisa beristirahat, dia agak sakit karena morning sicknessnya."
"Begitukah? Kau tak bisa makan? Mama akan ke Milan jika begitu membantu semuanya. Cucu Zia akan lahir, kita harus merayakan, walau hanya pesta kecil sesama keluarga dan teman-teman dekat." Zia langsung ingin membantu kami.
Sang Nenek yang bersemangat karena akan mendapatkan cucu, dari tadinya dia tidak berharap akan mendapatkan apapun, tiba-tiba seperti kami mendapatkan keajaiban untuk mereka.
Kami sekarang akan bertemu sang Kakek mengabarkan berita ini, bagi Papa ataupun Zia ini adalah cucu pertama mereka, pastinya mereka sangat senang dengan berita ini.
"Papa." Papa yang merasa eneh kenapa aku memeluknya saat datang.
"Kenapa? Kau bersikap aneh hari ini?" Aku tersenyum melihatnya. Sekarang Fabri maju bersamaku, dia tambah heran kenapa kali ini aku maju bersama Fabri.
"Papa aku minta izinmu menikahi Eliza, karena kau akan punya cucu segera." Sekarang dia terlihat binggung sesaat sebelum dia menyadari apa yang Bova katakan.
"Cucu!? Kau hamil? Bagaimana bisa..." Karena tentu saja dia tahu alasanku bercerai dengan Javier. "Benarkah kau hamil Eliza?" Papa bertanya sekali lagi untuk memastikan.
"Iya Papa, kau akan punya cucu."
"Ohh sayangku, kau pasti sangat gembira sekali." Papa sekarang ganti memelukku. Dia tahu bagaimana hancurnya hatiku dan bagaimana perjuanganku bertahun-tahun sampai akhirnya aku menyerah. “Papa juga senang untukmu.”
"Iya Papa.Tentu saja aku sangat gembira."
"Fabri, anakku, tentu saja, kau sudah membuatnya sangat bahagia. Kalian harus menikah, membuat sebuah keluarga. Papa sungguh sangat bahagia untuk kalian untuk keluarga yang akan kalian punya segera.Kalian baru tahu hari ini? Kupikir kau sakit, Papa baru mau meneleponmu untuk bertanya kenapa kau kembali siang." Dia menepuk bahu calon suamiku itu, yang sekarang juga sudah dianggap anak.
Semua orang bergembira. Aku akan punya keluarga yang sebenarnya, ada Ayah, Ibu dan anaknya. Babak baru kehidupan akan dimulai.
\=============