The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
LOVE ME OR KILLME Part 51. Who Are You?! 2



"Lepas... Ini sakit." Sekarang aku menangis. Setelah tak berhasil melepaskan diri aku membiarkan diriku menggunakan senjata wanita air mata. Aku menyandarkan diriku dipundaknya, menempelkan keningku padanya, menyerah untuk melawan.


"Jangan menangis Natalie, sudah kubilang aku tak akan akan menyakitimu, kau memang melakukan beberapa hal...Mengakulah, kau bisa pergi. Aku berjanji tak akan ada apapun yang terjadi padamu..." Aku tak bisa pergi dan membongkar operasi ini. "Nathalie... Apa benar itu namamu?"


"Kenapa kau langsung mencurigaiku begitu. Hanya karena aku mengatakan kau keluarga gangster... Bukankah semua orang bisa menebak itu. Kau sendiri yang mengatakan bahwa latar belakang keluargamu begitu..."


"Jika kau tahu aku gangster kenapa kau malah mendekatiku... Kau ingin tahu apa? Jangan menangis, mengakulah saja, aku sudah berjanji akan melepaskanmu, air matamu tak berpengaruh buatku."


Dia berkeras! Aku tak punya pilihan lain...


"Lepaskan aku Nathan, aku hanya gadis bodoh yang mengikuti dorongan hatiku, aku hanya merasa kehilangan arah dan mengikutimu, hidupku kacau belakangan, tak ada yang mengirimku."


"Benarkah... Coba ceritakan padaku apa yang membuatmu begitu bodoh. Aku akan mendengarkan." Dia menatap lurus ke mataku dan aku memberanikan diri menatap matanya.


"Kemarin saat aku memutuskan ikut denganmu, itu hanya aku sedang ingin pergi dari LA karena aku sedang patah hati, teman dekatku punya kekasih, aku baru sadar aku kecewa kehilangan, kupikir kami bisa menghabiskan waktu bersama lagi malam itu seperti biasa, aku hanya merasa aku menyedihkan, ditinggalkan sendirian dan marah melihat orang lain bahagia. Bukan karena aku ingin mematai-mataimu."


"Lepaskan aku Nathan... " Aku sekarang menyender padanya, merasa sia-sia mencoba melepaskan diri sekarang. Aku benar-benar menangis, sebenarnya menangis ketakutan karena takut misiku akan terbongkar.


"Natalie, jika kau mengatakan sebenarnya kau bisa pergi menghilang kemanapun kau mau, katakan satu nama saja siapa dibelakangmu, aku akan melepaskanmu..." Dia masih belum percaya. Masih mengunciku dan tak membiarkanku lepas.


"Namanya Tyson Beckford, karena aku putus cinta padanya aku berani mengikuti kesini, hanya gadis bodoh yang merasa pengejaran demi pengejaran itu keren dan merasa hidupnya menyedihkan. Memilih mengambil resiko berada disampingmu dengan pengawal itu keren, boss yang nampaknya terlalu berbahaya, aku bukan tak sadar kau punya latar belakang yang rumit, aku menduga, aku tak tahu siapa kau, jika kau tak mau aku tahu juga terserah, pecat aku, aku bisa mencari pekerjaan lagi..." Aku berani menyebut namanya karena jika di cek latar belakangnyan, hanya akan menemukan kami bekerja di firma auditor yang sama beberapa tahun sebelumnya. Itu data palsu, sama seperti nama Natalie Davis juga nama palsu.


"Dulu aku hanya terlalu pengecut dan menyesalinya sekarang, aku menyesal tak berani punya hubungan serius, takut terlibat terlalu dalam ke seseorang, aku hanya punya dia bertahun-tahun ini, tapi saat orang itu pergi aku hanya bisa menangisinya ... Kurang bodoh apa aku. Sekarang kau menyangkaku semacam dikirim seseorang... Aku cuma bertindak tidak logis karena sedang putus cinta."


Apakah ini berhasil. Alasan yang nampaknya hanya didasarkan dorongan emosi tak berarti ini, aku memikirkan alasan ini sebagai dasar tindakanku. Tapi ini satu-satunya penjelasan yang kupunya untuk menyelamatkan diri, ketidaklogisan pikiran.


"Kau yakin itu yang ingin kau katakan padaku Natalie, kesempatan mengakui dan pergi ini hanya berlaku satu kali. Kali lainnya aku tak akan bermurah hati padamu...."


"Terserah padamu, jika kau mau menyiksaku seperti agen KGB kemarin juga aku tak punya tenaga untuk melawanmu. Kau ingin aku mengakui apa? " Dia diam menilaiku. Aku tertawa sekarang, menertawakan ketidaklogisan alasanku sendiri. Karena itu satu-satunya yang kupunya.


"Aku membawa diriku sendiri dalam bahaya karena alasan hidupku terlalu berada dalam jalur aman. Bukankah itu lucu... Ini sangat lucu. Jika kau tak mempercayaiku keberanianku adalah caraku mengobati patah hati... terserah padamu, kau mau apa? Menghabisiku sekarang juga...Apa kau sekejam itu."


"Kurasa kau tak sebodoh itu..." Aku tambah tertawa mendengar perkataannya.


"Iya, aku berharap aku tak sebodoh itu Nathan. Berusaha memahami kehidupan gangster sepertimu, apa tunanganmu Amanda yang cantik itu tahu kau semacam penjahat ..." Aku menatap matanya dengan berani sekarang. Sementara dia masih mengunciku tanpa ampun.


"Itu bukan urusanmu. Gadis cantik sepertimu seharusnya tak melibatkan diri pada scene tembak menembak, apa kau menyesal sekarang?" Dia mengatakan aku gadis cantik, dia mungkin melihatku sebagai wanita. Tapi sekali lagi dia tidak mempercayaiku sama sekali. Ini perlu dimanfaatkan. Asal aku tak melawannya lagi dia tidak akan terpancing.


"Tidak, itu seru untuk diceritakan. Tapi jika dipikir lagi bukan kali pertama aku merasakan ketakutan saat nyawaku diujung tanduk " Aku tertawa kecil dan mendapatkan keberanianku lagi, tampaknya kali ini dia tak akan membunuhku, walaupun dia masih belum mempercayaiku.


"Seru untuk diceritakan? Kau bisa terbunuh, sekarang kau memang gadis bodoh? Apa sebenarnya kau terlalu pintar berakting?"


"Aku bukan siapa-siapa untukmu jika aku terbunuhpun, kau tak perlu perduli. Tapi terima kasih sudah mengatakannya padaku."


"Apa lagi yang kau mainkan sekarang?"


"Jika kau tidak mempercayaiku keluarkan saja aku sejauh-jauhnya, pecat aku. Kau tak perlu pusing bukan. Mungkin kau bisa mengurungku di LA dan jika ada resiko seseorang membunuhku biarkan. Lagipula aku tak pernah mengodamu dengan sengaja. Kau pikir aku dikirim untuk mendekatimu? Kau membuatku merasa kalian bisa menjadi keluarga dan temanku. Kenapa kau mengizinkan aku didekatmu, bahkan bertemu Ibumu? Aku dari kemarin mau pulang tapi kau menahanku, jadi apa yang harus kulakukan, hanya bertanya latar belakangmu membuatmu langsung mencurigaiku..." Untungnya aku menahan diri tidak terlalu agresif, itu ternyata menjadi keuntungan bagiku sekarang. Instingku ternyata benar.


"Kau pintar bicara..." Aku tertawa atas perkataannya.


"Kau yang lucu."


"Lucu tidak termasuk dalam kamusku kurasa."


"Benar juga."


"Aku mengakui kau tampan Nathan dan kelihatannya kau bukan orang brengsek jika menyangkut wanita. Jika kau menyangka aku mata-mata kau boleh memecatku sekarang. Tenang saja aku tak akan melibatkan diriku dalam hidupmu lagi selamanya. Apa itu cukup,..."


"Tidak."


"Lalu apa maumu?"


"Kalau begitu ceritamu jadikan aku penganti Tyson Beckford. " Aku meringis.


"Aku tak tertarik jadi sugar babymu!" Dia langsung tersenyum kecil padaku, emosiku langsung meninggi. "Cari gadis lain, dengan uangmh kau bisa membeli siapapun! Aku tak perlu dibayar untuk cinta. Kau menganggapku serendah itu. Aku tak keberatan menghajarmu sekarang. Pecat aku! Sialan kau Nathan! Lepas!" Aku memberontak sekarang, merasa terhina dia menganggapku bisa dibayar.


"Pemarah sekali, aku juga tidak menyukai sugar baby Natalie. Kau bilang padaku kau hanya sedang patah hati dan mengikuti dorongan hatimu bukan. Jadi, jadilah temanku, bukankah kau bilang aku tampan. Ini pembuktian kata-katamu sendiri, bahwa kau sebersih yang kau katakan..." Dia benar-benar licik. Dia bisa membalikkan perkataanku padaku sendiri.


"Sejak kapan itu berarti kau bisa langsung mengantikannya? Kau tadi menuduhku sebagai mata-mata, sekarang kau memintaku tidur denganmu?!"


"Bukannya kau ingin sebuah petualangan, Tysonmu temanmu itu sudah punya pacar, mengapa kau tidak bersedia menjadikanku teman? Apa aku kurang dibandingkan Tysonmu itu. Aku lebih baik dari dia Natalie, aku teman yang sangat perhatian."


"Kau menjebakku."


"Kau yang menjebak dirimu sendiri sebenarnya. Aku hanya berusaha membuktikan kata-katamu sendiri. Jadilah temanku. Buktikan ucapanmu..."


"Aku kemari meminta bantuanku, lalu tiba-tiba menuduhku, sekarang kau memintaku terlibat denganmu,..."


"Kau sendiri yang berani mengambil resiko mendekatiku. Apa aku kurang baik padamu? Kau satu-satunya wanita yang bisa mengikutiku, Ibuku bahkan heran kau bisa mengikutiku kesini." Dia melepaskan tanganku sekarang, dan beralih mengunci pinggangku. "Maaf jika itu sakit, ..." Kami terlalu dekat dari tadi, dia tidak akan melepaskanku sekarang. Aku bisa merasakan dirinya yang lain nyata dibawah sana.


"Kau apa yang ... Nathan." Dia menekankan dirinya padaku dan entah bagaimana itu tepat membuatku terkena bagian yang tepat. Aku memberontak mendorong dadanya, tapi itu membuatnya tambah penasaran. "Ehmm....Nat." Bahan tipis ini membuat semuanya sangat terasa. Aku meremas lengannya dan mendorongnya sekaligus. Tubuhku menginginkannya, tapi pikiranku bilang tidak.


"Apa aku kurang baik di banding Tysonmu itu cantik?" Dia tak memperdulikan aku yang memberontak. Memegang pinggulku menekankan dirinya begitu tepat. Aku melenguh sekarang...Tak bisa menyembunyikan reaksi tubuhku yang ketagihan."Kau menyukainya? Bagaimana jika menjadikan aku temanmu? Aku selalu baik pada temanku."


"Aku tak suka dipanggil cantik..." Sementara godaan itu terus berlangsung.


"Kenapa? Kau memang cantik..." Pria ini merayuku karena dia ingin mendapatkanku. Itu yang kupikirkan sekarang, tapi sekarang akupun ingin mendapatkannya.


"Blonde dan cantik, seperti definisi sugar baby. Dan kau ..." Aku merasakan tekanan tubuhnya padaku. Napasku tercekat, napasku tertahan merasakannya. Sesaat tubuhku meremang, dengan kulit menempel begini dia adalah godaan sepenuhnya. Pria latin dengan kulit kecoklatan ini begitu sexy dan dibawah sana... adalah sebuah siksaan. Aku butuh ini. "Nathan..."


"Aku memang butuh pelepasan sekarang, aku jujur padamu dan kau ... sangat se*xy saat ini, . Tapi aku tidak serendah itu, aku jika kau tak mau aku akan melepaskanmu. Pilihanmu, karena kau sendiri yang mengatakan kita teman, jangan berbohong kau tidak menginginkannya..." Kenapa interogasi ini bisa berakhir begini. Kenapa aku begitu menginginkannya sekarang. Dan mungkin ini membuat posisiku aman beberapa saat.


"Jangan menciumku..."


"Jangan menciummu?"


"Kita hanya teman." Aku menatap matanya.


"Maksudmu kau mau melakukannyan, tapi aku tak boleh menciummu?" Sebagai gantinya dia menciumi leherku. Membuatku memeluknya. Dan dengan cepat tangan dan bibirnya bekerja membuatku tak bisa tak mele*ngguh. Bahan baju rumah yang tipis ini membuat segalanya lebih mudah terasa.


"Nathan..." Kakiku lemas memerima cumbuannya, aku menyerah, sekarang dia mengerti dan mendorongku perlahan ke bedku. Berat tubuhnya menimpaku sekarang, membuatku melenguh saat dia menekankan dirinya padaku.


"Apa kau merasa terpaksa? Aku masih bisa berhenti sekarang?" Dia mengatakan itu tapi tetap berkerja menggodaku.


"Kau terlalu banyak bicara."


"Benarkah." Tangannya bekerja membuka kamisol hitam atasanku dan menyisakan tank top cropku.