
“Kau bekerja di kantor Ayahmu juga?” Aku hanya pura-pura tertarik tentu saja.
“Yang terpenting adalah aku mengagumimu? Kita bisa jadi pasangan kekasih yang sepadan dan saling menguntungkan” Sekarang dia menyentuhkan jarinya yang berkuku panjang dan berwarna pink muda itu pada lenganku. Jari lentik dan kuku cantik miss Italy, berbeda dengan Eliza, kukunya seperti Ibuku dijaga tetap pendek, dia kadang masih bekerja di dapur sebagai executive chef, apalagi Ibu, dia suka berada di kebun juga. Aku tumbuh besar di keluarga hangat yang wanitanya lebih suka low profile dan menikmati hidup, menyukai alam, makanan enak, bukan mengagungkan diri dengan berbagai detail mewah wanita high class. Bukan tipe yang kupikirkan, aku tak menyukai wanita yang terlalu detail dengan kukunya. “Kujamin makan malam denganku, akan menyenangkan, berdua saja, bagaimana...” Sekarang dia menyentuh punggung tanganku dan tanpa ragu duduk di depanku.
“Jadi keluargaku memgirimmu sebagai penukaran Miss Italy?” Dia tersenyum.
“Aku rela, sudah kubilang aku mengagumimu. Kau dan aku satu level, bayangkan dengan menyatukan keluargamu dan keluargaku keuntungan besar yang bisa kita peroleh. Pengaruh, kekuasaan, uang, akan mudah kau dapatkan. Aku akan membantumu naik lebih tinggi.” Gianni ini, memang di otak mereka semuanya adalah untung dan rugi, uang dan kekuasaan. Nampaknya itu sudah tertanam di setiap anggota keluarganya.
“Kau bilang mengagumiku, tapi kau tak keberatan aku dilayani oleh wanita lain, nampaknya kau berpikiran sangat terbuka.” Dia tersenyum kecil, tiba-tiba dia duduk dipangkuanku. Aku kaget setengah mati, bahkan tangannya langsung meraih tengkukku dan yang lainnya menempel di dadaku. Gadis ini terlalu berani. Apa dia begini putus asa, atau memang dia menyukaiku.
“Kau tampan sekali.” Tangannya menjalar, aku memegangnya untuk menghentikannya. Tapi dia menaruh tanganku di pinggangnya dan malah dengan kedua tangannya menarik tengkukku mendekat. Dalam sekejab mata aku diciumnya. Wanita ini tak tanggung-tanggung jika merayu.
“Apa yang kau lakukan?”
“Fabri sayang, aku tak suka basa-basi, aku benar-benar menyukaimu. Kita bisa jadi pasangan yang cocok. Kau bisa mendapatkan apapun yang kau mau... Soal aku tak keberatan berbagi dirimu dengan temanku, itu untuk kesenangan pasangan, kenapa tidak. Yang penting satu sama lain setuju, kita tetap menjaga status masing-masing dan tidak membuat keributan yang memalukan. Tapi jika aku bisa memilikimu sepenuhnya kenapa tidak, aku terbuka untuk setiap opsi, kita bisa membicarakan ini sambil makan malam berdua...” Pikiran wanita ini sangat maju.
“Kau tahu aku memiliki kekasih.”
“Aku juga bisa jadi kekasihmu dan aku menawarkan manfaat lebih daripada hanya cinta. Aku punya uang, kekuasaan dan pengaruh. Dengan kekasihmu itu mungkin kau hanya diberi makanan enak, tapi yang sebenarnya dia hanya akan menjadi bebanmu, aku bisa membuatmu membeli restorannya. Benar bukan? Bahkan aku lebih cantik dan lebih muda dari gadismu itu. Kudengar dia sudah bercerai sebelumnya. Jadilah priaku...” Dia gila? Semua keluarga Gianni nampaknya punya tendensi membuat orang harus menuruti kemauan mereka segera.
“Turunlah, aku tak suka dipaksa.”
“Kenapa kau menolakku, apa aku kurang cantik.”
“Kau cantik tentu saja. Dan benar, tawaranmu sangat menarik.” Aku berdiri menurunkannya dari pangkuanku. Ingin menyudahi pertemuan ini segera. Muak mendengarkan mereka menggunakan uang dan kekuasaan mereka.Diapikir semua orang akan tertarik dengan uangnya.
“Aku akan pikirkan dulu tawaranmu. Aku akan meneleponmu nanti.”
“Kenapa harus nanti? Kau takut kekasihmu menangis? Aku berjanji tak akan mengusiknya, ganti rugiku akan memuaskan semua orang termasuk kekasihmu. Dia akan bisa hidup dengan tenang, menjalankan usahanya, tanpa perlu mendapat gangguan. Bahkan aku akan berbaik hati menghapuskan hutang piutang antara kami dan menganti biaya rumah sakitnya sebagai permintaan maaf.” Tentu saja kau akan mengratiskannya. Sebenarnya jika ditotal-total pembayaran mereka sudah hampir 65% dari pokok hutang, hanya kehilangan sedikit apa artinya.
“Kau memang murah hati.” Biarkan saja dia disanjung dulu. Yang penting dia pergi dari sini.
“Jadi bagaimana, kau akan setuju. Tak ada yang akan dirugikan sekarang.”
“Sudah kubilang aku akan memikirkannya dulu, aku tak akan bisa menjanjikan apapun padamu cantik, nanti aku akan meneleponmu. Tinggalkan saja kartu namamu.”
“Kau berbohong?” Dia tak segan-segan memelukku. Aku yang tak sabar ingin mengenyahkannya dari sini.
“Aku akan menelpon tentu saja, aku menghargai niat baik.”
“Benarkah?”
“Benar.”
“Baiklah, aku pergi,jangan lupa meneleponku oke.”
Akhirnya aku berhasil mengusirnya pergi juga akhirnya. Aku merasa parfumnya menempel padaku, dan bahkan aku tak suka wangi parfumnya.