
Nathan tiba di LA dua minggu kemudian, kukira dia kembali dari Jepang. Apa dia meneliti latar belakangku juga?
Kurasa aku sudah mengakuinya tak ada yang perlu diteliti lagi, aku hanya agen federal dalam penyamaran dibawah kepentingan seseorang dalam sistem pemerintahan yang tertarik dengan besarnya jumlah uang yang tercatat di peredaran.
Tapi sampai sekarang aku belum mendapat kepastian mengenai bagaimana penawaranku untuk berpindah kubu.
Ditambah sekarang aku akan diawasi. Apa mereka berpikir selama setahun ini aku memyembunyikan sesuatu karena terlihat aku dekat dengan lingkaran dalam tapi tak memiliki apapun. Walaupun assiten yang kuminta masih diproses, aku mulai terganggu dengan pesan perintah dari Tyson yang terus menanyakan proses penerimaan assisten baruku.
"Bersabarlah, aku sudah memprosesnya ke personalia, kau pikir aku bisa memasukkan kandidat begitu saja disini tanpa melewati personalia. Aku sudah membuat permintaan begitu kau meminta." Dia meneleponku sendiri di akhir minggu.
"Jangan terlalu lama, ini untuk bantuanmu juga." Dia berusaha bersikap lembut sekarang, tapi aku sudah muak padanya. Kau pikir aku tak tahu. intensimu.
Tapi aku sekarang berpikir, atasanku yang dulu tak begitu menekanku dengan kasus ini. Pertama aku ditempatkan di Garcia Int, tujuanku jelas untuk memantau apakah perusahaan ini merupakan perantara aliran dana siluman. Dan saat aku ternyata tidak menemukan apa-apa dia tidak memaksaku walau tetap menaruhku disini.
Aku curiga, atasan sebenarnya yang berada di kasus ini tidak puas dengan pekerjaan anak buahnya dan mengantinya ke yang lebih baik. Yang bisa memberikan janji dan menekanku untuk mendapatkan sesuatu.
Aku akan mencari tahu. Aku berbasa basi chatting dengan salah seolah assiten bossku.
"Kim, kau tahu kenapa aku tiba-tiba berpindah unit, kenapa Sir Reed melepas kasusku."
"Aku tak tahu kisah lengkapnya Kate, tapi beberapa hari yang lalu unit kami menerima kabar pemindahan dari unit divisi. Sir Reed tak cerita apapun, tapi sekarang temanmu itu jadi sombong karena di prioritaskan kepala divisi."
"Ohhh begitu ternyata. Nampaknya New York agak panas sekarang." Aku tertawa sedikit.
"Semua orang muak dengan temanmu itu. Tapi kau pasti mendapat kemudahan karena temannya." Kim menyindirku, saat yang tepat untuk membuat koalisi.
"Sayangnya tak begitu, dia memerintahku seperti budaknya, menekanku agar menyelesaikan misiku secepatnya. Aku muak padanya jangan kau katakan lagi... Aku tak menyangka dia memperlakukanku seperti itu..." Aku melebih-lebihkan semua perkataan Tyson sekarang, membuatnya menjadi orang sombong yang jahat, akan membuat Kim menjadi temanku sekarang.
"Benarkah dia bersikap seperti itu, astaga benar-benar tak disangka."
"Kau tahu siapa pacarnya, bukankah dia punya pacar baru...."
"Pacar baru, maksudmu Andrea, kurasa sudah hampir setengah tahun mereka pacaran. Tapi setengah tahun ini mungkin kau di LA jadi kau tak tahu."
"Ohhh Andrea teman satu unitku dulu." Ternyata dia pacaran dengan orang kantor juga. Sekarang ini pacarnya itu berlagak seperti Nyonya boss disini, bisa kau bayangkan.
"Aku tak mau membayangkannya..." Aku tertawa dan mendengar berita-berita gosip lain di kantor.
"Kurasa dia menekanmu karena dia berambisi menjadi pimpinan divisi, dia kepala unit termuda yang pernah diangkat, baru berumur 34 . Semua kepala unit kerja rata-rata umur 40. Entah siapa yang dia jilat disini."
"Mungkin. Nampaknya dia kesayangan kepala divisi."
"Ayah Tyson itu Ayahnya mencalonkan diri menjadi mayor (walikota) New York, makanya kariernya naik cepat. Keluarga orang kaya." Ohhh begitu rupanya, tak heran kami hanya berteman. Siapa aku? Kami memang tak selevel.
"Kau tahu Andrea itu adalah salah satu keponakan orang yang merupakan calon pasangan walikotanya."
"Ahhh ternyata begitu, ternyata percintaan level tinggi." Aku tertawa kecil sekarang. Menyimpan semua alur ini dalam ingatanku. Mengatakan pada diri sendiri
Aku menemui Nathan kemudian di rumah barunya di Serra Retreat, di Malibu Creek. John dan Howard yang melihatku menyapaku duluan.
"Senang melihat kalian lagi."
"Tuan Nathan di ruang kerja Nona, dia bilang masuk saja." Aku langsung ke ruangan kerja Nathan kemudian, dia masih memakai kemeja kerjanya.
"Hai..." Dia tersenyum padaku, kadang melihat senyumnya bisa membuatmu merasa lebih baik kurasa. Aku lebih merasa nyaman saat dia menolakku kemarin. Dan sekarang saat dia bersikap biasa begini aku jadi membayangkan berada di pelukannya lagi. Tapi siapa aku, dia dan Tyson adalah orang-orang yang levelnya tak bisa kujangkau.
"Bagaimana kabarku...."
"Hmm, aku akan diawasi oleh ketua tim baru. Tyson, dia bahkan mengirimkan orang untuk masuk mengawasi pekerjaanku. Dia baru naik menjadi kepala unit. Kurasa yang berada di belakangnya adalah kepala divisi kami. Katanya dia jadi kepala unit termuda sekarang. Tidak mengherankan karena Ayahnya adalah calon Mayor New York."
"Ohhh benarkah. Calon Walikota Newyork, ayahnya, Tyson ... Callaway, nama keluarganya? Berarti Peter Callaway?!"
"Benar sekali..."
"Ternyata begitu...Hmm. Pantas saja. Kemarin aku binggung mencari hubungannya sekarang aku tahu."
"Hubungan apa?"
"Kenapa dia menargetkanku. Sekarang jelas darimana datangnya semua ini. Aku akan bicara pada boss dulu." Jadi ini adalah masalah dua kubu yang saling bertarung di panggung politik, satu memegang bidak hitam, satunya memegang bidak putih, satu sama lain saling menyerang dalam senyap. Walaupun aku tak tahu apa peran Nathan tapi dia pasti memegang salah satu kubu. Dan perannya tak main-main, jika dia merekomendasikanku aku akan diperhatikan. Dan nampaknya aku ada di pihak yang benar.
Dia melihat padaku. "Bagaimana lukamu? Sudah baik, masih terasa sakit?" Aku senang dia bertanya.
"Aku baik-baik saja, terima kasih."
"Mau makan malam." Nathan mengajakku makan malam?
"Ehmm...boleh. Tentu saja." Dia mungkin belum menemukan teman kencan lagi setelah Amanda putus dengannya. Atau mungkin dia hanya terlalu sibuk.
Dia tersenyum saat aku menyetujui ajakan makan malamnya.
"Suka makanan Jepang?"
"Boleh, bukankah kau baru kembali dari Jepang? Kemarin John bilang kau akan ke Tokyo."
"Iya, ada pernikahan teman disana." Pernikahan itu terdengar indah. Hmm... entahlah, romansa yang diimpikan banyak gadis, tapi aku tak melihat pernikahan terlalu romantis.
"Aku sangat suka Jepang, tapi aku belum punya kesempatan pergi kesana."
"Dalam interval beberapa bulan sekali aku biasa ke Jepang atau Hongkong, kau bisa ikut jika mau." Kenapa dia menawariku ikut? Apa aku seberharga itu? Aku hanya bagian dari sistem kerjanya... Atau ini berarti dia hanya menawarkanku sebagai teman kencannya. Aku lelah dengan posisi teman.
"Terima kasih. Jangan mengajakku, ajaklah kekasihmu kesana." Aku tersenyum padanya, tidak berharap apapun. Nanti aku akan sakit hati seperti aku menganggap pertemananku dengan Tyson Callaway terlalu serius.
"Tak boleh mengajakmu?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Hmm... Nathan, ayolah jangan menggodaku. Kau harusnya mengajak seorang kekasih, bukan temanmu. Aku berterima kasih kau sudah menganggapmu teman, kau harusnya punya kekasih lagi seperti Amanda yang serius denganmu. Itu saranku sebagai teman. Aku belum bisa mendapatkan jawaban bossmu...?" Aku sebenenarnya tak tahu apa maksudnya mengajakku ke Jepang, apa dia hanya ingin memanfaatkanku sebagai teman? Atau dia ingin menjaminku sebagai sugar babynya yang pintar? Tampaknya definisi sugar baby yang dia sukai berbeda dari yang lain.
Aku menganti topik pembicaraan sekarang.
"Jika tidak mendapatkan jawaban, resign saja dari FBI dan jadi kepala auditor di tempatku."
Mundur dari FBI dan menjadi kepala auditor, mungkin tambahannya menjadi sugar baby Nathan. Aku berpikir semua yang sudah kulalui. Semua pekerjaanku yang hanya dimanfaatkan orang lain.
"Kau menyuruhku menyerah Nathan dan menjadi sugar babymu? Setelah semua yang ku usahakan untuk sampai kesini? Cuma menjadi umpan, bekerja untuk orang lain yang dipromosikan. Lalu dicap pengkhianat karena akhirnya bekerja di tempat yang harus kuselidiki? Tidak, aku tak bisa melakukan itu..."
"Itu akan membuat hidupmu tenang, kenapa kau memikirkan apa perkataan orang lain ..." Dia membelai rambutku? Berharap aku menerima pilihan mudah yang dia tawarkan. Aku tersenyum miris, Sayangklnya aku tidak pernah memilih jalan mudah...