
Akhirnya aku bisa beristirahat di sebuah tempat yang layak. Sebuah kamar bersih, dengan baju baru yang bersih, makan dengan benar selain burger yang sudah ku makan sebagai menu selama tiga hari.
"Astaga ini enak sekali, orang Rusia itu benar-benar kejam, kami hanya membeli makanan di drive-thru dan makanannya hanya burger dan kentang selama berhari-hari. Aku pernah dibiarkan kelaparan delapan jam." Setelah mandi akhirnya aku bisa mendapatkan makanan yang baik diantarkan ke kamar dari restoran hotel. Baju bersih, rambut wangi, merasa bersih lagi, ini surga.
"Makan pelan-pelan, jika kurang aku pesan lagi..." Dia menyelipkan rambutku yang masih setengah basah. Aku melihatnya memperhatikanku dengan matanya seperti dia sama sudah lama tak melihatku.
"Sudah ini banyak sekali, kau memesan semuanya... Kau tak makan?"
"Aku sudah kenyang melihatmu makan. Kubantu potongkan, tanganmu sampai memar begitu. Aku minta Josh membeli penahan sakit tadi supaya kau bisa tidur dengan baik."
"Dia tidak memberiku kesempatan mengerakkan tangan dan jariku, tanganku diikat erat ke sisiku, kadang ke belakang, dia takut aku berhasil membuat keributan. Aku hanya bisa berguling pindah sedikit, kadang rasanya hanya kebas... Aku tak mau mengingatnya lagi."
"Kau tidak akan mengingatnya lagi, harusnya aku tak melibatkanmu dalam urusan ini."
"Tak apa, aku sudah disini, kau melakukan semuanya untuk menemukanku. Jika kau tidak berpikir mengeluarkan hadiah begitu besar, aku tak akan disini sekarang, mungkin aku sudah dalam penerbangan ke Rusia. Aku tak menyalahkanmu..." Nathan menghela napas panjang.
"Habis ini mintalah cuti seminggu." Perkataannya membuatku tersenyum.
"Iya aku akan cuti, tapi tak perlu sampai seminggu. Makanlah, bagaimana kau mengharapkanku menghabiskan semua ini."
"Biarkan akan menyuapimu, aku akan makan..." Dia romantis sekali sekarang. Dia tak pernah mengatakan dia mencintaiku, tapi semua yang dia dilakukannya mengatakan itu. Bukankah itu lebih berarti dari segalanya. Bisa melihatnya lagi berarti segalanya...
"Ini enak bukan..." Dia menyuapkan pasta untukku.
"Hmm enak, tentu saja. Tapi aku sudah kenyang, kusuapkan untukmu." Aku mengambil garpunya dan berganti menyuapinya. Melihat senyum kecilnya membuat aku yakin dia menyukai apa yang aku lakukan.
"Siapa lagi yang terlibat penculikanku?"
"Mantan temanmu itu. Dari awal dia memang bekerjasama dengan Kulkov, tak ada yang mengherankan soal itu."
"Maksudmu Tyson?"
"Siapa lagi." Dia mengambil garpu baru, dan menghabiskan makanan, nampaknya membicarakan temanku itu membuatnya lapar ingin menghajarnya.
Seorang yang dulunya teman sudah berubah sepenuhnya menjadi musuh sekarang. Kenapa sampai begini.
"Dia menelepon Arthur Kulkov, saat Mr. Reed membuat drama mengatakan sudah menemukan penculiknya. Dia tak akan mengakui apapun tentu saja tapi rekaman percakapan itu bukti valid yang akan menyudutkannya."
"Apa Kulkov akan berhenti,..."
"Entahlah, kita akan tahu nanti, sudahlah kau istirahatlah, jangan pikirkan banyak hal dulu, yang penting kau sudah kembali dengan selamat, kutinggalkan kau sendiri. Kita baru pulang besok siang, tadi harusnya kau ke dokter dulu..."
"Aku tak apa, aku hanya butuh baju bersih, mandi air hangat dan tidur di sebuah tempat yang nyaman selain bagasi dan kasur."
"Ya sudah istirahatlah, ..."
"Kau tak menemaniku?" Dia menatapku. "Aku hanya ingin kau disampingku..."
"Apapun yang kau minta."
Akhirnya setelah tiga malam tidur di bagasi, aku bisa tertidur di pelukannya lagi malam ini.
"Aku merindukanmu, ..." Memeluknya terasa begitu nyaman kemudian. Ciuman kecilnya dikeningku membuatku tersenyum, mencium wangi pelukannya lagi.
"Kau mau kupijat hingga tertidur?"
"Kau manis sekali."
"Aku selalu bersikap manis pada kekasihku." Tiga hari yang lalu aku seharusnya kembali padanya, dia pasti menungguku, setelah kami berdua sama-sama sibuk sampai akhir pekan dan hanya kadang bisa saling menelepon.
Aku menciumnya karena bersikap manis menawarkan pijatan, bahkan menawarkanku tidur sendiri. Menggapai bibirnya membuatku ketagihan.
"Kattie kau harus tidur..." Itu serupa bisikan, tapi bagaimana aku bisa tidur dengan seseorang begitu kurindukan disampingku.
"Ehm... kau wangi." Tanganku menyusup dalam t-shirt nya, abs sempurna dan berlekuknya itu membuatku menggigit bibirku. Aku merasakan dirinya dibawah sana bangkit saat aku menyusupkan tanganku menyusuri rusuknya.
"Sayang, kau tak bisa tidur sebelum ini selesai?" Sekarang dia mencium leherku, tubuhku meremang, saat jambangnya mengenaiku, dan dia mulai merangkulku dengan posesif. Giliran tangannya sekarang bekerja, "Kau harus tidur setelah ini gadis nakal..."
"Aku akan selalu nakal dalam pelukanmu, aku tak menahan diri ..." Aku tertawa kecil, saat dia mulai mengambil alih kendali.
"Kau tidak lelah?"
"Nath..." Aku menjawabnya dengan mengenggamnya dibawah sana yang sudah siap untukku. "Bagaimana kau akan menurunkan ini..." Aku mengerang ketika dia menyentuhku juga.
"Nathan, please..." Aku membuat permohonanku, memintanya menyelesaikan apa yang sudah aku mulai.
"Mata-mata cantik, apa kau menyesal di kirim ke pelukanku,..." Tangannya mengunci pinggulku, menempatkan dirinya dan membuatku mele*ngguh saat dia mendapatkanku memeluknya begitu erat dibawah sana.
"Ehmm... yess." Ibu bukan jawaban pertanyaan, tapi ekspresi puas atas apa yang dilakukannya pada diriku.
Aku tak bisa menjawabnya karena dia membuat gerakan diatasku yang hanya bisa membuatku mengera*ng dan memejamkan mata menikmatinya dan merasakan diujung pendakian dalam sesaat. "Nath..." Aku mencengkram bedsheet, tubuhku mengejang tak terkendali, menciptakan release yang sempurna dan membuat Nathan mempercepat dirinya untuk mendapatkan kepuasannya sendiri kemudian.
Hanya beberapa detik untuk membuat tubuhnya ikut mengejang dengan napas tersenggal diatasku. Cairan cintanya mengenaiku dengan hangat.
"Gadis nakal, kau punya keahlian tertentu dalam memancingku." Aku kembali meringkuk didekatnya setelah membersihkan diri.
"Ehmm...aku hanya suka mendapatkan yang kuinginkan. Dan kau bilang saja kau menginginkannya juga." Aku terkikik dan membuatnya menciumku lagi.
"Setelah ini aku tak akan meninggalkanmu tanpa pengawalan lagi, kupikir setelah aku tak memegang kendali atas anak mereka, aku tak punya urusan lahi dengan mereka, tapi ternyata mereka malah menargetkan kau, jika bisa kau pindah kantor dulu, atau kau kembali jadi kepala auditor..." Aku menghentikannya.
"Tak usah, aku mendapatkan posisi ini setelah bertahun-tahun tugas lapangan, aku tak akan pindah kemanapun, ini kotaku, aku tak akan kalah dari mereka. Aku baru menjadi kepala unit, aku tak akan minta mutasi sekarang. Aku ingin jadi seseorang juga sepertimu."
"Berbahaya Kate..., bagaimana jika..." Dia mengatakan pekerjaanku berbahaya, pekerjaannya juga sama berbahayanya.
"Kau berkata berbahaya? Bagaimana jika kau juga kusyaratkan berhenti dari pekerjaanmu sekarang. Jika kau ingin kita berjalan bersama, aku juga harus bisa melindungi diriku sendiri, bukan sembunyi seperti pengecut di belakangmu."
Nathan menghela napas, ...
"Jika begitu, sementara kau harus dijemput, dan kau kembali ke kediamanku."
"Tinggal bersamamu..."
"Diantar oleh pengawal, dijemput oleh pengawal, jika tidak aku akan khawatir jika Kulkov mengirimkan orang yang lain lagi."
"Aku memperoleh kamarku sendiri,... bajuku banyak. Aku masih ingin punya kamar sendiri." Dia tersenyum kecil sekarang.
"Kenapa jika tidur sekamar denganku."
"Aku ingin kamarku sendiri..."
"Baiklah, kau mendapat kamarmu sendiri. Sekarang tidurlah, jangan berdebat lagi." Dia membalik badanku, menyelimutiku dan mencium pipiku. Manis sekali... Aku meremang bahagia.
"Kau ingin aku tinggal dirumahmu. Apa aku sangat berarti untukmu. Katakan kau mencintaiku Tuan Mafioso" Aku berbalik menghadap ke arahnya lagi.
"Apa itu perlu?"
"Itu perlu..." Dia menatap mataku, entah kenapa aku berdebar menunggunya untuk mengucapkan kata cintanya.
"Eres mi media naranja, carina..."
(Secara harfiah artinya, Kau adalah separuh orangeku, sayang... maksud terjemahannya \= kau belahan jiwaku).
carina \= Sayang (wanita) in Spanish
carino \= Sayang (pria) in Spanish
"Bukankah itu artinya aku separuh belahan jerukmu..." Aku tersenyum memandangnya.
"Iya..." Dia menyisipkan rambut yang jatuh ke wajahku.
"You're my soulmate." Aku tersenyum, tak kusangka dia mengatakan sejauh itu.
"Kau serius."
"Apa aku pernah bicara bercanda? Tidurlah ... apa kau tak lelah, tak ada lagi yang menyakitimu."
"Aku hanya gadis biasa yang terlalu beruntung mendapatkan seorang Nathan Garcia." Aku memeluknya, mendapatkan diriku bersandar di lengan hangatnya dan dada bidangnya.
"Kau gadis luar biasa yang berani masuk sarang macan." Aku tertawa kecil.
"Aku mencintaimu Carino..."
"Tienes todo mi corazón." Kau memiliki seluruh hatiku.
Aku terpejam dengan kata-kata indah itu.
\=\=\=\=\=