The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
NON POSSO VIVERE SENZA DI TE Part 54. Canary Island 5



“Lagipula orang seperti dia bukannya datang untuk memintamu kembali, dia datang untuk balas dendam padamu karena kau sudah menceraikannya.” Hmm terakhir aku  merasa begitu dia hanya ingin melecehkanku, dia kasar sekali. Aku bersyukur Bova tak tanggung-tanggung menghajarnya.


“Aku menyesal  perkawinanku berantakan. Aku hanya ingin menemukan orang seperti Ayah, sayang keluarga,  setia ke Mamma  sampai akhir.” Guilio diam melihatku.


“Kau akan menemukannya.”


“Doa yang sama juga untukmu...”


“Menurutmu aku bisa seperti Ayahmu?”


“Kau seperti Ayahku? Dari bagian mananya? Kau yakin...Ayahku tak punya pacar sejak umur  12 tahun  sepertimu. Ibu cinta pertamanya.” Aku menertawakan Guilio.


“Aku akan setia jika aku menikah.”


“Benarkah?” Aku meringis lebar, rasanya itu agak sulit diterima, menurut yang kulihat dia tak selurus itu. Setidaknya aku tak pernah tahu dia selurus itu. “Bagus untukmu Guilio, kau harus banyak berusaha.”Dia juga tahu aku tak mempercayainya. Kukatakan  itu dengan jempol teracung dan tertawa.


“Aku tahu kau selalu menganggapku jelek. Tapi akan kubuktikan soal itu, aku bersumpah bahkan demi Mamma, aku tidak menyentuh siapapun sampai sekarang.”


“Kenapa?”


“Karena aku juga ingin seperti Papa dan Mammaku. Lagipula aku juga ingin mencintai seseorang, dan bisa punya keluarga.”


“Ohh ini yang kau bilang kau mendapat pencerahan?”


“Bukan itu,tapi aku ingin kau  berpikir bahwa aku  juga bukan seseorang yang terlalu buruk.”


“Hei, aku tidak mengatakan kau  terlalu buruk, aku malah gembira kau punya pikiran seperti itu.” Apa yang perlu dibuktikannya padaku, jika dia ingin berubah lebih baik itu tentu saja bagus tapi dia tidak perlu  membuktikan apapun padaku. Yang perlu dia buktikan adalah kepada calon  istrinya dimasa  depan.


“Aku sebenarnya...” Dia belum selesai bicara aku memotongnya karena Mama mengirim pesan dia sudah kelaparan dan sudah di restoran. Aku memang juga sudah kelaparan dan terbayang menu seafood di restoran.


“Guilio, aku lapar. Ayo kita kembali.” Aku menarik tangannya.” Orang tua kita sudah di restoran, kita cuma makan siang di pesawat hari ini.”


“Ohh...” Dia terpaksa beranjak. Nampaknya dia masih mau berada di pinggir pantai itu lebih lama lagi tapi aku sudah kelaparan. “Baiklah...” Dia mengikuti tarikan tanganku kemudian.



Orangtua kami sudah duduk di restoran menunggu kami. Mereka melambai pada kami yang datang, tak terasa mungkin sudah dua jam lebih kami berjalan di pantai, waktu tak terasa.


“Duduklah, kami  sudah memesan untuk semua...”


“Guilio, apa...” Pertanyaan Zia mengantung.


“Mom...” Guilio menggeleng, semua orang melihatnya dan  kelihatan mengerti  maksudnya lalu beralih. Aku memandang mereka dengan binggung, ada apa dengan pertanyaan yang tidak dimengerti oleh hanya aku seseorang  disini.


“Kenapa kalian? Zia tadi  bertanya apa?”


“Ohh tidak aku  bertanya apa... apa  dia sudah menelepon untuk memastikan jadwal perjalanan kita besok.”


“Benarkah?”


“Jadi belum dipastikan, Guilio tadi menggeleng.” Aku rasa Zia dan semua orang disini mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui.


“Ohh maksudnya itu sudah dipastikan Zia tidak usah khawatir.” Aku  melihat ke Guilio untuk meminta penjelasan.


“Iya besok kita akan melihat paus dan  lumba-lumba.” Guilio menjawabku. “Ada hiu disana, jangan melemparku ke sana. Aku masih ingin hidup.”


“Ahh, Guilio, kau memang perlu dilempar apa gunanya kau hidup. Lama sekali...” Sekarang Ayahnya Guilio  yang membalasnya dengan  sengit.


“Pappaaaa....” Guilio memprotes Ayahnya. Zia dan Mamma tertawa. Mereka berbisik-bisik satu sama  lain.


“Zio, apa yang  lama?” Zio tak menjawabku  dan melihat Guilio, mereka bertatapan sejenak.


“Maksud Zio, menunggu dia memastikan jadwalnya lama sekali.”


“Ohhh, ya sudah, bagaimana memastikannya aku urus saja. Guilio mana teleponnya. Kita bisa tanya reception mungkin soal jadwal  kapalnya, bukannya disini ada dermaga?”


“Tidak usah, dia yang harus  mengurus ini. Sudahlah aku lapar, mana makanan... Apa mereka memasak paus sehingga lama sekali. Ini gara-gara kau tidak becus! Kenapa kau pengecut sekali.” Dia menuding Guilio dengan garpu. Zia dan Mamma sekarang terpingkal-pingkal. Guilio menaruh tangannya dikeningnya pusing dengan perkataan Ayahnya. Dan aku tidak paham sama sekali kenapa masalah  memastikan jadwal melihat paus saja bisa  menyebabkan Guilio dituding dengan garpu.


“Kenapa Guilio pengecut Zio?”


“Monica, ...Dia melewatkan paus.”


“Dimana? Dia sudah pernah melihat paus sebelumnya.”


“Ohhh dia sering melewatkannya, yang menarik perhatiannya cuma ubur-ubur penyengat.” Zia dan Mamma tertawa sampai keluar air mata.  Guilio diam dan meringis saja.


“Ubur-ubur penyengat?” Aku tak mengerti apa yang  Zio bicarakan. “Aku memang mau melemparkannya ke ubur-ubur penyengat Zio.” Entah drama apa yang sedang terjadi  hanya aku yang tidak paham. Aku tak yakin ada yang mau menjelaskan ini padaku. Jadi ku ikuti saja pembicaraan ini.


“Ohh lakukan, lakukan saja, lempar saja dia  ke ubur-ubur. Kau benar jika melakukan itu, aku tak akan membelanya.”


“Lugi, sudahlah. Kau ini merusak suasana, biarkan saja Guilio, dia bisa mengurusnya....”


“Aku ingin makan paus saja, apa saja selain ubur-ubur.” Zio membalas Mamma, Zia dan Mamma tak bisa tak  tertawa lagi.


“Sebenarnya apa yang mereka bicarakan?” Aku bertanya ke Guilio.


“Memancing paus.” Guilio menjawabku pendek.


“Bagaimana bisa memancing paus?”


“Dengan harpon.” Tampaknya Guilio pun tak berniat menjelaskan apapun.


Aku menghela napas, semenit  kemudian makanan datang untuk gerombolan paus yang kelaparan. Nanti akan kukorek ke Mamma.