The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
YOUR SUGAR BABY WANNA BE Part 23. Valentina Come Back



POV Eliza


Bova baik sekali beberapa hari ini. Entah kenapa, mungkin karena dia juga kesepian sama sepertiku setekah kehilangan sugar babynya.  Tapi yang terpenting adalah aku punya teman yang akan menolongku sekarang. Menolongku melawan Gianni.


“Kau harus mencari  waktu dia sendiri mulai besok, hari ini orang yang akan membawanya keluar sudah datang.  Lalu kita akan tak tahu apa-apa, kau akan menuduh mereka yang sengaja menghilangkan Valentina, itu akan  memberika waktu bagi pengacara untuk memasukkan berkas, dan dua hari setelahnya baru kita benar-benar terang-terangan dengan mereka.” Bova datang dengan rencana lengkapnya bersama Tuan Armando pengacara kami saat kami makan siang di sebuah pusat perbelanjaan,  esok siangnya.


“Banyak hal yang akan terjadi, tapi  setelah orang temanku mengatur adikmu keluar, mungkin dia harus segera keluar dulu, dia akan disimpan sebagai cerita pemungkas di depan hakim, dia harus kembali. Supaya tak seorangpun bisa mengancam kalian lagi. Setelah laporanku masuk tanggal dua, akan ada pemberitaan langsung dengan beberapa korban Gianni..." Dia menjelaskan dengan detail sekarang karena besok kami akan memulai.


"Mungkin mereka akan minta kesepakatan, karena kasus seperti ini sudah pernah disidang dan para korban yang memenangkan deal, hakim memutus menghitung dengan bunga yang berlaku sekarang sekitar 4.5-5,5% per annual. Jika dihitung dengan bunga itu mungkin kau hanya tinggal menutup jauh lebih sedikit lagi. Tapi kau harus tahu drama akan terus berjalan, karena ini dekat dengan pemilihan, jadi kami akan menjelekkan nama keluarga Gianni sehingga dia tidak  mungkin dipertimbangkan sebagai menteri..." Aku harus ingat kasus ini diangkat untuk menyerang target yang lebih besar.


“Baiklah, aku akan lakukan sesuai dengan arahan Tuan Armando. ”


“Keuntungannya adalah kau pengusaha  restoran. Dengan munculnya namamu di berita,  kurasa impactnya juga akan sedikit banyak mengangkat namamu, apalagi restoranmu ditengah kota. Ini adalah kesempatan  untukmu sekaligus promosi.” Aku mengerti yang  dimaksudkannya.


“Saya akan melakukannya, ini adalah pilihan yang sangat jauh  lebih baik, yang penting Ayah dan Saudari saya baik-baik saja, saya akan lakukan apapun yang Anda perlukan.” Sekarang aku akan membiarkan giliran Andriano Gianni  yang dipermainkan, berbulan-bulan yang lalu dia mempermainkan kami sekarang gilirannya dipermainkan.


“Baiklah jika begitu, untuk mengeluarkan adik Anda Tuan Bova yang  akan mengaturnya bersama temannya.”


“Kau sudah tahu kapan dia akan kembali?”


“Dia akan kembali malam ini, dia  bilang dia sekarang harus mengikuti Adriano ke rumahnya dan  bisa keluar mungkin di pesta tanggal 3.  Dia mengirimkan aku alamatnya.”


“Baiklah, tanggal tiga kalau begitu.  Besok kau harus ikut  Tuan Armando memasukkan laporan beserta  7 korban lainnya.” Aku  mengiyakan. Tuan Armando pergi kemudian tinggal aku dan Bova yang ada disana.


“Setelah kerusuhan terjadi aku tak bisa terlihat bersamamu secara langsung di Milan oke. Aku tidak bisa memberinya peluru untuk menembak secara khusus  siapa yang ada dibelakang ini, kau bisa meneleponku,  tapi yang akan muncul membantumu adalah Armando. Nanti ada saatnya aku menampakkan diri. “


“Iya baiklah. Terima kasih untuk ini. Berapa aku harus membayar  untuk meloloskan Valentina.”


“Tenang saja, kumpulkan uangmu dulu untuk melunasi hutangmu dan ada biaya begitu adikmu disana nanti. Nanti akan kuberitahu.”


“Mana bisa begitu, kau sudah membayar  biaya pengacara didepan.” Kenapa dia begitu baik.


“Bisa. Tak usah mengkhawatirkan uang.”


“Kenapa kau baik sekali, kau selalu bilang tak ada makan siang gratis.” Dia tersenyum. Aku yang berdebar melihat senyumnya.


“Jika aku ingin memberikan makan siang gratis itu hak si pemberi  bukan.” Aku menatapnya, apa gara-gara  aku memeluknya saat aku mabuk, dia berubah menjadi baik sekali, bahkan dia menghabiskan malam tahun baru denganku. Apa yang  Don Juan ini harapkan, apa yang dipikirkannya, dia tahu aku tak mau hubungan sesaat seperti yang dia lakukan, terlebih aku sama sekali bukan tipenya. Tapi dia tidak pernah meminta terlalu jauh


“Ini liburanmu bukan, mau menonton denganku?”  Sekarang dia mengajakku nonton.


“Menonton? Kau belum menemukan kandidat baru heh?"


"Kandidat apa?"


"Sugar baby baru." Dia meringis.


"Belum tertarik menemukan yang baru, menemukan orang baru itu sulit."


"Ohh kupikir itu mudah bagimu."


"Kau selalu menganggapku mudah berganti-ganti wanita. Sophie itu sudah hampir dua tahun." Sudah seperti pacaran saja.


"Pantas saja dia jatuh cinta padamu." Dia tak menjawab pernyataanku. Kurasa dia memang kesepian atau jangan-jangan dia teringat pada sugar babynya itu. "Apa kau teringat padanya?"


"Kenapa kau senang sekali memanggilku Vanilla."


"Karena kau memang Vanilla." Dia tersenyum lebar.


"Besok aku ganti parfum mawar. Ayo menonton. Aku juga sudah lama sekali tak menonton.


Jangan pikirkan terlalu banyak, jangan berharap terlalu banyak. Don Juan ini hanya sedang kesepian dan memanfaatkanku untuk menemaninya. Hanya itu yang terjadi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dua hari berikutnya aku menjalani pelaporan kasus bersama korban-korban lainnya. Kemudian ada wawancara dengan wartawan yang akan menurunkan berita ini. Sebenarnya wawancara itu hanya formalitas untuk mengambil foto kami, semuanya sudah di ketahui oleh wartawan beserta data lengkap kami.


Dalam beberapa hari kedepan berita kami akan keluar.


Jam enam sore harinya aku menunggu dengan berdebar kabar dari orang yang menculik Valentina dari sebuah pesta. Karena dia bahkan di kawal oleh orang Adriano Gianni untuk keluar kemanapun setelah kembali dari Monaco.


Sebuah mobil mendekati kami yang berada di sebuah restoran restoran. Dia akan langsung terbang ke NY jam delapan, jauh dari jangkauan Adriano Gianni.


"Nampaknya itu mereka." Aku ditemani oleh Tuan Armando sekarang. Aku membawakannya koper pakaiannya untuk disana.


Ternyata benar... Senang bisa melihatnya lagi. Aku benar-benar lega sekarang.


"Kakak..."


"Akhirnya aku melihatmu lagi." Aku memeluknya dengan erat.


"Aku sekarang mengkhawatirkanmu Kakak."


"Aku bisa menghadapi ini, aku punya bantuan profesional di belakangku, kita tak akan kehilangan apapun. Dan kau harus punya kehidupan baru, lupakan semua yang terjadi di sini." Haru dan lega karena sekarang dia akan jauh dariku.


"Aku akan kembali Kakak."


"Kau tak boleh kembali sebelum menyelesaikan magistermu. Setidaknya sampai Gianni itu akan dikurung karena memperlakukanmu seperti ini."


"Kau benar-benar harus berhati-hati Kakak."


"Tenang saja. Aku bisa mengatasi ini." Perjumpaan kami tidak lama. Tapi itu sudah cukup. Aku melambai padanya ketika dia menjauh. Nanti aku akan mengunjunginya.


Ketika semuanya sudah tenang.


Aku kembali ke restoran, gejolak pertama akan terjadi dengan segera. Kami sudah mengantisipasi ini. Gianni akan segera mencarinya dan itu berarti dia tak segan-segan mengancamku.


"Dimana adikmu?!" Seseorang masuk ke kantorku jam sembilan malam, sebuah kamera sudah siap merekam apapun yang terjadi. Tuan Armando di ruangan samping untuk mengawasi jika aku butuh bantuan.


"Kau yang menculik adikku, sekarang kau yang marah-marah kesini."


"Kau jangan main-main denganku Eliza dimana adikmu?! Atau kau ingin aku memasukkan Ayahmu ke penjara?!"


"Adikku sudah kuamankan dan kau tak bisa lagi menyentuhnya! Bangs*at!" Aku meneriakinya sekarang.


bersambung besok ..... Ngabsen dulu hari ini.