The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
NON POSSO VIVERE SENZA DI TE Part 37. A Deal in Breakfast? 2



“Tentu saja, bertemu dengannya pun boleh. Aku akan menghubungkan kalian.” Aku rasa aku benar-benar punya celah sekarang. Jika dia ingin bersaing denganku aku tak akan memberikannya channelnya.


“Kalian sudah disini rupanya.” Akhirnya tesoro mio(my treasure) datang dia terlihat cantik dengan trousers dan blouse formalnya, rambutnya nampak diblow sedikit. Aku ingin mengecup pipinya dan melihat senyumnya. “Aku ambil kopi sebentar...” Dia ke barnya meminta kopi, sementara mataku mengikuti kepergiannya, kubiarkan Bova tahu bahwa  aku memperhatikannya.


“Dia cantik bukan, kau tak bisa menemukan wanita se-elegan, kurasa aku bisa jatuh cinta pada temanku sendiri sekarang.” Aku sekarang akan terang-terangan memuji Monica dan menunjukkan ketertarikanku. Jika dia  tidak mundur juga setelah ini, aku akan menghadapinya terang-terangan.Mungkin hubungan kami akan rusak tapi akan kutanggung resiko apapun jika dia tidak mundur.


Bova cuma tersenyum kecil.


“Cara (dear), duduklah disampingku.” Aku meminta Monica duduk disampingku, dia tahu aku sama sekali tak menyukai Bova. Monica menatapku dengan heran.


“Kenapa kau memanggilku cara?”


“Tak apa, aku hanya senang melihatmu begitu cantik pagi ini, duduklah.” Untuk menunjukkan ke Bova kau milikku. Sederhana cara mio (my darling). Dia akhirnya duduk disampingku walau masih terheran-heran dengan panggilanku.


“Kau memang aneh sejak  selibat, temukan gadismu sendiri, kau memang aneh...” Aku  hanya  tersenyum menanggapi perkataannya. Menatapnya dengan pandangan memuja. Akan kukatakan kenapa aku begini saat kita liburan berdua nanti.


“Bagaimana, kau sudah bertanya pada Zia tentang liburan kita ke Canary, biarkan aku membujuknya jika dia tidak mau.”


“Nanti malam saja, dia tidak bisa diganggu jika sedang mengawasi dapur di pagi hari.”


“Ohh kalian mau ke Canary Isaland?” Bova yang bertanya.


“Sejarah penting kali ini dia mengajakku liburan keluarga. Karena dia sedang  selibat, jadi dia mengajakku. Entah kenapa dia jadi begini...” Monica  menertawakanku, aku tak perduli yang penting Bova  tahu aku tidak akan mengalah untuknya.


“Cara Mio, kau memang teman yang tidak berperasaan, diajak liburan pun kau tidak mau.”


“Jangan cara-cara padaku. Kau membuatku merinding.” Aku tertawa, aku akan membuatmu benar-benar merinding nanti Monica, kau pantas mendapatkannya.


“Fabian, kau akan langsung kembali siang ini?” Monica bertanya ke Bova.


“Ohh ya, setelah penandatanganan aku akan langsung ke Palermo, banyak pekerjaan harus dilakukan sebelum  libur akhir tahun.” Jika dia mundur, dan menghargai intensiku, aku yakin kami bisa jadi rekan bisnis yang baik dimasa depan. Aku akan menghargainya.


“Kau  akan datang akhir pekan bukan untuk penyerahan lahannya dari Lucas,  aku dan Ibu sudah tak sabar menunggu Minggu depan.” Dia tersenyum pada Monica.


“Tentu saja, tapi jika aku tak bisa datang aku akan mengirimimu orang dengan surat kuasa oke. Aku tak tahu apa ada pertemuan  dadakan atau  urusan yang tidak bisa aku  tunda nanti.”


“Ahh begitu.” Monica terlihat kecewa, Bova tidak bisa berjanji datang. Tampaknya Bova tahu diri juga. Dia sekarang menghindar untuk datang, menghindari tantanganku “Baiklah, aku juga tahu kau sangat mementingkan pekerjaanmu. Tak apa, hanya minggu depan aku harus sudah mengecek lahannya...”


“Tentu saja. Aku akan mentrasfer penyertaan modal maksimal Kamis ke rekening perusahaanmu. Bersemangatlah,  jangan  lupa hajar  Lucas minggu  depan.” Monica tersenyum, dia tahu kemungkinan besar Bova tidak akan datang.


“Thanks Fabian, ini semua berkat kau yang bisa mendapatkannya.”


Dia tersenyum kecil kepada Bova, mungkin berusaha menyembunyikan kekecewaannya.



Aku tahu dia mengharapkan Bova serius. Jangan menangis Cara Mio, aku berjanji aku akan  membuatmu bahagia seumur hidupmu, kau tak akan menyesalinya. Aku ingin memeluknya lagi sekarang, mengatakan sesuatu yang manis padanya dan menjanjikannya sesuatu yang membuatnya tersenyum lagi tapi belum saatnya. Aku harus bersabar... Akan ada saatnya semuanya menjadi indah buat kami.


“Baiklah, ayo kita pergi. Lebih cepat selesai akan menghemat waktu.” Dan lebih cepat Bova ini pergi lebih mudah dia menerima kenyataannya. Kita selesaikan ini.