
“Oke, jika kau ada pertanyaan apapun soal proposal bisnisnya sihlakan tanya padaku. Akan kulihat jika dalam liburan Natal ini aku bisa ke Napoli.”
“Tentu brother,...” Dia menyalami Guilio dan aku, melambai pada kami. Aku melambai padanya rasanya seperti melepaskan seseorang yang tak mungkin kembali lagi,kurasa aku akan menyerah saja soal ini. Mungkin dia berpikir dan menjadi tak tertarik kemudian. Sudahlah... Mungkin bukan keberuntungan cintaku sekali lagi.
“Ayo cari kita makan siang,...” Guilio menarik tanganku mengikutinya.
“Tidak makan ditempatku saja?”
“Kita cari restoran saja disini saja.”
“Baiklah.”
“Kau ingin makan apa?”
“Pizza saja.”
****************************************#####***************************************
Makan pizza di Italy bukan dengan tangan tapi dengan sendok, garpu dan beer. Dan kami tidak berbagi pizza dengan orang lain, pizza Italy datang dalam bentuk bulat utuh, dan satu orang punya pizzanya sendiri, dan tidak diiris seperti pizza amerika. Ada banyak jenis pizza di Italy, tapi yang paling terkenal la pizza Napoletana , atau pizza ala Napoli, pizza dengan toping saus tomat dan keju mozarella, cara pembuatan dan bahannya di tentukan secara spesifik oleh Traditional Specialty Guaranteed (TSG) certification, sebagai contoh tomat yang digunakan harus berasal dari San Marzano atau Pomodorino Del Piennolo del Vesuvio, tomat ini mempunyai daging tebal dan biji lebih sedikit, karenanya rasanya lebih manis
Dan kemudian ada kejunya. Kejunya adalah mozarella segar yang harus disertifikasi Mozzarella di Bufala Campana. Adonan harus didiamkan selama 24 jam, ditipiskan 3mm, dipanggang dengan oven 90 detik dalam suhu 900F
***************************************#####***************************************
Aku agak down sepanjang siang ini. Moodku hancur sehingga aku diam saja. Kenapa dia harus berjanji kami akan makan malam dan menonton minggu depan lalu berkata akan mengirimkan orang, aku tak habis pikir.
“Kau mau makan atau melamun.” Guilio yang didepanku memperhatikanku sejak tadi.
“Maaf. Aku hanya...” Aku tak mengatakan apapun setelah itu. Apa dia hanya mempermainkanku. Kenapa Fabian melakukannya, jika dia hanya ingin berteman tak usah mengatakan hal itu padaku. Aku kecewa sekali.
“Mau gelato? Habiskan dulu pizzamu.” Tiba-tiba Guilio menawarkanku es-krim membuatku tersenyum sekarang.
“Kenapa kau membelikanku es-krim?” Dia hanya meringis lebar.
“Kau terlihat seperti matahari ditutupi awan gelap. Mau jalan-jalan?”
“Aku harus kembali, memeriksa pekerjaan...”
“Jalan-jalan sedikit tak apa. Tak ada masalah mendesak bukan, pekerjaan berjalan walaupun kau tak ada.”
“Kau tak kembali ke Milan?”
“Sudah kubilang sore nanti. Aku mau ketemu Zia dulu mengajaknya liburan.” Dia berkeras sekali dengan rencana liburan ini.
“Terserah padamu saja.”
Aku menyelesaikan makananku dan bersedia diajak jalan-jalan dibelikan gelato.
“Tunggu disini, aku akan kembali okay.” Sekarang dia pergi saat aku sedang mengantri di untuk mendapatkan gelatoku.
“Kau kemana?”
“Kau tunggu saja di meja, aku tak akan lama.” Dia pergi dengan cepat meninggalkan aku mengantri dan kemudian duduk menunggunya di meja.
Dan kemudian...
“Ini untukmu.” Sebuah bouquet mawar warna warni putih dan peach ada didepan mataku. Aku melihatnya dengan tak percaya.
“Supaya mendung di wajahmu hilang.” Aku langsung tersenyum lebar yang memicu senyum balasan di wajahnya.
“Kenapa kau baik sekali hari ini?”
“Aku memang baik,...” Aku tertawa mendengarnya.
“Padahal aku mau mengumpankanmu ke ubur-ubur.”
“Kalau itu kau memang psychopath.” Dia tertawa aku masih membawa ubur-ubur penyengat itu.
“Ini...Terima kasih.” Aku tersenyum untuk bouquet itu, kadang-kadang dia memang pengertian, saat aku dulu terpuruk dengan Raoul, dia tak masalah semalaman duduk denganku dan bicara padaku. Padahal besoknya dia punya penerbangan pagi. “Kau memang selalu jadi sahabat terbaik, aku tak tahu bagaimana membalas semua ini.” Dia cuma tersenyum mendengar perkataanku.
“Ayo,kuantar pulang.”
Perasaanku membaik dengan bouquet besar mawar itu. Aku bicara lebih baik padanya dan tidak melamunkan Fabian lagi.
“Mana Zia,...aku mau merayunya.” Dia turun dan benar-benar mencari Mamma ke dapur. Sementara aku masih membawa bouquet itu.
“Guilio, apa yang kau lakukan disini. Kau sudah makan.”
“Bibi kali ini aku kenyang. Jangan beri aku amakan lagi.” Mamma tertawa dia sudah menolak duluan.
“Lalu kenapa kau disini...”
“Aku mau mengajakmu liburan ke Canary Island akhir tahun nanti, Zia”
“Ya..ya Ibumu sudah meneleponku. Iya Bibi setuju. Yang penting liburan bukan.”
“Zia terima kasih.” Mamma tersenyum padanya. “Aku harus mengejar pesawat ke Milan, sudah sore, aku pulang dulu Zia, akhir pekan aku akan kembali ke sini.” Dia mencium pipi Ibu dan mencium pipiku dengan cepat.
“Monic, sampai jumpa akhir pekan depan.”
“Baiklah, terima kasih Guilio.”
“Jangan bersedih lagi.”
“Bagaimana aku bersedih aku dapat bouquet mawar besar hari ini.” Dia tersenyum dan mengacak rambutku kemudian lari meninggalkanku. Sesuatu yang sering dia lakukan dulu waktu sekolah
“Awas kau.”
“Addio, cara mio.” Sambil memberikan ciuman jarak jauhnya bertubi-tubi. Dasar casanova sedang selibat, yang dia lakukan hanyalah mengganguku sekarang.
Tapi baiklah mawar besar ini cukup menghibur, Che bei fiori! Such beautiful flowers! Walaupun lagi-lagi akan layu dan aku akan membuangnya ke tong sampah lagi.
Aku menyentuh kelopak warna peach itu. Aku ingat kepada sebuah pepatah...
Se son rose fioriranno. If it’s roses, they will bloom.
Jangan mengkhawatirkan cinta, jika itu ada mereka akan mekar. Jika saatnya aku mendapatkan cinta dimasa depan akan ada saatnya mawar itu tak akan layu. Untuk saat ini biarlah mawar ini yang menghiburku.