
POV Bova
Aku ingat saat aku kecil bertahun-tahun lalu saat kami masih tinggal di Marseilles. Aku selalu membantu ibu membulatkan cookies ini.
Ibuku yang tidak mendapatkan persetujuan keluarganya dengan Ayahku, akhirnya pergi bersama Ayah dan tinggal bersamanya di Marseilles. Itu masa-masa yang bahagia kurasa, sampai akhirnya suatu hari di Ayah meninggalkan Ibu dan pergi dengan wanita lain. Umurku 15 tahun saat itu dan adikku baru 12 tahun.
Ibu hancur, keluarganya membuangnya. Kami terlantar di Marseilles, hanya satu orang dari keluarga yang masih menghubunginya saat itu. Kakak tertuanya, Pamanku Vittorio Bova, pemimpin keluarga yang sekarang.
Dia meminta Ibu kembali ke Milan daripada tinggal sendiri di Paris. Menerimaku keberadaanku sebagai keponakannya walaupun keluarga besar yang lainnya menceomoh kami. Dan disinilah aku membalas kebaikan Pamanku sekarang, bekerja di belakang layar untuk mendukungnya, seperti dia mendukung Ibuku dan bisa membuatnya tersenyum lagi. Dan tambahannya karena dengan mendukung Pamanku dan mendapat posisi penting di samping Paman akhirnya keluarga yang dulu mencemoohnya sekarang menerimanya lagi.
Tapi cookies ini, mengingatkanku dengan masa-masa bahagia kami di Marseilles.
"Hei, bulatkan yang benar. Itu sudah selesai." Wanita cantik berambut gelap itu menegurku karena melamun. Kepala Chef ini galak jika berada didapur Ibuku juga sering menegurku karena memainkan adonan cookiesnya.
"Ohhh maafkan aku." Aku tertawa. "Aku akan bekerja dengan benar, maaf..." Dia melirikku dengan kejam. Untungnya dia tidak memutuskan mengetuk kepalaku dengan sendok takaran kuenya seperti yang sering Ibuku lakukan .
"Lihat tray-mu itu baru setengahnya, lama sekali. Setelah satu tray selesai pulanglah...." Kurasa dia ingin mengusirku. Kenapa dia kadang aku merasa dia suka mendorongku begitu jauh. Baru dia yang bersikap begitu, atau dia menganggapku buruk karena terlibat sites itu. Dia tahu rahasia itu.
"Aku akan membantu sampai selesai. Adonannya masih banyak." Dia dan satu karyawannya yang belum pulang bekerja dengan cepat. Sementara aku yang masih memakai baju kerjaku tidak punya harapan untuk mengejar kecepatan tangan mereka.
"Kau mau celemek?"
"Ohh boleh?" Dia mencuci tangannya, mengambil celemek bersih dan mengikatnya dari belakang padaku. Wangi parfumnya yang masih tertinggal menyentuh penciumanku, ada aroma vanilla hangat bercampur dengan wangi vanilla cookies yang kami buat entah kenapa membuatku membayangkan ingin memeluknya lagi. Aku ingat memeluknya tadi siang. Parfum yang sama vanilla ...
Sial! Kenapa di saat seperti ini. Aku menghela napas dengan pelan saat dia kembali ke depanku. Mungkin karena sudah terlalu lama aku tak menjumpai Sophia.
"Mau minum.." Suaranya mengalihkan perhatianku lagi. Mata indahnya sekarang memandangku.
"Tidak, aku selesaikan ini dulu." Tangannya kembali lagi ke kecepatan awalnya dan tidak memperhatikanku. Kenapa suaminya bisa melepas wanita begini cantik, apalagi dia adalah entrepreneur yang handal. Aku penasaran tapi sekarang tak berani bertanya soal itu. Mungkin nanti jika kami sudah lebih dekat.
Aku penasaran soal sugar baby yang harganya mahal ini. Bagaimana jika kemarin dia menyetujui menjadi sugar babyku. Pikiranku melenceng kemama-mana lagi. Aku perlu menelepon Sophia, kurasa aku terlalu sibuk belakangan sampai melupakan kebutuhanku yang lain.
Sebuah pesan muncul di ponselku. Dari sekertarisku.
'Sir, saya lupa tadi saat Anda meeting Ibu Anda meninggalkan pesan untuk tak lupa acara tanggal 28. Itu saja Sir.'
Tanggal 28, ohh aku harus ke rumah Paman untuk pesta natal. Masalah Mama akan merepet lagi, karena aku datang sendiri. Aku tak mungkin membawa Sophia, gadis itu cantik tapi terlalu muda terlalu manja, terlalu se*xy. Benar-benar sexy... Aku menghela napas lagi. Besok aku akan meneleponnya, malam ini akan jadi penderitaaan...
"Kenapa kau menghela napas dari tadi?! Kuemu sudah bulat sempurna dari tadi! Berapa lama kau akan menyempurnakannya, kau berniat membuat sebuah kelereng licin?!..." Sebuah pertanyaan tegas membuatku terperanjat.
"Ohh..." Aku langsung menaruhnya dalam tray, takut dia akan benar-benar mengambil sendok takar dan menaruh tepung terigu dikepalaku.
"Maaf...maaf." Tampaknya aku membuat kepala chef ini meradang, karena membulatkan kue saja tak becus.
"Kau boleh kembali kalau kau pulang... aku sudah menyelesaikan tiga tray, kau satupun belum." Aku sekarang meringis lebar.
"Aku akan lebih cepat,...." Kali ini aku benar-benar bekerja secepatnya. Ohh ya bagaimana jika aku mengajaknya. Dia bisa diajak... bisa kuperkenalkan juga pada Paman. Dia harusnya tak keberatan karena aku sudah menolongnya.
Akhirnya adonan itu berhasil dibereskan dalam setengah jam saja. Dan sebagian sudah masuk oven, wangi vanilla dan coklat bercampur di udara sekarang. Adonan cookies vanila yang tadinya berbentuk bulat itu, melebar ke samping membentuk lingkaran cookies. Ibuku bilang ini namanya tear drop cookies. Melihatnya melebar di oven menjadi ingatan masa kecil lainnya. Bedanya adalah di oven besar profesional kitchen ini bisa memasukkan ratusan cookies dalam satu waktu.
"Wanginya enak." Cookies Natal, sudah bertahun-tahun aku tak pernah mencium bau kue baru dipanggang. Natal ini entah kenapa itu bisa kembali. "Apa sudah matang?" Aku tak sabar mencicipinya.
"Sebentar lagi." Dia melihat timer di mejanya yang di set ke angka 10 menit. Dan mengecek di kaca pengamat.
"Apa aku boleh minta yang sedikit hangus, wanginya lebih enak." Aku melihat Eliza tersenyum, hari ini dia sedikit tersenyum karena memikirkan adiknya, dan merasa bersalah sampai sekarang, sampai tak bisa membiarkan dirinya beristirahat. Hanya dengan kepulangan adik dan Ayahnya dia baru bisa menghadapi ini lebih baik.
"Aku juga suka yang agak sedikit hangus... aku menyisakan satu tray untukmu." Dia menunggu sedikit lebih lama tray terakhir sementara mendinginkan tray yang baru keluar dari oven di rak penyimpanan.
"Kau seperti anak kecil, itu panas!" Sekarang dia kembali marah-marah melihatku mencoba mencungkil cookies panas itu. Aku tertawa, kurasa hanya sekali ini dia mau membawaku ke dapurnya. Aku hanya dimarahi bolak balik disini.
"Ini sangat wangi." Dia melihatku sambil berkacak pinggang yang masih berusaha mencungkil kue panas itu dari kertasnya.
"Kau membuatku kesal, ..." Dia membawa scrapper dan sebuah piring kecil ke sampingku. Tiba-tiba dia terpeleset didekatku karena entah bagaimana ada air di lantai dan untungnya kutangkap. Wangi vanilaa itu datang lagi dan ini seperti adegan penyelamatan di film dalam pikiranku.
"Kau baik-baik saja Signora..." Aku sengaja tersenyum menggodanya karena dia terpaku padaku. Bukan sekali aku melihat gadis terpaku padaku. Dia kali ini menguasai dirinya dengan cepat.
"Air dari mana ini." Sedikit semburat merah di pipinya, ternyata wanita seperti dia bisa tersipu juga.
"Aku tak tahu, aku tak minum." Aku meringis lebar.
"Anak kecil makan cookiesmu, jangan mencungkil lagi." Aku tertawa ketika dia mengambil dua cookies dengan scrapper di tangannya dan menaruhnya dipiring. Disisi lain dia menjauhkan tray panas itu dari jangkauanku.
Dia mengambilkan air mineral dingin untuk kami, tapi kemudian tertarik mencungkil satu cookiesnya sendiri dan meniup-niupnya sebelum memakannya.
"Hmm...pas." Dia terlihat puas hasil kerjanya sendiri. Aku memakan punyaku. Ini memang enak... "Enak?" Sekarang meminta validasiku.
"Enak." Dan senyumnya selalu mengembang ketika masakannya dipuji.
"Eliza boleh aku minta tolong..." Mungkin aku harus minta tolong padanya sekaligus mengalihkan pikirannya dari adiknya.
"Minta tolong apa?"
"Aku ada pesta natal tanggal 28, jam 8, mau pergi bersamaku. Aku tak punya teman..."
"Kau tak punya teman? Kau tinggal mengedip di depan sana kau dapat teman." Dia tertawa, kemudian sadar aku serius.
"Hmm...kau serius?" Dia masih meringis lebar menertawakanku.
"Kau bertemu denganku di site itu kau pikir aku bercanda." Aku tersenyum kembali padanya. Sekarang dia memandangku.
"Cuma menemanimu bukan?" Tampaknya dia sebisa mungkin ingin menghindari hubungan pribadi denganku.
"Iya... cuma menemani."
"Baiklah." Dia setuju. "Pesta dengan siapa?"
"Keluargaku."
"Keluargamu?!"
"Kita pergi sebagai teman."
"Ohh. Baiklah." Dia menyibukkan diri kemudian. Memanggang row berikutnya. Memindahkan kue yang sudah dingin ke wadah besar. Mungkin bertanya-tanya kenapa aku mengajaknya. Seperti aku bertanya banyak hal tentangnya.
Dia memasukkan cookiesku ke plastik cantik dan mengikatnya.
"Untukmu, Selamat Natal, terima kasih sudah membantuku banyak sekali." Dia memberikan jatah cookiesku. Pulanglah."
"Kau juga harus pulang."
"Aku akan pulang sekarang."
"Ayo..." Kami berjalan bersama keluar, dia masuk mobilnya dan aku ke mobilku. Aku menunggunya berjalan dulu. Dia memberiku klakson kecil saat dia berjalan dulu mendahuluiku.
Sesuatu yang aneh terjadi hari ini. Aku menghabiskan waktuku memanggang kue. Sesuatu yang tak pernah kulakukan mungkin sudah puluhan tahun. Natal kali ini memang agak aneh.