
Kami tiba terakhir sehingga aku tak perlu terlalu lama mendengar para laki-laki saling bicara satu sama lain. Untuk acara ini aku hanya mengikuti, tidak diperkenalkan. Karena Hisao termasuk rank tinggi.
Akhirnya Pamannya yang datang dan semua laki-laki masuk ke ruangan VIP khusus. Dan aku duduk menunggu disana.
"Kutinggal dulu, kau bergabung dengan mereka disini." Aku hanya mengangguk.
Wanita-wanita itu langsung melihatku saat laki-laki meninggalkan kami.
"Siapa kau? Dari klub mana? Dimana Aoki?" Aku langsung diinterogasi dan ternyata Hisao sering membawa Aoki kesini.
"Aku hanya assisten pribadi. Aku tidak bekerja di club manapun. Namaku Setsuko."
"Ohh benarkah. Aneh sekali malah kau yang dibawa. Aoki itu favorit Tuan Hisao dari Lalah. Kami tak bisa menandinginya merayu. Sekarang malah berganti ke assisten pribadi?"
"Tuan Hisao sudah bosan dengannya, kita punya kesempatan jika dia sudah bosan. Ternyata benar gosip yang beredar itu."
"Tapi kudengar dia tak pernah lagi muncul di Lalah setelah membeli champagne tower itu. Tampaknya mereka merayunya keterlaluan... Itu kudengar 10 juta yen." Astaga mereka juga sampai tahu semuanya soal itu.
"Hmm...lupakan, akan kuberitahu temanku di Lalah Club dia punya kesempatan sekarang." Mereka ribut bergosip dan mengabaikanku.
Seorang wanita masuk ke ruangan kami, wanita cantik yang lain. Kali ini gayanya elegan, dia memakai baju setelan resmi sepertiku. Wanita-wanita itu serentak berdiri dan membungkuk padanya. Aku juga ikut berdiri dan membungkuk. Entah siapa dia yang penting aku berlaku sopan.
"Onee-san..." Semua gadis memanggilnya, aku tak tahu siapa dia (kakak perempuan) ini pasti semacam senior koordinator disini jika dia mempunyai panggilan itu.
"Ohh boss sudah masuk?"
"Sudah Kak."
"Dia datang bersama assisten pribadinya." Yang lain memberitahuku yang duduk di kursi agak ujung ruangan itu.
"Ohh, ...tadi kupikir siapa. Ternyata assisten pribadi Tuan Hisao. Rupanya dia memang sudah bosan dengan Aoki yang pura-pura innocent itu."
"Kakak, giliranmu kakak. Sekarang kakak bisa mempermalukan Aoki itu." Yang ini mukanya juga innocent sebenarnya, tapi sudah dipanggil Kakak, kelihatannya gadis ini tak sederhana."
"Benar Kak, kau harus menunggu Tuan Hisao."
"Tentu saja aku akan menunggunya. Jika tidak mana mau aku masuk kerja siang hari seperti ini. Aku tak percaya aku kalah dengan Aoki itu." Dan aku menonton drama perebutan Hisao sambil menghabiskan calamari di mejaku.
"Nona asssisten, aku Mari-chan..." Dia menyebut dirinya sendiri dengan chan, aku ingat komik balet jalan anak-anak. "Apa Hisao-san punya acara sehabis ini." Dia langsung memepetku.
"Ahhh saya benar-benar tidak tahu, saya belum punya jadwalnya sehabis ini. Saya rasa Anda tanyakan sendiri padanya Mari-san." Lebih baik aku tak terlibat urusan Hisao yang ini. Semua gadis ingin jadi temannya.
"Kau assisten pribadi, tapi tak punya jadwalnya. Kau membohongiku." Dia sekarang mengatakan hal yang membuat aku tersenyum.
"Makanya saya bilang lebih baik Nona tanyakan pada Hisao-san sendiri." Sebenarnya kami diundang makan malam bersama kolega sehabis ini. Tapi mungkin Hisao ingin bersamanya setelahnya bukan.
"Ahh, Hisao-san, dia sangat tampan. Dan perkasa, kau lihat bahunya dalam suit itu, bayangkan jika dia menyukai salah satu dari kita.."
"Aku sangat memimpikannya. Cuma diajak semalampun aku rela." Gadis lain membalasnya.
"Hanya Mari yang pernah bersamanya disini. Aku iri sekali..." Mukaku panas mendengar mereka membicarakan tentang Hisao begitu vulg*ar.