The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
YOUR SUGAR BABY WANNA BE Part 14. Sophia 1




POV Eliza


Kenapa Don Juan itu memintaku pergi bersamanya. Tak punya teman apa sugar babynya itu bukan teman. Atau mungkin sugar babynya terlalu ...ehmm...blonde dan berkilau.


Ditengah aku menanyakan itu. Aku melihatnya dengan seorang, blonde.... tepat keesokan hari saat aku pergi berbelanja di sebuah supermarket. Hmm sugar babynya itu blonde, melekat padanya, dan tubuhnya berisi berlekuk indah seperti jam pasir walau dalam busana musim dinginnya.


Well, laki-laki mereka selalu tertarik dengan jam pasir... apalagi orang seperti dia yang bisa membayar hak eksklusif seperti itu. Sama seperti mantan suamiku yang tak tahan ingin melepaskan dirinya di dalam tubuh gadis barunya itu. Mungkin setelah kami resmi bercerai dia langsung menghamilinya. Aku sakit, tapi sudahlah tak ada gunanya sakit hati lagi. Sudah cerita kami harus berpisah karena kekuranganku.


"Berbelanja." Aku kaget. Dia ternyata melihatku dan menyapaku di counter pembayaran.


"Hei, ternyata kau disini. Iya, sedikit." Aku tersenyum padanya. Gadis disebelahnya tersenyum ramah padaku. Masih muda mungkin baru berumur dibawah 25.


"Hai... Aku Sophia."


"Hai.. Eliza." Aku tersenyum pada gadis cantik itu. Aku bukan apa-apa jika dibandingkan dengannya, aku rata, bukan tipenya, bahkan rambuhnya pun bergelombang dengan indah, penampilan para chef memang tak seglamor gadis-gadis model ini.


"Restoran buka?" Dia mencari bahan pembicaraan denganku.


"Iya, kami selalu buka sampai Christmas Eve, libur sampai sore, tapi buka kembali untuk Malam."


"Keluarga pekerja keras..." Aku tersenyum kecil atas komentarny.


"Kami menganggap melayani pelanggan waktu Natal adalah kesenangan. Makanya aku membuat kue, agar aku bisa memberikan sesuatu untuk mereka."


"Bagus untukmu, jangan terlalu lelah."


"Sayang ini siapa, temanmu?"


"Iya, teman bisnisku. Pemilik Pescaria." Dia menyebutkan restoranku.


"Ahhh Pescaria, itu restoran yang bagus. Rupanya Anda pemiliknya." Sophia memujiku. Dia tahu menbawa diri walaupun masih muda.


"Aku hanya menjalankan, orang tuaku pemilik awalnya."


"Tetap saja itu restoran yang terkenal sudah ada lama."


"Terima kasih, kami buka untuk Christmas Eve sampai tahun baru, jika kau mau berkunjung, akan sangat menyenangkan." Aku seperti biasa bertindak sebagai marketing yang ramah.


"Tentu kapan-kapan aku akan membawa teman-temanku mengunjungimu." Gadis ramah itu membalasku dengan riang. Dia terlihat bahagia, kurasa Bova orang yang loyal. Sudahlah untuk apa aku memikirkannya.


"Aku kembali dulu. Senang bertemu kalian." Aku langsung pergi sekarang. Tidak mau menganggu kebersamaan mereka.


Aku jadi berpikir seperti apa penampakan tubuh atletisnya itu, pasti hebat. Aku membenci pikiranku membuat jalannya sendiri. Terlibat dengan orang seperti Bova hanya berakhir kecewa karena dia tidak akan pernah berkomitmen, dia mungkin jauh lebih buruk dari mantan suamiku.


Aku tak tahu masa depan tapi jikapun kami terlibat suatu saat. Itu hanyalah satu malam, seperti Sophia, dia memilih tidak berkomitmen pada siapapun.


Cinta hanyalah kesenangan sesaat baginya...


💜💜💜💜💜💜


Aku masih setiap saat memikirkan Valentina, menanyakan keadaannya, tapi untunglah hari-hari sibuk akhir tahun ini tiga restoran kami mendapat pemasukan yang sangat bagus.


Aku melihat laporan sampai tanggal 27 ini dan merasa puas. Hasil promosi sebulan belakangan meledak sangat baik di lima hari pekan Natal ini dan di tahun baru nampaknya akan bisa berjalan baik juga, karena reservasi kami juga bagus sampai beberapa hari setelah tahun baru untuk beberapa pesta perusahaan.


Lokasi restoran kami yang dekat dengan beberapa gedung perkantoran memang nilai tambah. Ibu tak pernah salah dengan keputusannya.


"Nona ada yang mencarimu."


"Mencariku? Siapa?"


"Katanya seorang gadis cantik dan teman-temannya yang juga cantik." Ohhh? Mungkin teman-temannya Valentina? Kenapa mereka mencariku?


"Sebentar Hilda...Aku nanti ke depan." Aku menutup pekerjaanku dan pergi ke depan.


"Siapa yang mencariku, aku bertanya kepada manager yang sedang bertugas."


"Nona di meja 20, seorang gadis bernama Sophia."


"Sophia?" Sophia? Siapa? Teman Valentina tak ada yang bernama Sophia, aku tak ingat dia pernah menyebutkan nama Sophia kecuali ada satu Sophia yang berkenalan denganku beberapa hari lalu. Benarkah pacarnya Bova yang mereka maksud.


Aku penasaran, mungkin memang gadis cantik itu. Dia benar-benar kesini ternyata...


"Sophia, senang bertemu denganmu lagi. Astaga kau dan teman-temanmu cantik sekali..." Ternyata memang dia dan teman-temannya yang cantik. Dengan rambut bergelombang, makeup tanpa cela, rok cantik diatas lutut, heels runcing, tas designer dan beberapa belanjaan dari butik terkenal di Milan. Aku langsung mengatakan diriku bukan di level mereka jika soal fashion. Satu restoran sekarang perhatiannya tertuju ke mereka karena mereka seperti gerombolan sosialita dengan aura gemerlap.


"Ahh Nona Eliza, senang bertemu denganmu lagi." Dia memelukku sekarang, sangat ramah.


"Terima kasih kau menyempatkan kesini." Aku menyambutnya seperti tamuku yang lain.


"Ini Claudia, Valeria dan Giova. Dia memperkenalkan teman-temannya. Aku dan teman-teman lewat dekat sini, aku teringat padamu." Mereka gantian menyalamiku.


"Dia memang sangat perhatian kepada teman-teman tunangannya. Semua tidak ada yang dilupakannya" Seorang bernama Claudia tiba-tiba menyambar.


Ehhh tunangan? Bova tunangan dengan gadis ini? Benarkah? Tunggu dulu, sepertinya ada yang salah disini. Lalu kenapa dia bilang padaku dia tak punya teman untuk datang ke pesta keluarganya.