
"Ohh iya, saya punya jadwal menunggu besok."
"Apa kau punya waktu libur?"
"Ada 2x sebulan, atau mungkin jika musim dingin jadwal biasanya lebih longgar tidak sampai malam sekali. Kadang saat cuaca buruk klien membatalkan perjanjian."
"Sampai jam berapa kau bekerja?" Kenapa dia mau tahu jadwal kerjaku.
"Sekitar jam dua biasanya kami tiba lagi di okiya."
"Jam 2 pagi?" Nampaknya dia baru kali ini mendengar jadwal kerja kami. Bukannya sama, gadis-gadis Roponggi itu juga bekerja sampai jam begitu. Kenapa dia terkejut?
"Masih dengan dandanan berat begitu?"
"Hmm ...iya. Itu harus dibersihkan tentu saja. Biasanya kami baru bisa tidur sekitar jam tiga pagi."
"Besoknya jam berapa kau bekerja pagi?" Pertanyaan lanjutan lainnya, mungkin dia menggangap jam 3 pagi setiap hari itu sangat berat.
Kami sudah terbiasa sebenarnya. Tapi ada juga waktu awal-awal aku merasa jadwal kami sangat menyiksa. Tapi semua orang di awal bekerja juga belum terbiasa. Nantinya mareka akan menikmati rutinitas mereka karena telah memulai beradaptasi.
"Hmm biasanya sekolah atau latihan dimulai jam 9. Jam 1 sampai jam 3 kami punya waktu istirahat. Tidak pasti, jika kau punya jadwal dengan wisatawan jam istirahat mungkin sangat sempit tidak ada di tahun-tahun pertama menjadi maiko. Jam 4 kami sudah harus siap-siap berdandan untuk ke ochaya, jam 6 kami sudah di ochaya sampai acara selesai."
Dia sekarang diam, kami memang bukan gadis Ropponginya yang bisa menggunakan persuasif berlebihan untuk membuat penjualan sebesar 10 juta yen dalam semalam.
Kami memegang batasan kesopanan kami. Kami bekerja keras untuk setiap Yen yang kami terima, mungkin yang kami dapatkan sebagai tambahannya adalah reputasi terhormat kami.
"Apa kau bercita-cita menjadi Geiko?"
"Tidak." Geiko adalah dimana hidupku berjalan mengikuti aliran air. Tapi aku berusaha menerimanya dan berusaha melakukan yang terbaik.
"Apa cita-citamu..." Pertanyaannya menbuatku menoleh. Kudapati dia tengah antusias memandangku.
"Analis keuangan di sebuah lembaga investasi atau finance director, aku mahir dengan angka...." Jika Ayahku meninggalkanku dengan sedikit peninggalan, maka tak diragukan aku akan mengejar karier itu.
"Kenapa kau tak lakukan." Dia bertanya lagi membuatku bertanya kenapa dia perduli. "Maaf aku pikir kau memang punya kemampuan mengejar itu, aku hanya penasaran kenapa kau tak melakukannya."
"Karena Ayahku mati terbunuh di usiaku ke 17 dan tidak meninggalkan deposit. Sederhana. Tapi aku tak menyesali apapun. Jika aku sarariman mungkin aku belum sampai di titik ini sekarang. Hisao-san juga berkerja keras dengan caranya, kudengar Anda mendapat pujian karena berhasil mengangkat laba perusahaan secara signifikan. Selamat untuk promosi Anda, saya harap saya bisa membantu Anda setahun ini melewati ujian dari Kakek Anda."
Aku memutuskan berdamai, karena dia tidak mencoba membuatku kesal seperti tadi sore.
"Terima kasih atas bantuanmu." Dia bahkan mengatakan terima kasih dengan pantas. Ada apa dengannya dia tak tertarik mencoba membuatku kesal lagi sekarang.
Kami sampai ke apartmentku tak lama kemudian. Sopirnya membukakan pintu untukku.
"Hisao-san, terima kasih sudah mengantar saya."
"Tentu, selamat beristirahat."
Tanpa diduga malam ini berakhir dengan damai. Kupikir tadi dia akan mencoba membuatku kesal lagi tapi ternyata tidak.