
"Kau tidak tahu?" Aku entah kenapa tak percaya apa yang dikatakannya.
"Apa kau pikir aku tahu apa yang terjadi?" Aku diam, sepertinya dia memang tak tahu. Karena dia mengajakku kesini sebenarnya juga untuk menghindari Ibunya.
"Ya baiklah, apa yang harus kita lakukan?"
"Tepatnya apa lagi yang bisa kita lakukan? Paman sampai ikut campur karena desakan Ibu dan istrinya. Aku tak punya cara membantumu jika Paman tak mengizinkan. Terpaksa kau harus ikut. Lagipula apa yang mereka bisa lakukan. Hanya dua hari anggap saja liburan ke Catania."
Apa yang bisa mereka lakukan?
Well, itu benar. Apa yang mereka bisa lakukan jika anaknya sendiri menutup dirinya sendiri. Mereka mencoba apapun kepada Don Juan ini jika dia tetap menghindari sebuah hubungan serius tetaplah sebuah kemustahilan. Anggaplah ini bayaran untuk bantuan Don Juan ini. Aku membantunya sementara ini menghadapi Ibunya yang tidak suka prinsip anti komitmennya.
"Baiklah...Anggap saja begitu. Kurasa mereka hanya ingin melihatmu tak sendiri..." Aku mengangkat bahuku, dia melihatku.
"Sorry melibatkanmu dalam masalah ini. Kemarin sebenarnya aku sempat di interogasi habis-habisan oleh Ibuku. Dia akhirnya mengambil kesimpulan aku ga*y. Itu agak membuatku khawatir sebenarnya sehingga aku membawamu kesini." Aku meringis.
"Ibumu dia hanya mengkhawatirkanmu kukira. Kau sudah banyak menolongku, anggap saja aku yang menolongmu kali ini."
"Aku tahu dia mengkhawatirkanku tapi semuanya baik-baik saja untukku sebenarnya." Dia mengambilkanku minuman dari pelayan yang melewati kami, memberikannya padaku.
"Terima kasih. Ternyata apapun jalannya pasti ada masalah bukan." Dia nampaknya memikirkan perkataanku sekarang, tapi tak berkata apapun. Aku sebenarnya juga setuju pada prinsipnya, kadang sendiri memang lebih sederhana untuk dijalani setelah kau mengalami beberapa kegagalan besar, bisa fokus pada dirimu sendiri. "Kau ada kolega yang harus kau temui lagi, aku akan menemanimu." Ini acaranya, sekarang aku membantunya menemui tamu saja.
"Kita bisa makan dulu." Ini pesta non formal. Tamu bebes mengobrol di mejanya atau di meja lain, sementara beberapa orang membuat kelompok, sementara musik dimainkan dan penyanyi menghibur tamu."
"Bova..." Seorang gadis muda cantik memanggilnya sekarang. Gadis dengan rambut blonde seperti Sophie, gadis itu tersenyum padanya seperti sudah lama mengenalnya.
Kurasa sekarang aku tahu tipenya, blonde selalu membuatnya turn on! Well..well..well, aku jelas diluar tipenya, aku merasa sedikit aman. Seperti dia juga dengan cepat memperhatikan Valentina awalnya, Sophie, lalu gadis ini, dia jelas penyuka gadis berambut pirang, aku yang berambut gelap akan dengan aman keluar dari radar. (Red :Sttt..Monica juga blonde hihi...)
"Ohh Alesha...Kau disini, kau menemani seseorang."
"Ya aku menemani seseorang, bagaimana kabarmu." Gadis itu tersenyum padanya dengan manis. Mungkin salah satu yang pernah dibayarnya juga.
"Aku baik. Bagaimana denganmu, kau menemani siapa kesini."
"Aku menemani Massimi Boni."
"Ohh Massimo, aku juga akan menemuinya, ohh ya ini kenalkan temanku Eliza."
"Hi, aku Eliza... Senang bertemu denganmu sayang." Aku selalu bersikap baik hati dan ramah pada gadis muda.
"Bagaimana kalau kita menuju mejamu, aku juga belum bertemu Massimo." Dia kemudian bersikap biasa saja ke gadis itu, saat kami bicara dengan koleganya yang lain. Tidak tampak mengenalnya malah didepan partnernya, hanya menyebutkan pernah bertemu sekali.
Menganggapnya sebagai hanya seorang kenalan biasa. Tak terlibat hati, ataupun perasaan apapun. Walaupun gadis itu sepertinya cukup terpukau padanya dan nampaknya berharap dia bersikap lebih manis. Tapi dia tidak melakukannya. Dia hanya berlaku dia mengenalnya tapi tak pernah akrab sama sekali.
Kami bertemu dengan beberapa orang lagi kolega setelahnya mengucapkan selamat Natal kepada mereka dan aku mendampingi disampingnya.
"Aku tahu tipemu sekarang..." Aku sengaja menggodanya. Dia melihat kearahku saat kami selesai bicara dengan koleganya.
"Tipeku?"
"Blonde dan jam pasir..." Aku meringis lebar dan dia tertawa kecil saat aku menembak kata-kata itu.
"Itu hanya preference. Kau partner yang sangat baik malam ini. Terima kasih."
"Senang bisa membantu Tuan Bova."
"Mau dansa?"
"Dansa?" Aku berpikir, nanti Ibunya akan menyangka aku terpesona dengan anakya. "Aku berubah pikiran , kupikir kita tidak usah dansa. Tidak."
"Kenapa?"
"Aku tak mau terlalu terlihat terpesona padamu. Itu akan kacau di depan keluargamu."
"Ohh baiklah, aku mengerti, ternyata kau menganggapku sangat buruk." Aku tertawa kecil ketika dia menganggap pernyataanku terlalu personal.
"Bukan. Aku tak menggangapmu buruk, aku hanya mengerti sudut pandangmu. Aku juga merasa lebih baik sendiri. Kita berdua sudah banyak mengalami kegagalan, tapi gadis muda yang mengejarmu menganggap kau adalah pangeran berkuda putih. Aku pernah ada di posisi mereka, berharap semua happily ever after, tapi sayangnya banyak hal yang terjadi kemudian... Jadi aku mengerti kau lebih suka mengatur semuanya terkendali disekelilingmu. Itu saja Tuan Bova. Tapi jika kau bertanya apa aku lebih memilih menghindarimu, akan kujawab iya, jangan sakit hati padaku...." Aku tersenyum padanya.
"Kau pengertian ternyata." Dia melihatku tanpa tersinggung.
"Tapi kita bermasalah karena Ibumu menyangka kau terpesona padaku. Jadi kurasa kau jangan membuat ini tambah berbahaya. Nanti jika kita tak membuktikan kita hanya teman, Ibumu akan tambah berharap."
"Kalian berdua jangan lupa dengan janji kalian, dua minggu lagi kalian harus ke Palermo untuk acara ulang tahun Ibu. Sayangku Eliza, kau bersedia bukan?" Aku bertemu Ibu dan Bibinya lagi di akhir acara.
"Baiklah Bibi, tapi aku hanya teman Bova, bukan pacarnya." Aku mengulanginya sekali lagi, tak mau dia berharap terlalu banyak dengan semua ini.
"Aku mengerti kau hanya temannya. Yang penting kau datang. Itu sudah melegakan." Sebenarnya apa yang mereka rencanakan.
"Baiklah aku akan Bibi, terima kasih atas undanganmu..."
Kami berpisah kemudian dan Bova kemudian mengantarku kembali.
"Apa kau sudah benar-benar resmi bercerai?" Satu pertanyaan saat kami sudah di jalan.
"Kurasa awal tahun akan keluar suratnya. Kenapa kau bertanya?"
"Tidak apa, hanya tak ingin mendapatkan mantan suamimu menuduhku merebut istrinya yang masih diinginkannya nanti." Aku tertawa atas pertanyaannya.
"Dia sudah punya blonde baru, kenapa dia menginginkanku." Aku tersenyum masam mencoba terlihat tak terpengaruh. "Tak usah bicarakan orang itu, ..." Urusanku dengannya hanya agar dia membayar kewajibannya padaku.
Tapi kurasa jika dia tidak membayarku aku menyerah saja dan fokus ke restoranku sendiri. Sulit mengurusnya aku harus bolak balik Milan Madrid, sementara masalah disini bertumpuk. Jika dia tidak mau memberikan hakku seperti yang sudah kami sepakati maka
"Tapi terlihat sekali kau masih menyimpan sesuatu..."
"Aku? Menyimpan sesuatu? Dia menyimpan uangku? Cuma itu saja setelahnya aku akan melupakannya. Tak ada yang spesial."
"Jika kau mau kau bisa meminta Fernando untuk mengurus pembagian harta. Dia bekerja di firma hukum dengan affliansi internasional, dia punya partner di negara lain."
"Tidak, ... aku tak ingin pengadilan. Jika dia tak mau memberikannya aku akan menganggapnya hilang saja. Aku akan hanya fokus pada restaurant saja."
"Terserah padamu, jika kau mau kau tinggal katakan saja."
"Terima kasih atas tawaranmu. Tapi tidak, aku tak sanggup masuk pengadilan untuk menuntutnya. Lebih baik melupakan dia dan menata hidupku lagi..." Dia mendengarkan tapi kemudian membiarkanku merenung melihat ke arah jalanan yang kami lewati.
"Yang satu berakhir buruk bukan berarti semuanya akan buruk."
"Itu berbeda untukku, karena kurasa tak ada yang mau menerima kekuranganku. Hmm... jadi mungkin aku memimpikan akan jadi pengusaha sukses saja, menyelesaikan masalah ini, membuka lebih banyak lagi cabang atau usaha baru dan menikmati hidupku. Banyak cara menikmati hidup ..." Aku tersenyum tanpa beban. Saat ini rasanya masih getir tapi kurasa seiring waktu aku akan melupakannya segera.
"Kau wanita yang mengagumkan..."
"Dan kau. Kurasa kau hanya terlalu banyak bergaul dengan gadis muda yang memudahkan mencari uang dengan cara mudah. Suatu saat kau akan bertemu dengan gadis yang tepat dan tak membuat Ibumu kuatir lagi..."
"Mungkin..." Aku tersenyum padanya dan bertopang dagu di sandaran kursi tengah.
"Don Juan yang kejam, berapa hati gadis yang telah kau patahkan." Dia meringis dan melihat padaku. Aneh kami rasanya sekarang memang teman, aku tak takut mengatakan hal ini padanya.
"Aku tidak pernah menjanjikan apapun. Jika mereka berharap aku sudah mengatakan semuanya di awal. Ini hanya pekerjaan profesional."
"Kau memang terlalu menawan..."
"Jadi kau menangangapku menawan terima kasih. Kau mau merubah kesepakatan." Aku langsung tertawa.
"Tidak." Langsung memalingkan muka dan menjawabnya.
"Kenapa katamu aku menawan."
"Yang menawan itu paling berbahaya dan tak bisa dipercaya." Giliran dia tertawa.
"Ohh ayolah aku tidak seburuk itu." Dia masih menggodaku. Aku hanya melihatnya dengan kesal.
"Don Juan kau memang tidak buruk, kau bicara terus terang. Hanya aku yang tidak bisa menerima hubungan seperti itu jika aku punya pilihan. Kau memberiku pilihan ...Aku harus berterima kasih padamu. Kau membantuku dan aku membantumu menaikkan kelompokmu. Itu cukup adil bukan..."
Dia tersenyum padaku.
"Aku tadi hanya bercanda."
"Aku tahu..." Aku menatapnya kembali.
"Kita teman oke. Mintalah apapun bantuan yang kau perlukan."
"Kau jelas teman yang baik hati."
Sekarang aku hanya bisa mengatakan ini padanya. Malam ini kami bisa bicara sebagai teman dan lebih dekat. Dan yang terutama dia adalah jalan keluar dari masalahku.