The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
THE GEISHA AND MOMIJI DREAM Part 66. Yuki Wedding Ceremony



Aku memakai kimono Homongiku berwarna peach dengan bunga-bunga cerah. Aku merasa cantik hari ini. Dan semalam adalah malam tak terlupakan.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


6 Type kimono di Jepang.



Homoungi.


Secara harfiah ini berarti kimono berkunjung. Dan secara umum bisa diartikan sebagai gaun malam. Dipakai untuk mengunjungi acara resmi seperti pernikahan, acara minum teh, kabuki atau acara resmi lainnya di Jepang. Bisa dikenakan baik wanita yg sudah menikah ataupun belum menikah.



Furisode


Furisode adalah kimono lengan panjang dengan motif-motif cerah. Biasa dikenakan hanya oleh para gadis. Biasanya hanya dalam upacara pernikahan oleh brides maid dan dalam upacara pendewasaan gadis begitu mereka memasuki umur 20 tahun. Untuk melengkapi kimono extravaganza ini biasanya tatanan rambut dan makeup pun sangat ceria.


Biasanya keluarga menghadiahkan furisode untuk gadia-gadis yang berusia 20 tahun, yang melewati upacara pendewasaan Seijin Seiki, tanda mereka sudah memasuki usia dewasa.


Furisode ini cukup mahal karena kualitas bahan yang digunakan. Satu set bisa berkisar US 10.000 dan rental sekitar USD 1.500




Tomesode


Ini adalah ranking teratas dari kimono. Ciri khasnya adalah corak yang hanya ada dibawah pinggang, sedangkan atasnya polos tanpa corak.


Biasanya hanya dikenakan di acara penting oleh keluarga dekat pengantin. Dan untuk yang hitam khusus untuk Ibu ( untuk yang sudah menikah)


Sementara yang berwarna bisa dikenakan oleh keluarga dekat baik yang menikah atau belum.



Yukata


Yukata artinya secara harfiahnya pakaian untuk mandi. Bentuk paling casual dari kimono. Bisa dipakai untuk menghadiri festifal, acara musim panas diluar ruangan.



Hakama


Hakama adalah kimono yg aslinya dipakai oleh pria( biasanya berwarna hitam) tapi kemudiam dikembangkan untuk dipakai gadis muda.


Haķama ini biasanya dipakai untuk upacara kelulusan sekolah dan pakaian gadis muda untuk berkunjung.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Aku memakai kimono Homongiku berwarna peach dengan bunga-bunga cerah. Aku merasa cantik hari ini. Dan semalam adalah malam tak terlupakan.


Aku tak bisa tidur karena terlalu bahagia. Rasanya melayang diatas awan, tapi anehnya aku tak merasa lelah. Inikah rasanya jatuh cinta ini benar-benar gila, aku tak berpijak ke bumi lagi karena bahagia. Tapi aku tetap takut, aku akan menangis pada akhirnya.


Ini musim semi percintaanku, mungkinkah ada musim gugur dan dingin didepanku nanti.


Saat pelangi terlihat indah, akankah ada badai menanti didepan.


Entahlah, aku hanya ingin menikmatinya.


Que sera sera kata sebuah lagu yang mengalun di pikiranku. Apa yang akan terjadi nanti terjadilah, masa depan bukan milik kita untuk dilihat...


Aku sama sekali tak berani mendekati gym tadi pagi. Aku takut melihatnya dengan hanya singlet latihan itu, mukaku akan memerah. Aku mengobrol dengan Nanao didapur, membantunya membuat sarapan. Pergi keluar untuk berjalan-jalan, menghilang menjernihkan pikiranku.


Ketika aku pulang aku sudah meminta Nanao membantuku memakaikan kimonoku. Mungkin dia bertanya dimana aku, tapi aku hanya ingin menghilang sebentar, karena bersamanya terlalu memabukkan.


"Cantik, ..." Hisao memujiku ketika aku keluar dari kamarku." Dan aku tersenyum begitu saja dengan kata-kata manisnya.


"Terima kasih." Aku menatapnya sudah rapi dengan jasnya. Dia selalu terlihat punya kharismanya sendiri dengan jas itu.


"Ucapkan terima kasih dengan cara yang lain..." Dia melingkarkan tangannya di pinggangku dan menarikku mendekat. Sekarang aku telah terbiasa dengan wangi parfumnya, wangi cedar dan green apple itu selalu mengingatkan aku padanya.


"Apa yang kau inginkan?"


"Ciuman..." Aku meringis padanya. "Jangan terlalu pelit."


"Baiklah, tutup matamu."


"Kenapa aku harus menutup mataku?"


"Pokoknya tutup matamu." Aku malu melihatku menciumnya. Alasannya sederhana sebenarnya.


"Baiklah." Dia memejamkan matanya. Aku harus berjinjit menciumnya dan itu hanyalah ciuman yang singkat. Dan secepatnya itu pula dia membuka matanya mendapatkanku kembali dengan gemas.


"Kau sangat pelit..." Sekarang aku tertawa karena dia protes akan ciuman singkatku.


"Kita harus berangkat. Nanti kita terlambat." Aku menawarkan kami berangkat, tapi dia malah menarik napas. "Kenapa..."


"Tadi pagi aku tak melihatmu? Kau menghilang kemana?" Dia protes aku menghindarinya dari pagi.


"Aku hanya berjalan-jalan di lingkungan ini. Bukankah kau sedang serius latihan." Aku menyembunyikan senyumku.


"Hmm...bukankah kau sengaja menghindariku?"


"Tidak, itu hanya perasaanmu."


"Benarkah?" Alisnya naik tak percaya.


"Benar, ayo pergi." Aku menarik tangannya. Tapi kali ini nampaknya dia menyerah. Dia mengikuti langkahku menuju lantai pertama.


Melihat sebuah pernikahan, kami menyebutnya Shinzen Shiki. Membuatku memimpikannya. Saat aku berjalan di kuil yang sejuk bersama Hisao. Kusadari mungkin aku tak akan pernah mengalami ini. Aku bukan orang yang tepat untuknya. Aku menghela nafas, berkali-kali aku harus meyakinkan diri hidupku lebih mudah jika mengikuti arus.


Anggap saja musim yang berganti, kebahagian datang dan pergi. Tapi tetap saja rasanya sakit jika harus membayangkan melepas dan tak memilikinya.




Aku dan Hisao mengikuti dengan hikmat perjalanan mereka ke dalam kuil untuk upacara. Doa-doa Shinto dibacakan di awal upacara kemudian mereka akan saling bertukar minum sake pernikahan, yang disebut san-san kudo, lalu pembacaan komitmen pernikahan dan akhirnya bertukar cincin, ini diambil dari tradisi barat.



Dan setelah upacara selesai, veil putih itu dibuka dan kami melakukan foto bersama dengan keluarga. Ikut berbahagia bersama mereka.


"Sepertinya, ada yang berubah dari kalian berdua." Yuki melihat kami berpegangan tangan.


"Ahaaa, kita punya pasangan baru tampaknya." Aku tersenyum lebar.


"Urus saja istrimu, jangan mengurusi urusanku." Hisao dengan cepat menjawabnya sambil merangkul sahabatnya itu.


"Ternyata dia tidak bisa membiarkan gadis cantik sendiri lama-lama. " Yuki yang selalu bicara terang-terangan menertawakan Hisao.


"Semoga kalian juga mendapatkan kebahagiaan kalian nanti." Satomi mengucapkan harapan baiknya untukku.


"Terima kasih Satomi sayang, semoga kalian juga berbahagia selalu." Aku mengiyakan semua harapan baik. Semoga semesta mendengarnya entah bagaimana dan aliran takdir membawaku ke jalan yang terbaik.


Kami akan bertemu mereka lagi nanti malam untuk jamuan resepsi makan malam. Dan nanti malam aku akan melihat Satomi akan mengenakan uchikake yang cantik penuh warna.



"Mereka pasangan yang serasi, sudah berapa lama mereka sebagai kekasih." Aku bertanya di perjalanan pulang kami.


"Kurasa sekitar empat tahun jika aku tak salah mengingat."


"Cukup lama untuk mengenal." Akankah hubungan kami selama itu. Kapan dia akan dikenalkan seseorang oleh keluarganya, saat itu aku akan mulai harus bersiap melepaskan dan melupakannya.


"Mereka pasangan yang sudah mengenal cukup lama, mereka sebelumnya adalah teman di bangku kuliah. Akhirnya bertemu di tempat kerja."


"Kelihatannya romantis sekali, teman menjadi kekasih." Aku tersenyum membayangkannya.


"Apa kita tidak romantis?"


"Kita selalu bertengkar sebelumnya."


"Kalau begitu mulai sekarang kita akan membuat tipe bertengkar yang romantis." Aku meliriknya dengan sanksi.


"Mana ada tipe bertengkar tapi romantis."


"Aku romantis." Aku mencibir padanya. Dia tertawa melihatku tak mempercayainya.


"Baiklah, kau akan tahu nanti. Ayo kita cari makanan saja. Sore kita harus kembali bertemu mereka dan teman-temanku."


Kami bersiap ke perjamuan malam. Akan lebih banyak teman-teman yang Hisao kenal datang. Termasuk Hikaru, Sato dan Kenji. Kali ini aku memakai gaun hitam modern, tetap dengan model yang elegan dan sopan.


"Hmm...menurut observasiku dari jauh, menurut tanda-tanda yang kuamati. Kalian ini sudah menjadi kekasih." Kenji yang pertama menembak bahasa tubuh kami. Aku hanya tersenyum dan membungkuk kepada mereka untuk kesopanan dan dikenalkan dengan wanita mereka masing-masing yang menemani mereka.


"Akhirnya aku tak akan disalahkan lagi karena Aoki. Kau tahu aku takut Kakeknya datang dan membuat kekacauan di Roppongi dan terutama menyalahkan aku. Sekarang aku sudah tenang..." Hikaru yang sekarang bersyukur.


Hisao tertawa.


"Iya, Setsuko sekarang kekasihku."


"Setelah dua tahun akhirnya kau menemukan seorang lagi. Aku khawatir padamu. Ehhh sorry aku salah bicara, apa kau tahu ceritanya Setsuko."


"Hisao-san cerita sedikit..."


"Ahhh... berarti dia memang dekat denganmu."


Kami bicara dan bergabung dengan beberapa yang kami kenal kemudian di pesta itu. Sementara Hisao juga didaulat untuk memberikan sedikit pidato untuk ucapan selamat ke pengantin. Sang pengantin duduk ditengah meja dan mendapat ucapan selamat dari kami.


Acara pesta resepri di Jepang biasa tidak besar hanya keluarga dan teman dekat. Bedannya adalah yang duduk di dekat pengantin orang yang dihormati terutama boss dan teman. Sebaliknya keluarga malah duduk di meja terjauh. Ini adalah filosofi Jepang untuk menghormati tamu yang datang.



Dia akhir pesta seseorang tamu mendatangi kami, seorang wanita dan putrinya. Aku sedikit mundur dan tidak memegang tangan Hisao lagi. Aku menebak sesuatu.


"Hisao-san,..." Seorang wanita muda menyapa Hisao duluan.


"Bibi Mayuri, Nona Kimiko." Dia balas membungkuk dan aku mengikuti Hisao.


"Ahh ternyata kau salah satu teman pengantin juga. Tak disangka aku bertemu denganmu disini, kemarin baru bertemu dengan Ayah dan Ibumu."


"Iya aku teman pengantin pria."


"Kami masih termasuk Bibi pengantin wanita." Bibi itu tersenyum. "Dan ini adalah...kekasihmu kah."


"Iya ini Setsuko kekasih saya..."


"Ahh kupikir kemarin Ibumu menyebutkan kau belum punya kekasih tapi ternyata sayang sekali. Kupikir kau dan Kimiko bisa berteman.Sayang sekali." Hisao diam. Mungkin binggung menjawabnya. Akupun binggung karena dia terlanjur mengenalkanku sebagai kekasih.


"Ahh maafkan saya."


"Tidak, kenapa kau harus minta maaf. Tapi Kimiko adalah gadis yang baik. Mungkin kalian bisa berteman dengan baik juga nanti." Dia tidak menganggapku ada dan terus mendorong anaknya sendiri maju kedepan.


"Tentu. Teman selalu baik." Hisao menjawabnya dengan diplomatis.


"Kalau begitu kami juga akan kembali. Selamat malam Hisao-san."


"Selamat malam Bibi."


Mereka menjauh.


"Orang yang mau dijodohkan padamu?"


"Dia hanya mencoba keberuntungannya saja setelah aku menolaknya secara halus. Biarkan saja dia. Tak usah pikirkan..."


Aku jadi khawatir. Benarkah aku tak usah memikirkannya.