
Polisi bilang mereka perlu beberapa saat untuk menetapkan hasil, ternyata ponsel orang itu tidak berisi apa-apa. Mereka perlu waktu lagi untuk menyelidiki. Sementara senjata yang dipalai adalah senjata curian aku harus menunggu lagi.
Aku hanya harus tandatangan beberapa pernyataanku. Ke kantor polisi hanya untuk itu dan ternyata rumahku sudah bisa ditempati lagi. Akhirnya aku bisa kembali. Tapi lagi-lagi Nathan tidak mengizinkanku kembali.
"Tidak bisa penyerangmu belum tertangkap, kau tidak boleh kembali ke sana. Tidak ada kompromi soal itu."
Aku menghela napas ketika aku ingin pulang ternyata belum diizinkan.
"Kau sendiri bilang pembunuhnya kemungkinan besar sudah melarikan diri entah kemana."
"Kau membunuh seseorang Natalie. Seseorang mungkin membalas dendam padamu, semua orang sedang menyelusuri siapa yang ada di balik ini. Kau tidak boleh merusak keamananmu sendiri. Sudaglah ayo kita pergi saja."
Dia tidak menerima perdebatanku lagi. Terpaksa aku harus tinggal di mansion pinggir pantai itu lebih lama.
"Ayo, kita ke pertandingannya. Malam ini akan ramai, tapi tenang saja aku sudah dapat VIP. " Seumur hidup baru kali ini aku menongo
Tim olahraga yang paling populer di Los Angeles, Tha Lakers, sejak 1980 mereka telah mememangkan 10 sari 35 NBA finals. Dan bintang-bintangnya sudah mengukirkan nama di Hollywood Boulevard.
Sekarang kami berada di Staples Center, stadion kebanggaan Lakers, bersama dengan puluhan ribu orang bersorak gembira.
"Kau penggemar basket?" Aku bertanya padanya sebelum pertandingan dimulai, sementara para cheerleaders cantik Lakers memanaskan lapangan didepan sana.
"Aku masuk tim basket di masa-masa high school tapi sekarang tak pernah main lagi tentu saja." Aku bisa bayangkan dengan tinggi badannya itu dia memang cocok disana.
"Hmm...pasti kau popular diantara gadis-gadis boss." Dia meringis mendengar pertanyaanku.
"Mungkin popular karena bolos, kau juga pasti populer saat high school?"
"Aku? Poluler karena kutu buku." Giliran aku yang tertawa. Senyumnya mengembang, membuatku sedikit terpana. Aku menyadari sekarang dia punya senyum yang manis dibalik sikap kakunya itu.
"Kau tak kerumah Ibumu nanti Natal?" Aku ingat di profileku hanya Ibuku yang masih hidup itupun aku jarang menemuinya.
"Aku tak tahu, mungkin. Aku jarang ke sana. Kami tidak begitu akrab." Yang ini benar, aku tak terlalu akrab dengan Ibuku. Dia berusaha baik, tapi sejak dia meninggalkan aku dengan Ayahku sesuatu melukaiku.
Mungkin itu pilihannya karena tidak bahagia aku tak menyalahkannya, tapi aku juga punya perasaan terluka karena hampir dua tahun dia tidak menemuiku.
"Jadi kemana kau saat liburan,..."
"Biasa kerumah Bibi di NY, ..." Yang ini benar lagi. Aku dekat dengan Bibiku, dia orang yang hangat. Kurasa sedikit banyak aku banyak mendapat nasihatnya.
Penonton riuh ketika para pemain masuk ke lapangan, dan pembicaraan kami terputus. Semua orang perhatiannya tertuju ke lapangan. Semua orang bersorak.
Beberapa saat aku tepat menangkap seseorang berbalik sengaja melihat arah kami. Entah sengaja atau tidak hanya sekilas kemudian dia beralih.
Seorang pria dengan jaket hitam, potongan rambut cepak, didepan kami tapi agak samping. Mungkin itu kebetulan tapi dengan kejadian dengan waspada yang baru kualami mau tak mau aku berpikir orang itu mungkin mengikutiku. Mungkin entah bagaimana dia bisa mengikutiku.
Aku tak mau mengambil resiko melepaskan pengawasanku. John, pengawal ada satu yang ikut di belakang kami. Walaupun tak ada yang tahu karena dia berpakaian baju sipil. Tak mungkin aku mengawasinya terang-terangan.
Aku akan diam-diam mengawasinya apa dia berbalik lagi atau tidak. Tapi sekali lagi dia terlihat sekilas melihat ke belakang, aku jadi mau tak mau berpikir kalau dia memang mengawasi kami.
"Liat pesan di ponselmu." Aku mengetikkan hasil pengamatanku supaya dia meneruskan ke pengawalnya 3 row dibelakang kami.
Nathan melihat padaku, pandangannya bertanya kenapa aku harus mengirim pesan. Tapi dia melihat ke ponselnya dahulu.
"Ohh, kau yakin."
"Dua kali dia sekilas melihat ke arah kita saat pertandingan berlangsung itu bukannya mencurigakan."
"Hmmm..." Dia mengetikkan sesuatu di ponselnya. Menunggu sebentar sebelum kelihatannya mendapatkan balasan. "Bersikaplah normal jangan mencoba mengawasinya lagi. John akan melakukannya untuk kita. Anggap kita tidak menyadarinya. Menontonlah seperti biasa...."
"Baiklah."
"Kita tak keluar sekarang?"
"Tidak, John dan yang lainnya akan menjadikannya target jika benar, ini kerumunan publik, dia tak akan berani berbuat macam-macam di tempat ini. Bersikaplah biasa jangan buat curiga yang mengawasi kita."
Nathan benar-benar bersikap biasa, dia pendukung Lakers dia memperhatikan pertandingan.
"Ahhh gerakan legend itu. Aku sudah lama tak melihatnya." Sekarang Nathan ikut bersorak dengan heboh tanda dia tak terganggu.
Aku ikut terbawa ke keseruan pertandingan. Sudah menjelang akhir pertandingan. Penonton berteriak ribut. Sementara aku masih khawatir apa kami diawasi atau tidak.
"Apa sudah ada kepastian?" Aku bertanya diantara gemuruh suara orang-orang yang berteriak.
"Apa?!" Dia tak bisa mendengarkan perkataanku diantara keriuhan penonton.
"Apa kita diawasi?" Aku terpaksa berbisik didekatnya.
Dia melihat ponselnya. Wajahnya menjadi kaku.
"Iya sepertinya kita diawasi."
"Jadi apa yang akan kau lakukan?"
"Aku akan mengawasinya balik tentu saja." Nathan mengangkat bahunya seolah tak perduli. "Kita nanti keluar memanfaatkan kerumunan yang akan keluar. Tak usah terburu-buru..."
"Baiklah..."
Pertandingan selesai, di waktu yang tepat kami melihat orang-orang mulai meninggalkan tempatnya.
"Kita ikut, sorry kupegang tanganmu." Nathan memegang tanganku mengikuti alur orang yang berjalan keluar.
Entah aku atau dia yang diawasi?
Sebelum aku sampai dirumah aku tak tenang, mataku mengawasi keadaan sekitar waspada jika ada seseorang yang tiba-tiba mendekati kami.
Ini kerumunan... harusnya tak mungkin dia berani banyak keamanan disini.
bersambung besok