
Orang tua kami terkejut sekaligus senang dengan keputusan kami. Ketika minggu depannya kami memberitahu mereka bersama dalam sebuah makan malam kecil.
"Benarkah, akhirnya Guilio kita akan menikah Pappa, ..." Zia memeluk Zio dengan senang.
"Kali ini kau bertindak benar, aku tak akan melemparmu ke paus lagi." Perkataan Zio membuat semua orang tertawa.
"Paman jangan terlalu kejam dia anakmu."
"Kau tahu kalian jalan-jalan di pantai tiga jam dna dia tidak bisa mengatakan satu katapun padamu. Apa yang harus kulakukan selain melemparnya ke paus, dia tidak berguna!" Garpu sekarang menunjuk lagi ke Guilio, Zio memang terlalu ekspresif jika sedang bicara.
"Benar, aku setuju. Makanya kami tinggalkan saja kalian disana, aku juga tak tahan melihat kebodohan anakku sendiri." Zia muncul dengan spatula spagettinya dan menunjuk Guilio dengan spatulanya, kurasa di masa lalu dia pernah dipukul dengan spatula itu karena dia nakal.
"Mamaaa, siapa suruh kalian mengurus urusanku."
"Kau lupa yang menyandera kami di liburan itu kau, mungkin aku harus ingatkan kau yang memohon-mohon padaku untuk mengikuti rencanamu. Dasar paus, ubur-ubur penyengat cepat kau tangkap, tapi gadis baik-baik kau harus mengeret orang tuamu!"
Guilio kehabisan kata sekarang, sementara aku dan Mamma hanya bisa tertawa.
"Zia, bisakah kami meminta pernikahan sederhana." Guilio anak pertamanya, mungkin dia ingin pernikahan yang mewah.
"Sayang apapun yang kau inginkan asal kalian menikah dengan bahagia. Kau mau apa bilang saja, kami akan membantumu mengurusnya. Musim semi sebentar lagi. Astaga kita harus mengurus ini secepatnya." Zia langsung berdiskusi dengan Ibuku.
Aku dan Guilio hanya tersenyum melihat kebahagiaan mereka. Rasanya ini lancar sekali, hanya perlu sedikit usaha untuk membawa ini ke pembicaraaan dan semuanya akan diurus.
"Orang tua kita bahagia sekali nampaknya." Aku berdua dengan Guilio sesudah makan malam itu, mencari waktu untuk diri kami sendiri.
"Aku ingat Ibu pernah berkata padaku mungkin aku mencari terlalu jauh gadis yang kusukai, tapi aku tak tahu maksudnya, sekarang aku baru tahu yang dia katakan itu kau..."
"Dan Ibuku juga pernah bertanya kenapa kita tak pernah pacaran. Mungkin mereka selama ini bertanya kenapa kita senang sekali berteman satu sama lain."
"Karena belum saatnya... Sederhana. Jika sudah saatnya kita akan menemukan satu sama lain..."
"Benarkah?" Aku meringis mendengarnya.
"Hmm benar, karena belum saatnya aku mendapatkan pencerahan. Belum saatnya aku bertemu Setsuko-san."
"Hmm baiklah." Aku juga ingin mengucapkan terimakasih padanya. Jika tidak ada kata-kata darinya mungkim Guilio akan terus mencari dan aku jatuh ke orang lain. "Tanggal 16, aku harus mencari sewa kimono disana." Aku menandai tanggal itu dalam kalenderku.
Aku teringat ke Bova yang tampan itu yang langsung dijegal Guilio.
Bagaimana kabarnya sekarang. Sebenarnya aku merasa Bova orang yang baik, tapi entahlah Guilio membuatku merasa nyaman sekarang. Mungkin karena kami memang terlalu lama tahu satu sama lain.
"Sayang aku sudah lama tak menelepon Bova, apa nanti aku akan sedikit melapor padanya tentang perkembangan pertanian."
"Tak usah kau yang melapor aku sudah melakukannya. Kau ingin laporan berikan padaku." Sekarang dia langsung memotongku. Aku meringis lebar.
"Sayang kau cemburu?"
"Iya aku cemburu. Tak usah sebut Bova didepanku..."
"Hmm..." Aku tak menanggapinya
"Cara,..."
"Apa?!"
"Kau belum menjawabku."
"Menjawab apa?"
"Tak usah kau yang menelepon Bova."
"Dia hanya pemegang saham, kau tak usah terlalu cemburu buta."
"Kalau begitu akan kubuat dia menjual sahamnya lagi padaku." Aku tertawa, dia sangat merasa tersaingi oleh Bova ini.
Bukankah dia manis sekali kadang. Aku suka melihatnya cemburu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\= ngabzen 1 paŕt, di alena 10 part soalnya 😅😅😅😅