The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
LOVE ME OR KILLME Part 98. Chianti 2



"Aku sudah berhasil menyelesaikan kasusmu. Kulkov tak akan menggangumu lagi, jika mereka menggangumu lagi aku sendiri yang akan kesana dan membuat masalah dengan mereka." Bibi ternyata ke sini setelah menyelesaikan urusannya di Rusia, sementara anak dan suaminya tiba di waktu yang bersamaan.


"Ada masalah apa?" Ibu nampaknya tak tahu. Bibipun menceritakan apa yang terjadi kepada Ibu. Ibu mendengarnya dengan mata membulat.


"Astaga benarkah, kau sampai diculik begitu, berani sekali Kulkov ini, kutelepon kakakku jika kau membutuhkan bantuan Anastasia. Aku akan meminta Kakak membereskan mereka, berani sekali mereka menculik anakku..."


"Tidak...tidak, sudah beres, ini hanya masalah pertukaran tahanan dengan imbalan, tenang saja sudah kuselesaikan." Bibi Anastasia menenangkan Ibuku.


"Aku tak tahu bagaimana Katya bertahan jika tidak ada kau Anastasia, aku dan Andrey berhutang segalanya padamu."


"Kau benar, terutama suamimu itu. Dia memperlakukan putrimu sebagai putranya. Aku berkali-kali mengatakan itu padanya." Bibi masih mengungkit Ayah yang tak berani membantahnya sekarang.


"Bibi tersayang, aku menganggapmu orang tuaku. Ayah memang begitu, dia memikirkan nasib Mom. Tapi aku mencintaimu seperti Ibuku sendiri." Aku mencium Bibi Anastasiaku yang sudah kuanggap penganti Ibuku.


"Katya tersayang, aku juga mencintaimu. Jangan khawatir aku masih di dekatmu di NY. Kau bisa mencari Bibi kapan saja walaupun Ayahmu disini."


"Dad akan tetap kembali ke NY. Ibumu juga akan ikut nanti." Dad tiba-tiba mengatakan sesuatu.


"Benarkah?"


"Benar. Mungkin kami akan menghabiskan beberapa bulan musim panas disini. Pertanian ini sudah ada yang mengurus, manager akan menanganinya." Akhirnya aku bisa mendapatkan Dad dan Mom dikota yang sama. Ternyata tangisanku di bandara itu membuat Dad merasa bersalah dan tak bisa meninggalkanku di NY . Padahal itu hanya tangisan emosional jika dipikir-pikir, bertahun-tahun aku sudah terbiasa jauh darinya.


"Terserah kalian saja, yang penting kalian bersama dan bahagia."


"Kami tak mau melewatkan pernikahanmu." Ibu yang sekarang membalasku.


"Belum Mom, dia baru melamar secara pribadi. Tanggal dan semuanya belum kami tetapkan." Aku memperjelas lagi bahwa belum ada tanggal pernikahan disini.


"Kalau begitu kita akan menetapkannya segera nanti." Ayah tersenyum.


"Iya nanti, tapi tidak sekarang, jika Dad dan Mom mau menghabiskan waktu lebih lama disini tak apa. Udara disini bagus sekali, kembali ke NYC rasanya sangat menyesakkan."


"Kurasa tak akan lama lagi sayang." Ibu menjawabku.


"Iya tak akan lama lagi." Ayah menimpalinya, aku memandang mereka dengan aneh


"Kenapa kalian yakin tak akan lama lagi? Aku saja belum tahu kepastiannya."


"Seperti yang Ayah katakan Nathan orang yang serius. Kurasa dia tak akan berlama-lama." Tadinya kupikir Nathan mengatakan sesuatu padanya, tapi ternyata dia cuma menduga.


"Terserah kalian saja."


Ibu kelihatan berbisik pada Bibi. Mungkin menceritakan sesuatu yang tak boleh kutahu, entah apa. Tapi kemudian Bibi terlihat antusias, mereka bicara bahasa Rusia yang tidak kutahu.


"Kalian bicara apa, kenapa dalam bahasa Rusia?"


"Ini hanya pembicaraan sesama wanita Kate sayang, bukan sesuatu yang penting. Makanan tolong dihabiskan anak-anak. Dia kembali berpesan padaku dan dua sepupuku.


"Habiskan makanan, Ibu-ibu cerewet ini akan marah jika makanannya sisa banyak. Kita disini untuk program penaikan berat badan." Dua sepupuku nampaknya lebih memilih menambahkan makanan dalam piringnya lagi daripada mengetahui apa yang orang tua kami katakan. Tak ada dari kami yang bisa bahasa Rusia.


"Baiklah, ayo kita makan lagi."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Sayang kita makan malam dengan teman Ibu nanti malam, semua keluarga diundang, pakai gaun casual oke? Ibu sudah menyiapkan untukmu, Ibu tahu kemungkinan kau tak membawa gaun pesta."


"Ohhh ibu punya gaun untukku. Ibu tahu ukuranku..."


"Ibu mengira-ngira sedikit dan bertanya pada Bibimu." Dia membawaku ke kamarnya.


"Semoga kau suka pilihan Mom." Dia mengambilkan untukku sebuah gaun dari lemarinya. Ada sebuah gaun selutut berwarna pink pastel indah dengan potongan elegan dan bahan yang bagus.


"Ini sangat bagus Mom. Aku sangat menyukainya. Terima kasih Mom." Rasanya kali ini aku kembali ke masa remaja. Mom suka mendandaniku.


"Mom senang kau suka. Pakailah Mom ingin melihatnya." Dia tersenyum menunggu sementara aku bergegas berganti gaunnya . Dan dia berganti ke gaunnya sendiri.


"Mom tata rambutmu, kemarilah..." Dia menyisir dan memblow rambutku sambil kami mengobrol, sementara aku memakaikan diriku dan dia make up. Matanya terlihat berkaca-kaca. Sebelum sebulir air mata jatuh.


"Mom kau baik-baik saja?" Aku melihat padanya.


"Tidak, hanya Mom pikir, Mommy menyesal melewatkan begitu banyak waktu tiga tahun ini, baru melihatmu lagi sekarang, saat kau hampir menikah,..."


"Ohh Mom, ini bukan salahmu. Kau belasan tahun tetap berjuang untuk kembali bersama kami. Bagaimana aku bisa menyalahkanmu." Aku menghapus air matanya. Mungkin karena aku pernah mengabaikannya saat kami bertemu di London. "Maaf dulu saat bertemu aku pernah mengacuhkanmu, saat itu aku tak tahu cerita sebenarnya. Kalian tak bercerita, bahkan aku tak tahu aku punya darah Russia, bukan aku membencimu. Maafkan aku bersikap begitu, jangan menyimpannya dalam hati..."


Dia melihatku, tak tahan untuk tak meneteskan air matanya lagi.


"Mom, ayolah. Ini saat yang berbahagia, kita semua akan bahagia. Mom bisa bersama Dad lagi, tak ada yang perlu di tangisi." Dia tertawa kecil.


"Maaf, Mom hanya terharu melihat putri Mom secantik ini sekarang." Dia mencoba tak menangis lagi sekarang . Melihat hasil blownya sendiri di kaca. "Sudah cantik, tinggal kalung..." Dia mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dari meja riasnya.


"Ini set kalung yang diberikan Ayahmu saat kami menikah di NY, ini sekarang jadi milikmu..." Aku melihat kalung indah dengan liontin mutiara dan diamond bersusun itu.


"Ini cantik Mom..." Kalung liontin itu lengkap dengan gelang dan antingnya. Aku jadi bertanya kenapa aku harus berdandan lengkap begini.


"Mom bukankah ini hanya makan bersama teman Mom, kenapa seperti kita kau ke pesta saja. Ini cantik apa harus dipakai sekarang." Dia tersenyum kecil sekarang.


"Sebenarnya kita akan makan malam dengan keluarga Nathan. Ayah dan Ibunya khusus kesini untuk menyaksikan lamaran kalian dan berkenalan dengan keluarga kita. Mereka sudah menyiapkan private roomnya. Mungkin kita akan menetapkan tanggal pernikahan.. " Aku sekarang terngangga sementara Mommy tersenyum lebar padaku di kaca rias.


"Lamaran? Kenapa Nathan tak bicara apapun? Kapan kalian merencanakan ini..." Sekarang aku benar-benar binggung, ini benar-benar kejutan.


"Nathan menelepon Ayahmu dan membicarakannya seminggu yang lalu, saat kau dalam perjalanan kesini dan Ayahmu dengan senang hati menyetujuinya. Bukankan ini sangat bagus, kekasihmu itu tampaknya orang yang sangat bertanggung jawab pada pilihannya. Mom senang kau mendapatkan seorang yang begitu baik." Mom memelukku sekarang. "Selamat sayang... Mom turut bahagia untukmu."


Sekarang giliran aku yang terharu. Aku tak menyangka Nathan akan menyiapkan ini begitu cepat, sampai mereka bersedia sekalian berlibur ke sini.


bersambung besok...