
"Bukankah dia akan datang juga bersama tunangannya."
"Aku tak tahu. Sepertinya begitu. Kemarin Nathan minta aku mencari info tentang seseorang, pria yang punya hubungan dengan sebuah kelompok di Jepang. Aku tak tahu kenapa dia menyelidikinya."
"Ohh ya, aneh sekali. Apa dia punya sangkutan bisnis di Jepang."
"Hanya beberapa investasi kecil kukira. Yang diselidikinya adalah seorang narapidana kasus pencucian uang. Lagipula pria itu dijatuhi hukuman penjara 20 tahun dua tahun yang lalu. Entah untuk apa dia membutuhkan informasi itu. Dia bertanya apa dia bisa bertemu narapidana itu..."
"Bertemu narapidana. Apa yang dikakukannya sampai perlu bertemu seorang narapidana? Hmm sudahlah yang penting dia datang besok..."
"Siapa Nathan?" Aku bertanya kepada Setsuko.
"Seorang teman dari Amerika, dia tampan..." Setsuko berbisik padaku. "Kau tahu julukan mereka bertiga di lingkungan dunia yakuza, mafioso, gangster dan triad?"
"Tidak,..."
"Three Crown Prince, ada satu lagi gangster Hongkong yang menjadi teman mereka. Semuanya punya potensi casanova pematah hati wanita."
"Ohh benarkah..." Kau akan lihat jika mereka berkumpul nanti. Kurasa yang dari Hongkong juga akan datang. Aku berteman dekat dengan istrinya..."
"Begitukah..."
Aku menjadi agak takjub dengan pertemanan aneh ini. Tukang berkelahi tersohor dan Casanova tampan dari muda membentuk sebuah pertemanan berbahaya.
Kami kembali agak malam setelah makan malam itu.
"Teman-temanmu itu, apa mereka gangster, yakuza dan triad?" Guilio tersenyum mendengar pertanyaanku.
"Hmm... ada hubungannya, kami kebetulan bertemu saja dan akhirnya mengetahui latar belakang keluarga masing-masing. Sejak itu kami menjadi sahabat dan saudara. Sejak umur kami belasan."
"Sepertinya mengerikan..." Dia melihatku.
"Apa aku mengerikan, mau membullyku dari high school. Apa aku terlihat mengerikan bagimu?" Aku tertawa.
"Cara mio, hanya kau yang bisa berkata begitu padaku. Kita memang cocok..."
"Balena, mulutmu itu memang manis. Kau sedang berusaha heh?" Aku tahu dia sedang berusaha merayuku sekarang, napasnya yang tak sabar dan bibirnya yang menjalar kemana-mana itu punya tujuan.
"Sayang, kita baru bertemu lagi setelah seminggu berpisah, ruangan tatami ini se*xy dan kimono sakuramu se*xy..."
"Ini namanya yukata..." Yukata itu punya ikatan yang sangat mudah dilonggarkan. Dan tangan begitu terlatih melepas ikatan.
"Balena, kapan kau melepaskan ikatannya. Kau benar-benar profesional ya." Dan tangannya sudah menyentuh kulitku.
"Aku merindukanmu Cara, ... Tak sabar untuk bisa memindahkan kantor ke Catania. Aku bisa pulang dan menemuimu tiap hari."
"Kau memindahkan kantor?"
"Tentu saja, aku akan memindahkannya. Kita akan segera menjadi keluarga, ... Tapi perlu proses tentu saja, aku tak bisa langsung memindahkannya, juga tak bisa meninggalkannya begitu saja, tapi aku akan banyak mempersingkat waktu di Milan. Kau senang sayang..." Dalam waktu singkat dia sudah menguasaiku.
"Hmm... aku senang kau akhirnya kembali. Apa aku tak akan membuatmu bosan. Bukankah kau senang bertualang. Dan gadis-gadis itu jatuh di kakimu begitu saja." Matanya memandangku, napasnya mengambil napasku, tubuhnya menguasaiku dengan sempurna.
"Aku sudah mengalami banyak pertualangan... tapi tak pernah jatuh ke siapapun, kau satu-satunya yang bisa membuatku jatuh, sejak dulu aku selalu mematuhimu sebenarnya, kau seenaknya tapi aku selalu merasa kau adalah orang yang tak boleh lepas dariku, bahkan saat kita berpisah saat kuliah, aku selalu pulang dan mencarimu... Aku baru sadar itu belakangan setelah tercerahkan. Aku tak akan kemana-mana lagi." Aku tertawa kecil.
"Itu manis balena." Gerakan pelannya begitu berarti, desakan manisnya membuatku memeluknya erat.
"Hmm... aku tak akan melihat ubur-ubur penyengat lagi sayang, aku balenamu." Dia tak sabar lagi, aku juga tak sabar lagi...Dia meledak begitu saja mengikuti iramaku, saat aku mengerang tertahan di puncak dorongan tubuhnya.
Malam itu begitu manis. Teman kami akan menikah besok. Dan kami akan menikah tak kama lagi, seperti sebuah gerbang baru dibuka. Tapi kami telah berjalan bersama selama dua puluh tahun. Itu terasa singkat ...
Saatnya menapaki dua puluh tahun ke dua.