The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
YOUR SUGAR DADDY WANNA BE Part 4. First Mert 1



'Seseorang klien ingin bertemu Anda jika Anda bersedia, hari ini jam 8.00 , Trippa Milano. Nama Alias yang diperkenalkan adalah Alexander. Dan Anda adalah Alessandra dalam nama alias Anda." Untuk melindungi kliennya, semua nama baik klien daddy maupun sugarnya adalah alias. Jika mereka memutuskan untuk menshare informasi pribadi nanti itu adalah hak mereka setelah mereka bertemu secara pribadi nanti. Tapi untuk pertemuan pertama mereka semua menggunakan nama alias atau nama palsu.


Tapi semua pembayaran akan di bayar oleh pihak penyedia situs dengan potongan 5% dan mereka melakukan perlindungan informasi pribadi dengan baik. Sekaligus memastikan bahwa tak ada daddy nakal yang tidak melaksanakan kewajibannya atau sugar nakal yang tidak melaksanakan tugasnya sesuai dengan kesepakatan.


"Oke jam 8 di Trippa Milano." Aku menyetujui pesan itu. Trippa Milano tak terlalu jauh dari restoranku. Tak ada masalah jam 8. Perasaanku tak tenang soal ini, berdebar, takut, tanganku dingin.


Tapi kurasa Valentina lebih takut lagi. Dia bilang beberapa hari ini belum terjadi apapun tapi cepat atau lambat akan terjadi, setiap aku tidur aku tak sanggup membayangkannya. Atau dia berbohong padaku untuk membuatku tak memikirkannya. Aku ingin bertemu dengannya secepatnya sebenarnya. Tapi dia menghindar dariku, dia selalu bilang dia baik-baik saja.


"Penjualan seminggu ini bagus nona, rata-rata perhari naik 60-200% dari minggu lalu, walau kita terpotong biaya promosi untuk sementara. Di Borona juga kenaikannya bagus." Akuntanku melapor padaku.


"Itu bagus, kuharap bulan depan aku tak membayar biaya iklan dan promosi kecuali hanya voucher. Mulai bulan depan kita akan sedikit melalukan penyesuaian harga. Tapi memberikan potongan membership dan aku akan mencoba menu baru agar orang tidak bosan."


"Itu bagus Nona. Saya yakin usaha Nona akan membuahkan hasil."


"Semoga Hilda, semoga..." Aku berencana menjual rumah kami, untuk mendapatkan setidaknya 40% pembayaran, dan sudah melakukannya, berusaha dengan segala keberuntunganku membebaskan Valentina secepatnya.


"Aku pergi dulu Hilda, ... Aku harus bertemu seseorang dan mengunjungi Ayah."


"Baik Nona."


Ayah masih di rumah sakit. Lambungnya dan ususnya komplikasi dan beberapa hari lalu harus dibawa kerumah sakit, jantungnya juga masalah. Jika bukan karena support kesehatan di Italia begitu baik aku tak tahu bagaimana membayar biaya rumah sakit dengan keadaan sekarang.


"Kau datang sendiri, adikmu tadi siang mengunjungi Ayah? Kelihatannya dia bersedih? Dia lebih banyak melamun kau tahu kenapa, apa kau bisa mencapai kesepakatan dengan Gianni."


"Sudah Ayah, tak usah khawatir, aku disini sekarang, aku akan mengurus semuanya. Ayah istirahat saja, ... biarkan aku yang mengurusnya." Valentina dan aku mencapai kesepakatan ini, kami tak membocorkan bagaimana kami menjalani ini, sudah sampai sini, kami yang bertanggung jawab sekarang. Apapun yang terjadi.


"Ayah memang tak berguna. Apa Gianni mengancam adikmu?" Ayah menunduk, bukannya dia tak tahu Gianni menginginkan Valentina.Tapi saat dia tahu sudah terlambat. Kondisi sudah terlanjur buruk.


"Tidak, ini bukan salah Ayah, Gianni bangsat itu memang menjebak Ayah. Ayah sudah makan... Dokter melarang selain makanan lembut sementara. Walau tak ada rasanya ini harus dimakan." Aku mengalihkannya dengan menyuapkan makanan diet khusus yang hanya terdiri dari telur dan bubur gandum yang belum disentuhnya itu.


Mencoba bicara santai dengannya, dia jatuh saat ini, tapi selama hidupnya dia dan Ibu berjuang untuk kami anak-anaknya. Ibu pasti bersedih jika kami bersikap buruk padanya.


Jika saja Ibu masih ada. Dia mencoba makan, walaupun aku tahu tidak mudah baginya untuk menelan.


"Tak apa, nanti sedikit Ayah makan lagi. Dokter juga bilang makan sedikit demi sedikit, setelah keluar dari sini Ayah di larang minum anggur dan caffein, ingat itu."


"Iya Ayah tahu, ...."


"Dad aku harus bertemu dengan teman. Kutinggalkan kau dulu oke, besok aku kesini lagi lebih awal."


Aku meninggalkannya menuju Trippa, tanganku mulai dingin karena kencan buta ini. Dia tahu wajahku tapi aku sama sekali tak tahu seperti apa dia. Alexander... mungkin dia berumur 50 tahun atau 60 tahun. Bagaimana aku menghadapi kakek-kakek seumur Ayahku.


Aku sampai ke restaurant cozy dengan banyak warna kayu gelap itu. Dan duduk di salah satu meja yang ditunjukkan pelayan. Menunggu 'Alexander' , aku melihat ponselku berusaha tidak terlalu gugup. Tapi sebenarnya aku ingin keluar saja dari sini.


"Kau ingin memesan dulu Nona?" Sebuah suara dari pelayan membuatku terlonjak kemudian.


"Nanti saja, aku menunggu seorang teman."


"Baik Nona, jika kau sudah ingin memesan panggil saja aku."


"Terima kasih." Aku menghela napas untuk menenangkan diriku. Sudah jam delapan lewat lima apa dia akan datang? Aku memainkan ponselku tak sabar menunggu apa yang akan terjadi.


"Nona Elisa, aku tak menyangka melihatmu disini." Sekarang aku kaget lagi. Seorang pria tampan berdiri di depanku dan duduk begitu saja. Lalu aku ingat siapa dia.


"Ohh Tuan Bova, sangat kebetulan... saya hanya sedang menunggu teman disini. Sangat kebetulan kita bertemu lagi..."


"Teman..." Dia tersenyum. "Laki-laki?" Aku melihat padaku, aku tak tahu bagaimana menjawabnya. Bagaimana jika yang muncul kakek tua renta nanti.


"Hmm... Iya." Dia menatapku sekarang, aku tak tahu alasannya.


"Baiklah, apa kau menunggu Alexander?" Bagaimana dia tahu, seharusnya hanya yang bernama Alexander yang tahu, berarti dia...


"Bagaimana kau... Apa kau Alexander?" Bagaimana mungkin pria seperti ini butuh sugar baby. Sekali dia melirik siapapun bersedia menjadi sugar babynya walaupun hanya semalam. "Kau... Bagaimana..."


"Dan kau pemilik restoran yang ramai itu, kenapa kau menjadi Alessandra, tadinya kupikir aku hanya melihat orang yang mirip, tapi ternyata benar kau?" Aku sekarang tak bisa bicara, aku terdiam lama di depannya.


"Aku ..." Sekarang kenapa aku merasa tak punya keberanian meneruskan ini. "Kurasa... aku tak bisa melakukan ini Tuan Bova. Kita batalkan saja, maaf saya harus pergi, kita batalkan saja." Aku beranjak dari kursiku tapi dia menahan tanganku.


"Tunggu dulu... tunggu dulu. Aku tak menghakimimu, aku hanya heran. Duduklah, maaf jika aku menyinggungmu. Aku tak bermaksud begitu." Aku melihatnya. "Tolong duduklah..."



"Mungkin aku harusnya..." Sebenarnya aku tak punya keberanian lagi sekarang, aku mau pergi saja. Tapi dia menahan tanganku.


"Aku juga tak lebih baik darimu, aku tak menghakimi apapun ... Kumohon duduklah." Aku tak bisa duduk. Tak kusangka akan sesulit ini, aku menatapnya. "Aku minta maaf,..." Dia mencoba tersenyum kecil dengan simpatik, sementara aku tak tahu bagaimana menjawabnya. Aku menghela napas, memikirkan adikku yang posisinya lebih sulit dariku, aku berani menatapnya lagi dengan muka panas. Akhirnya aku duduk kembali.


"Terima kasih. Sekarang kita bisa bicara. Kau sudah lama..."