
“Lagipula orang seperti dia bukannya datang untuk memintamu kembali, dia datang untuk balas dendam padamu karena kau sudah menceraikannya.” Hmm terakhir aku merasa begitu dia hanya ingin melecehkanku, dia kasar sekali. Aku bersyukur Bova tak tanggung-tanggung menghajarnya.
“Aku menyesal perkawinanku berantakan. Aku hanya ingin menemukan orang seperti Ayah, sayang keluarga, setia ke Mamma sampai akhir.” Guilio diam melihatku.
“Kau akan menemukannya.”
“Doa yang sama juga untukmu...”
“Menurutmu aku bisa seperti Ayahmu?”
“Kau seperti Ayahku? Dari bagian mananya? Kau yakin...Ayahku tak punya pacar sejak umur 12 tahun sepertimu. Ibu cinta pertamanya.” Aku menertawakan Guilio.
“Aku akan setia jika aku menikah.”
“Benarkah?” Aku meringis lebar, rasanya itu agak sulit diterima, menurut yang kulihat dia tak selurus itu. Setidaknya aku tak pernah tahu dia selurus itu. “Bagus untukmu Guilio, kau harus banyak berusaha.”Dia juga tahu aku tak mempercayainya. Kukatakan itu dengan jempol teracung dan tertawa.
“Aku tahu kau selalu menganggapku jelek. Tapi akan kubuktikan soal itu, aku bersumpah bahkan demi Mamma, aku tidak menyentuh siapapun sampai sekarang.”
“Kenapa?”
“Karena aku juga ingin seperti Papa dan Mammaku. Lagipula aku juga ingin mencintai seseorang, dan bisa punya keluarga.”
“Ohh ini yang kau bilang kau mendapat pencerahan?”
“Bukan itu,tapi aku ingin kau berpikir bahwa aku juga bukan seseorang yang terlalu buruk.”
“Hei, aku tidak mengatakan kau terlalu buruk, aku malah gembira kau punya pikiran seperti itu.” Apa yang perlu dibuktikannya padaku, jika dia ingin berubah lebih baik itu tentu saja bagus tapi dia tidak perlu membuktikan apapun padaku. Yang perlu dia buktikan adalah kepada calon istrinya dimasa depan.
“Aku sebenarnya...” Dia belum selesai bicara aku memotongnya karena Mama mengirim pesan dia sudah kelaparan dan sudah di restoran. Aku memang juga sudah kelaparan dan terbayang menu seafood di restoran.
“Guilio, aku lapar. Ayo kita kembali.” Aku menarik tangannya.” Orang tua kita sudah di restoran, kita cuma makan siang di pesawat hari ini.”
“Ohh...” Dia terpaksa beranjak. Nampaknya dia masih mau berada di pinggir pantai itu lebih lama lagi tapi aku sudah kelaparan. “Baiklah...” Dia mengikuti tarikan tanganku kemudian.
Orangtua kami sudah duduk di restoran menunggu kami. Mereka melambai pada kami yang datang, tak terasa mungkin sudah dua jam lebih kami berjalan di pantai, waktu tak terasa.
“Duduklah, kami sudah memesan untuk semua...”
“Guilio, apa...” Pertanyaan Zia mengantung.
“Mom...” Guilio menggeleng, semua orang melihatnya dan kelihatan mengerti maksudnya lalu beralih. Aku memandang mereka dengan binggung, ada apa dengan pertanyaan yang tidak dimengerti oleh hanya aku seseorang disini.
“Kenapa kalian? Zia tadi bertanya apa?”
“Ohh tidak aku bertanya apa... apa dia sudah menelepon untuk memastikan jadwal perjalanan kita besok.”
“Benarkah?”
“Jadi belum dipastikan, Guilio tadi menggeleng.” Aku rasa Zia dan semua orang disini mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui.
“Ohh maksudnya itu sudah dipastikan Zia tidak usah khawatir.” Aku melihat ke Guilio untuk meminta penjelasan.
“Iya besok kita akan melihat paus dan lumba-lumba.” Guilio menjawabku. “Ada hiu disana, jangan melemparku ke sana. Aku masih ingin hidup.”
“Ahh, Guilio, kau memang perlu dilempar apa gunanya kau hidup. Lama sekali...” Sekarang Ayahnya Guilio yang membalasnya dengan sengit.
“Pappaaaa....” Guilio memprotes Ayahnya. Zia dan Mamma tertawa. Mereka berbisik-bisik satu sama lain.
“Zio, apa yang lama?” Zio tak menjawabku dan melihat Guilio, mereka bertatapan sejenak.
“Maksud Zio, menunggu dia memastikan jadwalnya lama sekali.”
“Ohhh, ya sudah, bagaimana memastikannya aku urus saja. Guilio mana teleponnya. Kita bisa tanya reception mungkin soal jadwal kapalnya, bukannya disini ada dermaga?”
“Tidak usah, dia yang harus mengurus ini. Sudahlah aku lapar, mana makanan... Apa mereka memasak paus sehingga lama sekali. Ini gara-gara kau tidak becus! Kenapa kau pengecut sekali.” Dia menuding Guilio dengan garpu. Zia dan Mamma sekarang terpingkal-pingkal. Guilio menaruh tangannya dikeningnya pusing dengan perkataan Ayahnya. Dan aku tidak paham sama sekali kenapa masalah memastikan jadwal melihat paus saja bisa menyebabkan Guilio dituding dengan garpu.
“Kenapa Guilio pengecut Zio?”
“Monica, ...Dia melewatkan paus.”
“Dimana? Dia sudah pernah melihat paus sebelumnya.”
“Ohhh dia sering melewatkannya, yang menarik perhatiannya cuma ubur-ubur penyengat.” Zia dan Mamma tertawa sampai keluar air mata. Guilio diam dan meringis saja.
“Ubur-ubur penyengat?” Aku tak mengerti apa yang Zio bicarakan. “Aku memang mau melemparkannya ke ubur-ubur penyengat Zio.” Entah drama apa yang sedang terjadi hanya aku yang tidak paham. Aku tak yakin ada yang mau menjelaskan ini padaku. Jadi ku ikuti saja pembicaraan ini.
“Ohh lakukan, lakukan saja, lempar saja dia ke ubur-ubur. Kau benar jika melakukan itu, aku tak akan membelanya.”
“Lugi, sudahlah. Kau ini merusak suasana, biarkan saja Guilio, dia bisa mengurusnya....”
“Aku ingin makan paus saja, apa saja selain ubur-ubur.” Zio membalas Mamma, Zia dan Mamma tak bisa tak tertawa lagi.
“Sebenarnya apa yang mereka bicarakan?” Aku bertanya ke Guilio.
“Memancing paus.” Guilio menjawabku pendek.
“Bagaimana bisa memancing paus?”
“Dengan harpon.” Tampaknya Guilio pun tak berniat menjelaskan apapun.
Aku menghela napas, semenit kemudian makanan datang untuk gerombolan paus yang kelaparan. Nanti akan kukorek ke Mamma.