
Karena ada yg nanya kata danna
Danna \= orang yang membiayai seorang geisha, istilahnya ngasih bulanan, sponsor, kalo jaman dulu danna ini perjanjiannya di teken di ochaya(rumah minum teh) ada dealnya, dia harus bayar bagian ke okiya( tempat geisha tinggal) dan ada pembayaran tahunan juga.
Sebelumnya harus ngasih kimono sebagai tanda niat baik sebelum ngomong ke Geishanya.
Danna ini jadinya bisa ketemu Geishanya di luar ochaya. Maksudnya seperti suaminya, tapi kalo jaman dulu yang punya danna geisha itu kaya punya simpenan artis istilahnya jadi dibanggain kalo lagi kumpul ke temen-temennya. Dan kalo Geisha terkenal itu bener-bener cuma punya satu atau dua danna sepanjang hidupnya. Jadi dia menjaga eksklusitas dirinya cuma untuk orang-orang yang mampu dan terpilih saja.
Entah sekarang masih ada apa engga. Karena sebenarnya Geisha itu gak boleh cerita soal danna dan penghasilannya ke orang luar. Jadi yang tahu sangat terbatas antara mereka saja.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Back to the story......
Jika aku bisa melakukannya akan benar-benar kulempar dia.
"Kau kesini untuk mengajakku bertengkar?" Dia tak mau aku bersikap sopan, baik aku akan bersikap seenaknya!
"Tepat!" Dia tertawa dan tersenyum padaku. Apa dia punya kelainan? Dia bilang menyukaiku. Tapi yang dilakukannya adalah datang dan mengajakku bertengkar.
"Kau menyebalkan." Sekarang kukatakan yang kumau. Dia melihatku tapi malah tersenyum.
"Itu lebih baik. Setidaknya kau mengatakan sesuatu yang kau inginkan. Kau mau minum?"
"Tidak."
"Kau bilang aku boleh mengatakan apapun, jadi apa yang kau inginkan?!" Sekarang aku kesal, dia kesini benar-benar mengajakku bertengkar? Dia tertawa kecil sekarang.
"Kau sudah mau pulang? Sana pulanglah." Tiba-tiba dia menyuruhku pulang, apa dia tidak tahu biarpun aku cuma bertemu lima menit charge-ku tetap 1 jam. Kenapa sebenarnya dia kesini. Untuk mengetesku? Apa aku berani pergi dari depannya.
Aku duduk diam disana tidak bergerak.
"Kenapa kau tidak kembali, aku tak menyuruhmu tinggal. Aku serius dengan perkataanku." Melihat kebaikannya. Paman Tan menyuruh melihatnya begitu. Jadi dia hanya datang disini lima menit, lalu membiarkanku pergi? Ini disebut kebaikan?
"Kapan kau sampai? Kau sudah makan Hisao-san?" Aku berusaha menenangkan diriku. Baiklah, anggap saja memintaku menemuinya hanya lima menit adalah kebaikan.
Dia tidak menjawab lama hanya melihatku.
"Aku sudah makan, sana pulanglah."
Dia kesini hanya menyapaku dan menyuruhku pulang. Sebenarnya kenapa dia. Aku berusaha membuat semuanya tanpa perselisihan kemarin, aku menuruti semua perkataannya, tidak membantahnya. Sekarang dia datang ke Gion tengah malam dari Tokyo, melihatku sebentar dan hanya menyuruhku pulang. Dia ingin melihatku merasa bersalah atau bagaimana?
"Jika Hisao-san pulang, saya akan pulang." Dia diam lagi mendengar perkataanku. Menghela napas kemudian dan duduk lama didepanku tanpa bicara apapun.
"Hisao-san tak bilang jika ingin ke Kyoto semalam?" Aku mencoba mencairkan suasana. Bagaimanapun dia sudah datang kesini, jika aku mendiamkannya itu akan sangat tidak sopan.
Tadi pagi aku berangkat jam 6 ke stasiun kereta. Pagi sekali, aku sudah bilang padanya malamnya dengan alasan aku punya kelas mengajar tari jam 11. Itu cuma alasan agar aku tak bertemu dengannya.
"Aku ada pekerjaan di Kyoto. Pulanglah kau pasti lelah." Suaranya melembut sekarang. Aku menatapnya sesaat mata kami bertemu. Tak ada kemarahan disana kurasa sekarang.