
Aku sebenarnya takut Hisao-san marah. Tangapannya semalam buruk. Tapi dilain sisi aku tahu aku punya alasan kuat untuk tidak disalahkan karena Ryohei-san membantuku.
Aku bisa beralasan aku bertemu Ryohei-san secara tak sengaja. Walaupun nantinya dia akan tahu kami mungkin punya hubungan. Tapi seperti yang kubilang untuk saat ini aku hanya menjaga perasaannya saja, tak ada hubungan pribadi di perjanjian kami.
Jika dia tersinggung dan melakukan hal lain. Dia harus menjelaskan dirinya sendiri padaku. Apa alasan dia tersinggung. Karena mereka rival? Aku bahkan tidak tahu mereka saling mengenal.
Aku punya acara siang dengannya, jam sembilan aku sudah menyapa Nanao.
"Nanao, dimana Hisao-san?"
"Tempat latihan Nona." Aku akan menemuinya dan bersikap itu bukan hal yang besar.
Menuju ke gym dengan perasaan berdebar sekarang. Dia kali ini sedang memukul samsak latihannya. Aku memberanikan diri masuk ke dalam. Entahlah aura maskulin kental ini kurasa sedikit membuatku tak nyaman kemudian.
"Hisao-san, ..." Aku menyapanya dan membuatnya menoleh sekarang.
Dia melihatku sebentar dan memukul samsaknya lagi. Apa dia sedang marah sekarang? Dia tidak menjawab sapaanku sama sekali. Aku tak berani menganggunya. Kubiarkan saja dia dengan kegiatannya.
Aku hanya duduk di sebuah alat yang ada disana.
"Aku membawakanmu okonomiyaki Hisao-san." Aku mencoba mencairkan suasana dengannya.
"Ok, Thanks. Nanti kumakan." Dia menjawabku dengan cara tercepat dan berpindah ke alat pull upnya. Dia memang mungkin sedang marah. Apa makan malam semalam begitu menggangunya.
Aku menunggunya selesai dan hanya memperhatikannya sambil memainkan ponselku.
"Hisao-san, kau sedang marah padaku?" Sesaat kemudian dia selesai dengan pull-upnya.
"Tidak." Dia menjawabku tapi tidak melihat padaku. Aku akan konfrontasi sekarang. Baru aku akan mengatakan sesuatu.
"Kau punya hubungan dengan Ryohei?" Dia akhirnya bertanya.
"Aku hanya makan malam dengannya. Kami hanya kebetulan bertemu."
"Kau bisa tanya dia..."
"Kenapa aku harus bertanya padanya. Jika kau sekarang berdiri didepanku. Apa kau punya masalah menjawabku dengan jujur?" Rencanaku berbohong hilang sudah. Aku merasa tak mampu menghadapi interogasinya.
"Itu hanya makan malam. Tidak ada yang terjadi seterusnya, dia klienku juga Hisao-san. Aku tak akan menganggumu kalau begitu." Aku beranjak pergi sekarang. Lebih baik aku menghindar dulu.
"Setsuko-san,..." Langkahku terhenti. Dia berdiri didepanku. "Aku tak akan bertanya lagi, ini terakhir kalinya. Katakan yang sebenarnya, ini kesempatan terakhirmu."
"Hisao-san, itu adalah ranah pribadi. Kau dan aku terikat perjanjian pendampingan khusus, tapi sudah tertulis diantara kita hanya ada perjanjian pendampingan secara profesional bukan danna secara penuh, aku mengatakan padamu aku dan Ryohei-san hanya kebetulan bertemu dan makan malam. Aku terikat dengan peraturan okiya, aku tidak melanggar peraturan itu dari umurku 17 tahun sampai sekarang. Aku tak melanggar apapun perjanjianku denganmu..."
"Kau menyinggung ranah pribadi ternyata, jadi Ryohei-san punya kepentingan pribadi padamu?"
"Aku tak berka..." Dia langsung memotongku.
"Biar kutebak, entah bagaimana dia menyukaimu? Menyukaimu? Menyukaimu secara khusus itu ada aturannya bukan, apa dia mengajukan diri menjadi danna-mu. Tapi tak bisa dia harus menunggu tahun depan karena kau sudah terikat perjanjian denganku. Itu yang terjadi bukan?" Dia tersenyum dingin sekarang.
"Kenapa kau tidak mengatakannya saja, apa salahnya bersikap jujur. Kau benar aku memang tak punya perjanjian danna secara penuh denganmu, aku hanya ingin kau berkata jujur..." Tengkukku dingin. Aku tak bisa menyangkal perkataannya. Dia terlalu pintar untuk dibohongi.
"Aku kecewa padamu Setsuko-san. Yang kubutuhkan hanya kejujuranmu."
"Aku... hanya tak ingin kau tersinggung. Bukan ingin membohongimu." Aku menatapnya, tak disangka dia bisa mengatakan hal itu padaku. Aku salah bicara tadi ternyata.
"Aku lebih tersinggung kau tak jujur."
"Lalu apa yang kau harapkan dari kejujuranku. Hisao-san membuatku canggung dan takut, dari tadi kau tak melihatku dari tadi bicara ketus sejak aku datang kesini, kau langsung menuduhku, disisi lain aku takut menyinggungmu, di sisi lain aku hanya harus menjaga perasaan semua orang. Kau ingin aku jujur, saat ada orang yang mengatakan perasaannya padaku, apa aku tak boleh menghargainya dan membuatnya menjadi ranah pribadi... Kau kecewa padaku? Aku tak melanggar apapun perjanjian kita. Dan membuatku merasa bersalah seperti ini. Sekarang kau ingin menyalahkanku tak menghargai perasaanmu?"
"Baik, aku memang salah, aku akan menurut padamu aku salah Hisao-san, terserah apa maumu. Jika kau ingin aku membayarmu 10 juta yen kembali atas makan malam itu. Sihlakan. Aku akan membayarnya...." Entah kenapa berani bicara seperti ini, kurasa aku sudah gila. Tapi ini pertama kalinya aku menyukai orang dan dia juga menyukaiku secara tulus. Dan kemungkinan aku juga akan patah hati lagi. Aku terpukul.
Aku beranjak pergi. Jika dia membatalkan kesepakatan kami karena makan malam itu, walaupun aku harus menguras semua tabunganku selama ini untuk membayarnya. Akan kulakukan.
"Siapa bilang kau boleh pergi seperti itu." Dia menangkap tanganku dan menarikku sekarang. Aku terkejut tiba-tiba melihatnya begitu dekat. Dan dia mengunci pinggangku sekarang, kulit lembabnya membuatku tak nyaman.