The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
YOUR SUGAR BABY WANNA BE Part 9. The Reason for Help



"Aku akan mengunjunginya. Jika kau memperbolehkan. Kurasa tak apa dia tahu kau memperoleh bantuan untuk menyelesaikan kasusmu. Dia perlu dipersiapkan untuk tahu yang sebenarnya. Walau bukan sekarang. Ayahmu harus ke pengadilan juga nanti. Tapi kau bisa melaporkannya."


"Sepertinya kau tahu bagaimana berhadapan dengan hukum."


"Iya aku tahu, pendidikanku adalah hukum walau aku lebih suka mengurus bisnis keluarga yang masih butuh waktu dan banyak usaha untuk bisa sejajar dengan Gianni." Ternyata dia orang yang gila kerja, memperlakukan hubungan pribadi sebagai hiburan. Itu sebannya dia lebih suka membayar hubungan eksklusif tapi tanpa komitmen. Lebih sederhana, tidak menyisakan riak tak perlu.


"Hmm... aku mengerti."


"Apa kau sedang menilaiku?" Dia tersenyum padaku.


"Aku menilaimu? Aku hanya menduga, dan mengenali siapa penolongku, aku tidak menilai, aku tak berhak memberi nilai Tuan Bova." Dia menyender santai ke kursinya melihatku. Aku melanjutkan...- "Aku berterima kasih kau mau membantuku, ya mungkin kau juga mengambil keuntungan, tapi kau juga membayar pengacaranya, mengatakan apa yang harus kulakukan. Tapi asal bisa menyelamatkan Valentina dari Adrian Giannini saya sudah sangat berterima kasih. Lagipula hubungan pribadi ...kadang memang...rumit."


Aku berbicara tentang kegagalanku sendiri. Rasanya setelah beberapa lama memang lebih baik sendiri daripada merasakan sakit yang sama lagi dan harapan yang hancur.


Dia sekarang yang gantian menatapku.


"Kegagalan memang tak enak." Sekarang ganti dia yang menilai perkataanku.


Aku cuma tersenyum kecil.


Mungkin dia juga sudah beberapa kali terlibat masalah dengan wanita karena anti komitmen. Sehingga sampai berjalan di posisi sekarang . Kami sama-sama lelah bermasalah karena cinta kurasa.


"Kau sudah makan malam?"


"Belum... tadi restoran persiapan cukup banyak karena kami mengenalkan menu baru untuk makan malam. Aku langsung kesini setelah selesai."


"Mau makan malam, pengurus rumah harusnya menyiapkan sesuatu biasanya. Kemarin kau pergi begitu saja karena khawatir dengan adikmu..."


"Boleh..." Dia tersenyum karena aku menerimanya. Senyumnya itu bisa merontokkan pertahanan siapapun. Aku memikirkan bagaimana yang menjadi sugar baby-nya bisa bertahan untuk tidak jatuh cinta padanya.


"Ayo ikut." Dia membawaku ke ruang makanya yang digabung dengan dapur bersih. Ada seorang wanita yang nampaknya adalah kokinya bekerja.


"Ini Maria, dia sering memasak untuk siapapun yang sering bolak-balik dirumah ini, masakannya enak. Maria ini Elisa dia seorang profesional chef."


"Nona senang bertemu denganmu. Aku hanya tukang masak rumahan, tak bisa dibandingkan denganmu..."


"Selama kau menyenanginya masakanmu akan selalu disenangi Maria. Apa kau butuh bantuan."


Aku tahu pasta apa yang dibuatnya untuk makan malam dengan sekali liat. Tapi dia melakukan kesalahan kecil yang mungkin menurunkan rasa masakannya dan memilih bahan yang kurang tepat. Aku melangkah ke sampingnya dan sedikit memberinya saran membantunya memperbaiki.


"Jadi begitu Nona, terima kasih. Kupikir caraku sudah benar."


"Cobalah, jika kau menemukan sedikit perbedaannya di rasanya?" Dia mencoba masakannya sendiri.


"Ahh, ini benar berbeda Nona. Terima masih sudah memberitahu saya." Aku tersenyum ketika dia merasa senang. Sementara don juan tampan itu duduk di meja marmer dapur dan melihat kami bekerja.


"Kau mau makan disini?" Aku tak keberatan menyajikan untuknya karena Maria sedang mempersiapkan masakan lainnya.


"Boleh..." Tampaknya dia sudah lapar melihat pasta hangat itu. Aku mengambil piring saji dan memindahkan isi di wajan, menyerahkan padanya.


"Privilege dimasakkan sendiri oleh profesional chef, ..." Perkataannya membuatku tertawa kecil.


"Maria yang melakukannya aku hanya membantu sedikit. Ini masih tetap karya Maria..."


"Harusnya aku mentraktirmu makan kemarin, ini saja penggantinya..." Dia membuatku tersenyum atas kenaikan hatinya.


"Tampaknya bukan aku saja gadis yang di ajak makan disini. Bukan begitu Maria..." Dia tertawa mendengar tuduhanku.


"Tidak Nona, Tuan tidak pernah mengajak gadis-gadis makan dirumah. Nampaknya gadis-gadis Milan hanya menerima makanan hotel bintang lima. Nona satu-satunya yang bisa mengajari saya disini, Saya bersumpah yang saya katakan benar." Aku meringis mendengar Maria langsung membelanya. Tapi dia belum selesai


"...Tuan memang makan di meja dapur Nona, dia senang melihat saya bekerja. Katanya teringat Ibunya menyiapkan makanan untuknya." Ternyata dia punya sisi humanis kepada orang yang bekerja didekatnya.


"Aku hanya tak suka makan sendiri..." Jawaban pendeknya membuat aku berpikir. Tak suka makan sendiri, tapi menghindari punya hubungan dengan wanita terlalu dalam, kontradifktif ternyata. Tapi mungkin rengekan wanita yang diperhatikan membuat masalah


"Makan sendiri memang tak enak." Aku hanya mencari cara aman menjawab don juan ini. Aku takut kata-kataku yang terkadang terlalu terus terang merusak kesempatanku mendapatkan bantuannya.


"Dimana rumahmu?"


"Mungkin kau tak harus menjualnya. Jangan menyerah dulu. Jika kau sudah di bantu oleh pengacara kau bisa gantian sedikit mempermainkannya. Tapi sekarang yang terpenting adalah mengamankan adikmu."


"Benarkah aku bisa mempertahankannya?"


"Nanti kau akan tahu seiring kasus berjalan, tapi jangan pesimis dulu." Dia membesarkan hatiku.


"Terima kasih."


"Nona, apa aku boleh melihat caramu mengolah steak ini. Aku belum pernah melihat selain di YouTube. Tapi Tuan bilang steakku enak. " Maria ternyata sedang menyiapkan steak.


"Tentu..." Anggaplah aku menyiapkan makan malam untuknya. Dia sudah banyak membantuku. Aku membantu Maria sekarang.


"Kau mengingatkanku kepada seseorang teman. Dia juga pandai memasak sepertimu." Dia sampai mengingatnya, istimewa nampaknya.


"Wanita?"


"Ya, wanita."


"Nampaknya wanita yang istimewa." Aku tersenyum padanya. Dia tersenyum kecil.


"Kalian punya kesamaan."


"Ohh ya? Apa?" Aku mendengarkannya suara bariton-nya sambil menyelesaikan masakanku di samping Maria.


"Sama-sama orang yang menjaga keluarga." Aku berbalik dan tersenyum padanya, apa dia memujiku? Aku tak tahu, tapi mungkin lebih baik tidak terlalu dekat dengannya. Tak ada yang bertahan didekatnya, karena akhirnya dia memilih kariernya melebihi siapapun.


Mendekatinya berarti harus siap hanya menjadi teman. Tanpa kata cinta. Tapi mungkin dia akan jadi teman yang baik.


Wanita mana yang bisa bertahan jika dia terlalu baik. Aku tak bisa membayangkan harus berbohong kami hanyalah teman, tak bisa menghabiskan waktu di pelukannya, tak bisa mencium dan mencintainya. Lebih baik tak menyentuhnya sekalian daripada berpura-pura tak ada apa-apa dengan tipe seperti ini.


"Semua orang menjaga keluarga mereka." Aku mengenyahkan pujiannya. Memberi tahu Maria yang kulakukan, mengobrol dengan Maria, menjawab pertanyaannya tentang beberapa masakan yang dia tanyakan.


Dan masakan kami selesai.


"Well terima kasih, rasanya seperti mempunyai koki pribadi.." Dia menerima piring steak dengan red wine sauce itu dengan senyum lebar. Dan mulai memotongnya.


"Enak.."


"Sempurna..." Ganti aku yang tersenyum lebar. Kebahagian seorang koki yang masakannya dipuji. "Aku akan mengambil wine yang sesuai untuk ini." Dia beranjak dari depanku.


"Antinori Villa Toscana Red Blend..." Dia membacakan pilihannya.


"Excellent.. " Biasanya kami memasangkan steak dengan red wine, tapi seafood seperti lobsters lebih cocok dengan white wine.


Dia mengambilkan gelas untuk kami sebelum membuka botolnya dan menuangkan untuk kami.


"Untuk kesuksesan kita menyingkirkan Gianni."


"Setuju..." Suara dentingan gelas kami mengawali kerjasama kami.


"Apa aku boleh menyebutkan tentangmu?"


"Ada saatnya nanti. Sementara anggaplah kau melawan Gianni dengan kemampuanmu sendiri. Karena dengan terlihat kau berjuang sendiri melawan intimidasi maka akan memancing rasa iba."


"Aku mengerti..."


"Jangan khawatir, aku tak akan membiarkan kau sendiri melawan intimidasinya."


"Tak apa asal aku sudah mengungsikan ayahku ke Catania dan mengamankan adikku aku tak khawatir lagi. Tadinya aku tak punya pilihan tapi sekarang aku merasa kau memberiku pilihan. Walau aku tahu kau juga punya tujuanmu sendiri. Terima kasih untuk ini..." Dia tersenyum.


"Teman?" Dia mengajak toast dan menbuatku melihat pada matanya.


"Teman." Gelas kami berdenting.


Menjadi temannya berarti punya seorang pendamping melawan dunia. Apa aku harus membayarnya? Kuharap tidak harus dengan hatiku.