
"Pagi Hanii..." Aku membuka mata dan dia sudah terbangun menatapku. "Kau tidur lelap sekali,..."
"Pagi." Aku menyusup ke pelukannya.
"Kau lelah sekali nampaknya."
"Sampai musim dingin jadwalku akan berkurang, aku ingin melakukan setiap pekerjaan yang diberikan padaku sebaik-baiknya. Tak apa sedikit lelah."
"Aku tahu kau memang pekerja keras. Tapi minggu depan 4 hari kau harus ingat kau sudah mengosongkan jadwalmu."
"Aku tahu."
"Tidurlah lagi oke."
"Sudah saatntmya bangun, jam delapan aku tak bisa tidur lagi..."
Hisao membiarkan mataku terpejam tak mengajakku bicara.
"Teddy bear, tiga minggu ini apa kekasihmu itu berkunjung."
"Kurasa ada, minggu lalu dia mampir akhir pekan dan membawa sushi dan salad. Yang dapat makanan tentu saja Nanao, pengawal dan pengurus rumah."
"Ohhh dia tidak bertemu denganmu?"
"Aku sudah bilang pada pengurus rumah cari alasan supaya aku tak bertemu dengannya."
"Hmm... dua minggu dari bertemu ayahnya sudah berlalu, aku penasaran apa yang dia pikirkan."
"Benarkah..."
"Hmm... jaman sekarang, pacar bayaran banyak, jika dia tidak benar-benar menyukaimu, mungkin dia punya pacar bayaran untuk menyayanginya. Kau tahu aku entah kenapa berpikir begitu, dia begitu tenang, seakan entah kau menyukainya atau tidak dia tidak perduli, yang penting kau menikah dengannya, mungkin dia juga tak perduli jika kau masih menemuiku. Aku berkata begini karena aku telah bertemu beberapa gi*go*lo dan host pria yang sangat tampan... Dan mereka sangat kaya bahkan dibelikan mobil sports mewah oleh pasangannya. Kurasa gig*olo itu sangat pintar membuat wanitanya nyaman."
"Hmm... mungkin saja. Aku sebenarnya juga heran, dia bisa berganti dari mengejar adikku ke mengejar aku dengan tak ada masalah. Mungkin di pikirannya dia hanya ingin menggolkan tujuan keluarganya, tapi aku juga heran, biasanya wanita melibatkan perasaannya apalagi pasangan hidup. Sepertinya yang kau katakan masuk akal juga..."
"Kalau dia datang lagi kenapa kau tak tanyakan..." Aku ingin mencari motovasinya.
"Maksudnya bicara terang-terangan?" Hisao langsung heran dengan usulku.
"Hmm bagaimanapun dia meremehkanku. Dia tak menganggap aku gangguan pas dia bertemu denganku. Coba kau tanya apa dia keberatan kau masih menjadi kekasihku."
Tak disangka kesempatan menanyakan itu langsung datang. Gadis itu berkunjung akhir pekan ini. Ternyata perkataanku langsung bisa dibuktikan.
Aku langsung memasang posisi mengintip di belakang sementara Hisao berhadapan dengan gadis itu muka lawan muka. Kali ini dia seperti tak punya masalah datang ke depan Hisao.
"Kimiko-san, kau sangat rajin datang ke sini." Sindiran Hisao hanya membuahkan senyum manis di bibirnya.
"Saya hanya teringat Hisao-san saat saya membuat kue ini." Hisao terpaksa tersenyum pada gadis itu.
"Kalau begitu terima kasih kau sudah bersusah payah." Sekarang dia tersenyum lagi untuk membalas terima kasih Hisao-san.
"Kau membuatku penasaran Kimiko-san, kau tidak masalah dijodohkan dengan adikku, dan kau juga tidak masalah kembali disuruh mendekatiku. Apa kau tak punya kekasih."
"Saya hanya menuruti nasihat keluarga Hisao-san, kurasa cinta, tanggung jawab dan kekasih bisa ada dalam hubungan jika mereka sudah punya keluarga." Dia masih belum mau terbuka. Hisao perlu menekannya untuk bicara lebih terbuka.