The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
THE GEISHA AND MOMIJI DREAM Part 61. Just Hold My Hand 5



Aku diam saja lebih baik. Sekarang aku nampaknya terlalu sopan. Dia sudah terbiasa dengan gadis yang blak-blakan, tahu cara mengambil hati pria, sedangkan aku sama sekali tak bisa merayu pria dengan maksud tertentu.


"Setsuko, ... sebenarnya aku hanya ingin melihatmu saat aku datang malam itu. Tapi kemudian aku sadar kau harusnya sudah pulang istirahat, aku sadar aku menggangumu, makanya aku menyuruhmu pulang..."


Jantungku sekarang berdetak terlalu kencang memdengar pengakuannya. Dan perasaan berbunga-bunga ini membuatku merasa bodoh, mendengar seseorang mengatakan dia datang karena hanya ingin melihatku begitu membuatku mabuk karena bahagia.


Diam tak ada yang bicara. Bagaimana aku harus membalasnya. Aku benar-benar tak tahu, apa aku harus membalas perkataannya. Aku juga tak tahu...


Jika aku mengatakan terima kasih dia akan mengatakan aku harusnya mencari cara berterima kasih yang lain. Serba salah lagi.


Dan aku diselamatkan bertepatan dengan kami tiba di restoran yang kami tuju akhirnya. Sebuah Hotel, Grand Hyatt di Nishibashi-Shinjuku, aku harus turun. Penjaga di depan lobby membuka pintu untukku dan dia tiba disampingku memberikan lengannya untuk kugandeng seperti biasa.


Tapi kali ini aku melakukan hal yang lain, aku menyelipkan jariku mengenggam telapak tangannya. Anggap saja ini adalah caraku mengatakan terima kasih untuk orang yang bersedia membayar harga melihatku lima menit dan membiarkanku pulang setelahnya. Seperti kata Mio, dia ternyata manis dibalik sikap menyebalkannya itu.


Jantungku sekarang berdebar kencang dan wajahku panas saat dia menyadari aku mengenggam tangannya. Dia tersenyum kecil dan menggengam balik tanganku. Kau tahu bagaimana rasanya merinding seluruh tubuhmu. Itu membuatmu menundukkan wajahmu menyembunyikan wajah panasmu dan mengulum senyum malumu.


"Terima kasih." Tiba-tiba dia mengatakan hal kecil yang membuatku melihatnya. Ternyata dia juga bisa mengatakan terima kasih.


"Kau berterima kasih untuk apa?" Aku tak bisa menahan diriku untuk bertanya.


"Untuk menggengam tanganku." Dan aku tersenyum padanya sekarang. Entah kenapa dia tertawa kecil kemudian, kurasa menertawakan sikapku yang sama sekali tidak berani melakukan apapun atau terlalu bodoh untuk mengerti apa yang dilakukannya.


"Kau membawaku ke mana?" Aku bertanya ketika lift kami berjalan keatas. Meredakan debaran jantungku sendiri dan takut entah bagaimana dia tahu betapa berdebarnya aku.


"Candle light dinner above the star."


"Kenapa disebut diatas bintang? Bukannya dibawah?" Makan malam romantis dibawah taburan bintang, ini pengalaman pertama. Dan aku belum pernah ke restoran hotel ini.


"Kau akan tahu setelah melihatnya."



Dan akhirnya aku tahu apa yang dikatakannya. Pemandangan spektakuler Tokyo dan lampu-lampunya terhampar dibawah mataku.


Seperti taburan bintang dibawah kakiku. Aku terpesona begitu saja melihat cahaya yang berbaur seperti kelip bintang itu.


"Kau suka?" Hisao memperhatikan ekspresiku dan berdiri dibelakangku saat aku berdiri disamping jendela besar itu begitu saja untuk melihat lebih jelas lagi. Belum banyak tamu yang datang.


"Ini ... indah sekali. Terima kasih sudah mengajakku kesini." Aku tak bisa melepaskan pandangan mataku saat melihat pemandangan yang menyihir itu.


"Apapun untukmu." Aku melihat ke matanya. Kilauan cahaya yang terpantul di pupil matanya mengatakan dia bersungguh-sungguh dan pipiku memanas begitu saja, kali ini aku bersyukur cahaya keemasan tempat ini membuatku bisa menyembunyikan rona wajahku.