The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
LOVE ME OR KILLME Part 57. Oguri 2



Pukulan dan tendangan terjadi. John sesuai dengan gelarnya. Punya teknik jauh diatas semua orang disana. Kecepatan pukulannya menyerang titik sakit tubuh menyebabkan lawannya langsung terdorong mundur sementara pukulan Nathan masuk satu kali. Mereka berdua diatas angin.


"Kalian berdua akan menginap di penjara malam ini Tuan dan Nyonya Oguri." Aku melipat tanganku didepan dada. Cukup senang mereka tak bisa berbuat apapun selain mundur.


Sang Nyonya menatapku dengan mata terpicing.


"Aku akan membuatmu membayar *******!"


"Anakmu yang menggelapkan uang dengan skema investasi. Anakmu yang membayar! Tak usah menimpakan kesalahan padaku." Aku menjawabnya dengan berani. Karena merasa orang-orangnya tak akan bisa melewati Nathan dan John. "Kau pikir kau saja yang punya pengawal." Aku mau balas dendam ke Nathan dengan membuatnya menjadi pengawalku, lagipula bukannya dia yang membuat aku bertemu dengan Oguri disini.


"Kau memang ******!"


"Kau tak usah bangga dengan kejahatan anakmu Nyonya Oguri."


"Habisi gadis itu!" Aku langsung waspada dengan kata-kata habisi, Nathan dan John ke depan saat menyadari kedua pengawal itu meraih sesuatu dibalik pinggang mereka yang ditutupi jas. Sial mereka membawa senjata!?


Aku mundur kebelakang sekarang aku takut dengan senjata itu, John dengan cepat berhasil merebut senjata, tapi Nathan kurang cepat bertindak. Satu orang pengawal itu membidikku yang berada di samping kanannya dan akibatnya sebuah letusan terdengar.


Rasa sakit seketikan menyengat karena pelurunya menembus bahuku membuatku terlempar ke belakang membentur dinding.


Darah merembes membasahi bajuku, sementara Nathan dan John melumpuhkan pengawal itu dengan merebut senjata mereka dan berbalik menodongkan senjata ke arah mereka.


"Bangsat! Berani kalian mengeluarkan senjata?! Nathalie?!" John mengarahkan senjata yang direbutnya ke arah dua pengawal itu dan Nathan mundur mengecek keadaanku, sementara sirine polisi mendekat.


"Aku masih hidup, hanya perlu perban." Aku meringis, tak bergerak disana, bersyukur itu hanya menyerempet. Kali ini aku akhirnya merasakan peluru pertama kalinya dalam hidupku, untungnya hanya melukai bahuku. Walaupun rasa sakitnya membuat mataku berair.


Beberapa orang polisi naik ke atas dan melihat Nathan dan John mengarahkan senjata kepada pengawal-pengawal itu.


"Officer, mereka berusaha menembak warga negara USA." Nathan memberi tahu mereka. John mengangkat tangannya dan menaruh senjatanya ke lantai.


Sementara seorang polisi mengecek keadaanku.


"Siapa yang menembak Anda Mam?"


"Orang Jepang itu." Sekarang aku memasukkan mereka sekeluarga ke penjara. Dan setidaknya ini membuat Nathan berhenti mencurigaiku. Aku akan mengamuk padanya setelah ini.


"Kami perlu ambulan." Officer itu langsung bicara di radio polisi.


"Officer, tidak usah, dia kekasih saya, aku akan mengantarnya sekarang ke Kindred Hospital, itu terdekat yang bisa kujangkau. Ini kartu nama saya... Dua orang itu berbahaya. Satu orang pingsan. John teman saya." Nathan menunjuk ke John. Dua orang polisi datang untuk membantu.


"Mam, Anda benar tak perlu ambulan."


"Ini hanya menyerempet peluru officer." Aku menahan tanganku pada lukaku.


"Kau bisa berdiri." Aku meringis saat Nathan membantuku berdiri. Aku melihat padanya, nampaknya dia akan bertahan bukan dia yang melakukan ini padaku. Bagaimana jika peluru itu terkena pada bagian vital. Hmm...mungkin baginya itu malah bagus buatnya.


"Masuklah..." Dia membuka pintu untukku, bergegas masuk ke kursi pengemudi dan menjalankan mobil. Aku diam saja tanpa mengeluhkan apapun. Aku hanya ingin pergi dari sini keluar dari kasus ini jika bisa.


"Kau yang merencanakan ini bukan,..." Aku langsung menuduhnya pada kesempatan pertama.


"Apa maksudmu?" Dia menjalankan mobil dan tidak melihatku. Dia tidak mau mengaku tentu saja. Aku tak punya bukti untuk menuduhnya.


"Lain kali jangan sengaja memprovokasi orang lain." Ternyata dia tahu aku sengaja membuat Nyonya Oguri marah. Aku mau membalasnya tapi akhirnya terkena pada diriku sendiri.