
Kami sampai ke winery dan farm keluarga kami kemudian. Aku mengajaknya bertemu adik laki-lakiku, dia juga sudah mengenalnya sejak high school karena sering kerumah. Karena kami bersahabat , maka orang tua kami juga saling mengenal dan akhirnya bersahabat, Mamma tahu aku meminta bantuannya untuk membantu belajarku, Mamma menyukai Monica sejak dia bertemu dengannya.
Tapi dia berbeda dengan teman-temanku yang lain, dia tidak pernah tertarik dengan acara hura-hura, kesenangan dengan klub popular di sekolah.
Dia anak baik dan tidak terpengaruh olehku sama sekali... Lama kelamaan aku sadar diri untuk tidak mengajaknya. Aku merasa sebagai pengaruh buruk disampingnya. Mamma bahkan mengatakan aku seharusnya bersikap lebih baik pada Monica, tapi Monica tetap Monica, dia memilih menjadi temanku dan tidak perduli dengan gadis-gadis yang mengejarku.
Kami dekat dan gadis-gadis yang cemburu dengan kedekatanku padanya kadang membuat masalah dengannya. Aku jadi kasihan padanya dan belajar tidak bersikap terlalu dekat padanya di sekolah, dia mengerti, tapi aku selalu menceritakan apapun padanya jika kami di rumah. Untunglah itu hanya berlangsung di high school...
Franco memberinya semacam buku panduan SOP-nya sebagai bahannya belajar, juga bilang padanya akan cari kandidat untuk dipromosikan menjadi manager winerynya segera.
Dia antusias melihat faselitas kami, mengambil foto dan banyak catatan, nampaknya banyak yang harus dia pelajari. Yang penting aku akan membuatnya pulang larut hari ini.
Sekarang aku akan mengajaknya makan malam dirumah.
Sebenarnya saat pulang kemarin aku mengajak Mamma bicara. Tentang keinginanku menjadikan Monica kekasihku, tapi aku juga sadar Monica tak akan percaya padaku.
"Aku baru sadar Mamma, aku tak pernah nyaman ketika pacarku meminta komitmen, bukan aku tak mau melakukannya, hanya rasanya ... tidak benar. Aku sendiri tak tahu kenapa aku merasa begitu."
"Lalu kenapa kau bisa berpikir tentang Monica?" Mamma langsung penasaran.
"Seorang bilang padaku, aku mungkin punya seorang tempatku bisa menceritakan semua ceritaku tanpa beban, aku bisa duduk tanpa bicara disampingnya berjam-jam tanpa merasa terganggu, aku baru sadar ada yang seperti itu... Satu-satunya. Setelah selama ini aku tak pernah nyaman berkomitmen pada siapapun" Mamma menepuk pundakku, tersenyum padaku.
"Mamma senang kau akhirnya kembali ke gadis yang baik, kau harus berusaha menyakinkannya. Mamma rasa bukan Monica tak melihatmu sama sekali, tapi dia juga merasa dia bukan saingan gadis-gadis popularmu. Dia wanita yang logis jika berhadapan dengan pria brengsek sepertimu. Lagipula kalian jarang bertemu belakangan sejak kau pulang kuliah, jadinya kalian mana mungkin bisa punya hubungan." Mama tertawa dan menganggapku brengsek juga, dia sudah berkali-kali bilang aku akan mendapatkan karmaku karena mempermainkan gadis-gadis. "...besok kenapa kau tak ajak dia makan kerumah, supaya kau bisa ngobrol lebih banyak dengannya. Tenang saja Mamma akan mendukungmu." Aku senang dia juga langsung menyetujui keinginanku untuk punya hubungan serius dengan Monica.
"Monica ayo ke rumah, kita makan dulu. Mamma bilang menyuruhmu makan dirumah."
"Benarkah, apa aku tak menganggu..."
"Kau memperlakukan rumah kami seperti rumah orang lain saja. Ayo jalan, aku sudah lapar." Aku menarik tangannya masuk mobil. Kali ini rasanya berbeda memegang tangannya, tapi dia pastinya menganggapnya biasa saja. Dia tidak terganggu.