The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
YOUR SUGAR BABY WANNA BE Part 47. Are You Jealous?



POV Eliza.


“Kau sudah selesai menghadapi Gianni? Aku mendengar beritanya, katanya dia stroke dan lumpuh?” Ada berita yang meliput pernyataan pengacaranya.


Hanya mungkin dua bulan sejak kepulangan kami dari NY dia tidak muncul disini, tapi setelahnya dia biasa lagi.


Muncul lagi disini seperti tidak ada persoalan apapun, walau dia masih memintaku memakai pengawal. Dia bilang orang yang biasa dibayar Gianni sudah dia urus, jangan tanya aku bagaimana dia mengurusnya karena aku tak ingin tahu.


“Iya, dia sudah tamat, perusahaannya bahkan berpindah tangan ke CEO profesional, bahkan Antonio Segni diangkat sebagai komisaris di salah salah satu perusahaan utamanya. Itu adalah deal yang dibuat Nathan Garcia sebagai bayaran karena membantunya menumbangkan Gianni dari perusahaannya sendiri.” Aku mengangguk, nampaknya kali ini Gianni tak akan berani berulah lagi,  sudah bagus mereka masih bisa mempertahankan nyawanya sampai sekarang walaupun dengan berdarah-darah.


“Hmm baguslah.  Tidak ada orang yang mencari gara-gara denganmu lagi.” Aku jadi tak was-was lagi antara orang yang berusaha mencari masalah dengannya atau denganku.


“Cuma kau yang bisa mencari gara-gara denganku sekarang Vanilla.” Dia mencium pipiku sekarang.


“Ohh Stella sudah kembali? Bukankah dia juga senang mencari gara-gara?” Dia sangat  senang membicarakan Stella, gadis tukang menghajar orang itu mendapat perhatian lebih darinya. Sebenarnya aku senang Stella sudah pulang.


“Gadis bar-bar itu sudah pulang ke NY kemarin, senang  sekali  mencari sparing partner di klubnya Gianni. Dia dan Luca  sangat cocok jika disuruh berkelahi. Sayang  aku tak bisa menahannya di Milan. Hilang sudah hiburan gratisku.” Bova menceritakannya dengan bersemangat. Kadang aku merasa dia terlalu banyak bercerita soal Stellanya ini.


“Sepertinya sangat  seru.” Dia jadi memandangku dengan ekspresi lucu.


“Ohh ayolah, apa kau cemburu Vanilla.”


“Tidak.” Aku melengos, sebal mendengarnya membahas Stella. “Jangan dekat-dekat, panas. Menjauh dariku.” Aku mendorong mukanya,  yang menyebabkan tanganku tergelitik geli. Dia terkekeh saat aku menganiayanya.


“Sayangku, kau jangan kejam begitu. Aku hanya senang melihatnya menghajar orang. Aku sudah milikmu kenapa kau cemburu dengannya.”


“Aku tak cemburu.” Dia memang senang melihatku kesal. Sekarang aku tak akan mengampuninya karena masih membicarakan Stella assitennya itu dengan bersemangat.


“Apa Lorina masih datang kesini?” Dia bertanya tentang gadia Gianni yang sudah menghilang dari peredaran. Tampaknya setelah banyak kejadian tidak menguntungkan yang menimpa keluarga Gianni dia pun tak berani lagi mencari gara-gara tak perlu.


“Tidak, jika dia berani  akan kutampar dia dengan penggorengan panas.” Bova langsung tertawa. “Kenapa kau tertawa, belum pernah  melihatku memarahi orang dengan penggorengan.” Masih kesal soal Stella. Dia belakangan jarang datang setiap datang selalu menyinggung Stella menghajar orang. Aku juga bisa menghajar orang.


“Kau  sedang PMS sayang, kenapa kau marah-marah padaku.” Aku tak menanggapinya. Belakangan dia nampaknya terlalu sibuk bekerja. Aku tak menyuruh dia datang tiap hari, tapi kadang jika dia punya pekerjaan, bahkan dia tidak ingat menelepon berhari-hari. Hanya muncul saja di restoran seperti dia merasa saatnya sedang liburan. Dia bilang aku bukan sugar babynya, tapi setengahnya aku merasa dia muncul dan pergi seenaknya.


"Baiklah, karena keadaan sudah tenang, kau mau kita liburan."


"Tidak, aku sibuk." Dia menghela napas dan menempel lagi di sampingku.


"Vanilla, aku tidak akan bicara soal Stella lagi. Jangan marah..." Dia meminta maaf padaku, tapi aku sudah terlanjur moody. Mungkin dia memang terbiasa begitu. Belakangan aku merasa tidak bisa menerima dia yang datang dan pergi seenaknya dan sesempatnya itu.


"Kau tidak sibuk hari ini, biasanya jika sibuk kau bahkan tak ingat untuk meneleponku sama sekali. Apa sulit meneleponku sebentar, mengirim pesan sedikit, saat kau datang Stella yang kau bicarakan, kau memang menyebalkan!" Kusemburkan pikiranku padanya, akan kulihat bagaimana dia menghadapinya.


"Baiklah aku salah, aku salah tidak meneleponmu. Lain kali aku akan menelepon oke." Dia sedang mengusahakan aku kembali bersamanya, dia memelukku dengan manja, sekarang dia bermanis-manis. Biarkan saja dia menerima hukumannya sekarang.


Aku tak menjawabnya.


"Vanilla... Aku sudah mengaku salah padamu."


"Bagus, karena kau memang salah."


"Kau tidak memaafkanku bukan."


"Kau dihukum."


"Bagaimana kalau kita liburan besok, jalan-jalan berdua seharian keluar kota. Permintaan maaf, lain kali tidak akan kuulangi lagi. Aku tahu aku salah, ..." Aku tak menjawabnya. Oven ini memang tahu melelehkan orang,


"Vanilla cantik... aku merindukanmu." Dia langsung memelukku tak perduli aku masih marah atau tidak. Ciumannya menyasar leherku dan pelukannya membuat aku merasa ikut merindukannya, tak bisa bertahan jika dia sengaja menggoda begini. Aku membalas menciumnya akhirnya.


"Maaf, aku terlalu sibuk belakangan." Dia mengucapkan maaf lagi, sekarang aku tak bisa tak memaafkannya. "Kau mau kita tinggal bersama agar kita lebih mudah bertemu." Aku melihatnya, dia menginginkan aku tinggal bersamanya. Tapi kurasa aku belum bisa tinggal bersamanya.


"Tinggal bersama? Aku rasanya tak tega meninggalkan Ayah sendiri. Lagipula Ayah agak tak setuju dengan term tinggal bersama. Dia cukup konservatif soal ini."


"Hmm..." Dia berpikir. "Kau bisa datang sesukamu, kau tahu bukan. Semua orang mengenalmu dirumah, jika kau ingin memelukku."


"Kau marah aku tak meneleponmu. Apa itu bukan tanda kau merindukanku."


"Berbeda!" Langsung mengajukan protes.


"Kau seperti gadis tujuh belas tahun, apanya yang berbeda. Kita terus terang saja, ..." Dia meringis lebar. Dasar sugar daddy yang dia tahu hanya bermesraan saja.


"Itu berbeda! Aku hanya ingin perasaan kau memperhatikanku! Sedangkan kau hanya kesini jika kau sedang ingin merayuku!" Dia diam.


"Ohh, ... kau marasa aku begitu. Aku sungguh tak bermaksud begitu. Jika kau merasa begitu aku minta maaf. ." Dia meringis lebar, sekarang akan kubuat dia merasa bersalah.


"Iya kau memang begitu Oven."


"Baiklah, aku salah, kau yang menang. Tapi sudah ku bilang kau boleh ke tempatku. Kapanpun kekasihku mau datang. Malam ini kau tinggal bukan, aku merindukanmu."


"Aku juga merindukanmu." Kucium kecil dia. Membuatnya langsung tersenyum.


Seseorang meneleponku membuat aku mengambil ponselku. Javier, Bova melihat nama di ponselku. Dia beranjak, rupanya memberiku kesempatan.


"Aku ke depan bertemu Ayah saja." Aku mengangguk padanya.


"Halo, Javi, apa kabarmu?" sekali dia menelepon.


"Ahh tidak sudah lama tak meneleponmu, bagaimana sidangmu. Masih berjalan?"


"Ohh masih, tapi sebenarnya pengacaraku yang sekarang dan orang yang membantuku sebenarnya sudah mencapai kesepakatan di luar pengadilan..." Aku menceritakan bagaimana kesepakatan kami dibuat dan detaik-detail yang menguntungkanku, sampai bagaimana keadaan Gianni sekarang. Javier mendengarkan dengan antusias. "Uangmu aku kembalikan seluruhnya, hutangku malah lunas."


"Benarkah, sampai bisa begitu... Karena kau tertembak?"


"Iya, dan mereka coba sekali lagi membunuhku...jadi kami punya amunisi menekannya, jika tidak mungkin ayah dan anak akan dipenjara keduanya."


"Ternyata begitu, baguslah jika bisa kau atasi, soal uangku kembalikan nanti juga tak apa, jika kau ingin membuka restoran baru atau investasi baru kau bisa melakukannya."


"Tak apa, restoran yang sudah ada sudah berjalan dengan baik, ada dua investor yang masuk kurasa aku punya cukup untuk sekarang."


"Peganglah dulu, kembalikan dua tahun lagi, takut ada yang kau perlukan."


"Nanti aku lupa mengembalikanya." Aku tertawa.


"Aku yakin kau akan ingat. Simpanlah dulu selama du tahun ini, ...kita masih teman, tak ada yang perlu kau segani. Oke..."


"Baiklah, dua tahun oke."


"Iya. Tak perlu buru-buru. Nanti kalau aku ke Milan aku akan mengobrol denganmu lagi. Oke..."


"Baiklah, kau masih ingat jalan ke tempatku bukan."


"Tentu saja. Sampai ketemu jika begitu, nanti kita bicara lagi." Dia tertawa menanggapiku. Telepon itu berakhir kemudian.


Javier sekarang bersikap jauh lebih baik. Aku bertanya-tanya kapan dia mengirimiku undangan pernikahan. Aku akan datang jika dia ingin aku datang nanti.


Aneh, kami berpisah. Tapi sekarang kami bahkan bisa berteman lagi. Aku tersenyum dengan kenyataan baik ini.


"Ada yang tersenyum setelah ditelepon mantan suami." Bova yang masuk tiba-tiba melihatku.


"Sayang, kau cemburu?" Aku sekarang meringis lebar. Dia cuma melihatku.


"Ayo makan Papa sudah menunggu kita makan bersama didepan." Tampaknya dia gengsi mengakui kalau dia cemburu sekarang. Aku membiarkannya dan menuju meja makan.


Sedikit kecemburuan akan bagus untuknya.