
"Nona-Nona!" Sore hari beberapa hari setelah Guilio pergi, seorang terburu-buru memanggil namaku di kebun. "Seorang wanita datang ke sini, namanya Alida Vali, katanya dia mencari Nona pemilik perkebunan ..."
"Alida...siapa?" Aku tak ingat ada teman yang bernama Alida.
"Katanya dia mencari pemilik perkebunan tapi dia tidak mengenal namamu sebenarnya."
"Baiklah, aku kesana. Sebentar." Aku membereskan catatan perkerjaan dengan manager perkebunan anggur dan menuju ke rumah.
Di ujung sana ada seorang wanita cantik dengan gaun panjang. Dia melihatku menghampirinya.
"Ya? Apa yang bisa kubantu untukmu?"
"Apa kau Monica?"
"Ya aku Monica."
"Ohhh, aku sebenarnya mencari informasi memgenai bapak anakku Guilio,... Seorang berkata mungkin kau tahu rumah ibunya di Sicily, aku ingin bicara karena aku hamil anaknya." Sekarang aku ternganga.
"Kenapa kau tak menelepon Guilio langsung?"
"Dia menolak teleponku. Jadi aku memutuskan menghubungi Ibunya..." Guilio ini, astaga apa dia tidak memakai pengaman. Apa anaknya berceceran dimana-mana. Bastardo itu benar-benar playboy murahan.
"Nona namamu siapa tadi..."
"Aku Alida Vali, aku dari Milan, kau harus membantuku, jika tidak anakku tidak mempunyai Ayah. Nona kita sama-sama wanita." Aku diam dengan air matanya. Dia sangat berusaha sampai mencari Ibu Guilio. Bangsat ini memang harus dihajar jika tidak mengakui anaknya.
"Bagaimana kau tahu aku temannya?"
"Aku mencari informasi ke temannya, dia berkata mengenal seseorang teman Guilio di sini, dan mungkin tahu rumah Ibunya." Guilio memang kadang memakai tempatku sebagai rumah tamu.
"Kau tunggu sebentar." Aku kedalam menelepon Guilio langsung, aku ingin tahu apa penjelasannya.
"Monica, ada apa?"
"Guilio, seorang wanita bernama Alina Vali mencari rumah Ibumu karena dia mengaku mengandung anakmu dan kau menolak mengakuinya."
"Cavalo!(Ho*ly Cra*b), punya nyali juga dia."
"Apa maksudmu?"
"Astaga, wanita tidak punya otak itu. Bilang saja padanya, jika Ibuku sampai tahu dia menipunya, dia tidak akan meninggalkan Sicily hidup-hidup, bilang padanya begitu. Jika dia berani pergi, aku akan menelepon Ibuku dan membiarkan seseorang menjemputnya. Katakan begitu saja, ...." Cara dia bicara meyakinkan sekali. Aku jadi langsung percaya Guilio mengatakan kebenaran.
"Wanita itu penipu?"
"Tentu saja, dia sangat bodoh. Dia pikir aku percaya ucapannya. Dia cuma ingin uang untuk menyelesaikan masalah."
"Maksudmu di tidak benar-benar hamil?"
"Tentu saja tidak, dokternya sudah dibayarnya. Dia wanita licik, dia akan berpura-pura tak ingi anakku, dia akan meminta uang, begitu aku setuju menggugurkannya dia akan meminta uang dan masalah selesai. Dia akan berpura-pura dia tidak mau anak dariku membenciku dan mengambil uangku. Acting murahan, bukan sekali dia melakukannya..." Aku baru tahu ada wanita seperti itu.
"Kenapa kau bisa terlibat dengan wanita seperti itu."
"Actingnya innocent, kupikir dia benar-benar innocent saat kami bertemu, kau tahu itu hanya hubungan sesaat, sebelum aku menyelidikinya langsung ketika dia mengaku hamil sebulan yang lalu saat dia mengaku hamil denganku. Dia tahu aku punya banyak nol direkeningku, dia memang menargetkanku, tapi tidak tahu sebenarnya siapa aku."
"Ohh begitukah." Aku jadi tertarik membuktikan perkataan Guilio.
"Ehmm...baiklah, akan kukatakan seperti yang kau katakan. Lalu jika dia bersedia aku bisa menelepon Ibumu."
"Telepon saja. Ibuku akan sangat bersemangat melakukan tes DNAnya dan membawanya ke dokternya sendiri. Bukan sekali dia menangani kasus seperti ini." Dia sangat yakin.
"Baiklah akan kukatakan padanya."
Aku keluar lagi menemui wanita itu. Dia tampak harap-harap cemas.
"Alida, aku bisa membuat Ibu Guilio mengirimkan orangnya menjemputmu."
"Ohh benarkah, apa Guilio sangat kaya di sini. Sampai bisa mengirimkan orang menjemputku." Sekarang aku yakin wanita ini memang penipu dari kata yang keluar dari mulutnya.
"Aku belum selesai Nona. Tapi jika kau ditemukan menipu soal cucu Nyonya Benetti, hmm...aku bisa katakan mungkin kau tak akan pulang lagi ke Milan." Mukanya langsung berubah, dia tertegun dan memucat. Astaga wanita-wanita Milan ini seberani inikah menipu orang.
"Apa maksudmu, aku tak akan kembali ke Milan..."
"Apa maksudmu..."
"Dia bisa ... menghilangkan nyawa orang lain dengan mudah? Apa dia...mafioso?"
"Nona ini Sicily..." Aku mengikik kecil. Aku langsung memperhatikan wajah pucat piasnya. "Tapi jika kau benar-benar mengandung cucunya tentu nyonya akan memberikan pertimbangannya. Jangan kuatir, akan kutelepon Ibunya untukmu..."
"Ehhh...Nona-nona, dia menghentikanku langsung." Aku melihat padanya. Astaga wanita ini memang penipu. "Kurasa aku lebih baik bicara pada Guilio dulu."
"Tak apa sesama wanita, aku sangat senang membantumu. Nyonya Benetti juga pasti senang mendapatkan cucu yang diidam-idamkannya. Duduk saja, ...sebentar ...Nyonya Benetti, mana dia." Aku ingin melihatnya ketakutan aku tetap berpura-pura akan menelepon.
"Nona-nona, tolong tak usah. Lebih baik aku bicara pada Guilio dulu. Aku berubah pikiran." Sekarang dia membuatku memicingkan mata.
"Kau wanita penipu bukan, kau pikir aku berjalan dari ujung lahan sana tidak melelahkan hanya mendengarkan bualanmu. Kau akan kubawa ke Nyonya Benetti, berani-beraninya kau memanfaatkanku dan menipu Guilio." Aku marah-marah sekarang. Antonio langsung menghalangi didepan pintu
"Antonio, tangkap dia, jangan biarkan dia kabur. Aku akan mengirimnya ke neraka sekarang." Dia ingin mendapatkan uang dari Guilio, dan membuatku berjalan kaki dari ujung sana. Akan kuhajar dia, nampaknya dia cukup punya banyak uang.
"Nona kita bisa bicarakan ini. Kumohon...." Dia memegang tanganku
"Baiklah, €5000, untuk membuatku berjalan dari ujung sana cuma untuk mendengarkan bualanmu. Dan menganti nyawamu."
"Kau pemeras..."
"Ohhh baiklah, aku akan menelepon nyonya Benetti." Aku mencari nomor di ponselku lagi. Aku yakin dia akan membayarnya.
"Aku hanya punya €2000, ..." Dia memberiku 20 lembar €100.
"Ohhh aku menerima kartu kredit sayang." Aku langsung tersenyum lebar. Dia pucat ketika aku mengambil kartu kredit di dompetnya. "Aku akan berikan kau notanya." Aku meringis lebar, tak kusangka aku bisa mendapatkan €5000 sore ini dari wanita penipu Guilio.
"Ini kartumu, senang bisa membantumu."
"Kau benar-benar..." Dia kelihatan marah tapi tak ada yang bisa dilakukannya.
"Pergilah, selamat datang di Sicily Alida, kau datang ke tempat yang tepat." Aku tertawa puas sekarang melihat dia pergi sambil mukanya seperti menahan tangis.
"Kau akan membayar ini Nona."
"Astaga gadis penipu, jangan sampai aku menelepon Nyonya Benetti." Dia masuk mobilnya dan pergi dengan menekan gas.
"Antonio, uang tutup mulut. Terima kasih sudah membantu. Jangan bilang ke siapa-siapa." Aku memberikan €300 padanya.
"Sangat mengerti Nona." Antonio pergi dengan senyum lebar.
Aku menelepon Guilio kemudian.
"Bagaimana, kau sudah katakan padanya? Bagaimana tanggapannya..."
"Sesuai dengan perkataanmu ternyata..." Aku menceritakan dengan lengkap semua detailnya sampai aku mendapatkan €5000 sore ini dengan cuma-cuma.
"Kau benar-benar jenius licik Monica!" Guilio tertawa keras dengan ceritaku.
"Aku ingin membalasnya, dia nampak tidak miskin. Kurang ajar sekali, dia membuatku berjalan pulang kerumah untuk mendengarkan bualannya. Kukerjai saja dia..."
"Bagus-bagus, kau memang jenius. Aku akui kau Sicilian sejati." Dia masih tertawa mendengar aku mengerjai gadis kurang ajar itu.
"Aku senang sekali melihat mukanya yang pucat. Itu lebih berharga dari €5000 itu."
"Aku memang mengacau. Entah kenapa gadis-gadis yang kukenal tidak ada yang benar, tidak ada yang tulus, atau aku tak pernah bisa menyukai mereka."
"Kau akan menemukannya nanti Guilio, kau masih muda. Kau beranggapan jika dunia seperti sudah mau kiamat. Bersabarlah..."
"Hmm... kau benar. Aku memang harus bersabar. Makanya aku tak mau pacaran dulu."
"Ya baiklah, jika ada yang begitu lagi bilang saya aku kakakmu, aku akan senang hati mengambil kartu kreditnya lagi." Dia tertawa.
"Baiklah, nikmati bonusmu." Sore itu berakhir dengan sangat indah.
Gadis-gadis penipu di Milan itu sangat berani. Tapi dia tidak tahu siapa yang mereka akan tipu.
Dasar amatir.