
"Kau ingin dia datang lagi jika begitu?" Dia langsung mengambil kesimpulan karena itu mantan suamiku.
"Tidak, bukan begitu... Kau tidak akan membunuhnya bukan." Fabian tersenyum kecil.
"Aku akan memastikan dia masuk rumah sakit jika dia datang menganggumu lagi. Tapi jika kau ingin dia datang lagi maka tentu aku tak ikut campur. Itu urusan pribadimu." Mungkin ini cara paling baik agar dia tak datang lagi. Aku lelah dengan gangguannya belakangan ini. Semua telepon, pesan itu memuakkan apalagi ditambah dengan apa yang dilakukannya tadi.
"Baiklah..." Aku mengirimkan nomor kontak Raoul padanya. "Terima kasih Fabian."
"Raoul Accorsi. Hmmm... Baiklah. Ayo makan aku lapar. Dari tadi aku sudah membayangkan makanan disini.Menghajar orang membuatku tambah lapar." Sekarang dia membuatku tersenyum. Aku segera menyuruh pelayan mendahulukan pesanannya. "Lupakan makanan pembuka, aku mau pasta duluan." Rupanya dia benar-benar kelaparan.
"Kau kesini untuk mengurus tanahnya."
"Hmm... ada beberapa hal yang harus diluruskan. Tapi aku yakin bisa menutup kesepakatan segera. Lagipula aku harus bertemu dengan Guilio akhir minggu ini."
"Kau sudah mendapat kisaran harga tanahnya?"
"Sudah, kurasa itu sudah final." Dia menyebutkan nilainya padaku. Well, kurasa aku bisa menerima harga itu. Dia berhasil menekannya tak melambung terlalu jauh. Tak sabar ingin melihat Lucas tercengang ketika aku memasang nama baru di pertaniannya.
"Akhirnya, pastaku..." Aku tersenyum melihat dia makan dengan lahap.
"Restoran ini masih ramai walau tidak dalam akhir pekan."
"Restoran ini sudah jadi semacam agenda wisata jika kesini, banyak yang pasti kembali berkali-kali."
"Guilio akan membantuku, sudah ada yang akan menanganinya." Dia langsung mengangguk.
"Aku sepertinya akan tenang meninggalkan uangku disini. Aku percaya pada kerja kerasmu."
"Winery ini sebenarnya mimpi yang jadi kenyataan. Aku tadinya menargetkan antara 5-7 tahun aku bisa membangun wineryku sendiri. Tak kusangka keberuntunganku sangat bagus kali tahun ini. Ibuku senang sekali, tentu saja. Dia tadinya juga pesimis aku mendapatkan tanah Lucas tapi sekarang malah aku bisa menbangun winery... " Dia melihatku tersenyum senang. Wajahnya melembut dan aku tersenyum padanya. "Mille Grazie Fabian..."
"Astaga... Sepertinya aku merasa menjadi malaikat sekarang. Terima kasihmu ini sangat emosional. Aku akan selalu ingat aku punya restoran terenak di sini sekarang. Kau membuatku merasa langsung memiliki tempat ini." Dia tertawa lepas. Dan aku tersenyum padanya. "Biar kutebak, banyak pegawai-pegawaimu ini sudah bekerja lama pada keluarga kalian."
"Hmm...iya. Memang banyak yang seperti itu, membuat mereka bisa memiliki pertanian ini, ini juga tanah mereka. Dan dengan itu mereka bisa melakukan hal terbaik disini."
"Kau memang luar biasa." Pipiku memanas atas pujiannya.
"Tapi tenang saja, soal tanah Lucas hanya aku dan Ibu yang mengetahuinya. Kami tak ingin Lucas menyadarinya, kau tahu mereka memang agak iri pada kami ..." Aku banyak tertawa dalam makan malam ini.
"Kalau begitu aku akan mengundangnya dalam pembukaan restoran baru kita nanti. Ingatkan aku tak melupakan undangannya..."
"Tentu saja itu harus, itu caranya show off dan membuat pertunjukan yang bagus..." Kami tertawa bersama.
"Aku tak sabar jika begitu." Gelas anggur berdenting diantara kami. Tadinya malam ini sepertinya akan kacau tapi sekarang seseorang membuatnya kembali menyenangkan.
Sekarang dia terlihat seperti penyelamatku. Dia menjadikan semuanya kembali pada tempatnya. Dan Raoul itu tak akan pernah berani kembali sekarang.