
Ada yang berubah sekarang setelah pembicaraan itu.
Dalam satu bulan ini dia beberapa kali memintaku mendampinginya, biasanya di makan malam. Tapi anehnya dia tak pernah bersikap jahil lagi padaku.
Dia tidak bertanya macam-macam, mencoba bersikap menyebalkan, tapi dia mengatakan pikiran-pikirannya padaku secara jelas tanpa basa-basi, tanpa aku harus menebak isi pikirannya.
Kenapa dia berubah dari sikap jahilnya itu. Tapi ini membuatku merasa aman. Aku tak perlu merasa dipermainkan setiap kali berhadapan dengannya. Dia bahkan membiarkanku berada di apartmentku sendiri, dengan sukarela mengantarku ke sana tanpa pertanyaan. Tak pernah sengaja memintaku tinggal di rumahnya lagi.
Aku yang penasaran akhirnya bertanya.
"Hisao, kenapa kau agak aneh belakangan?"
"Aneh? Apa yang aneh?"
"Entahlah, sepertinya kau tidak jahil lagi, kurang sarkas, biasanya kau suka membuatku kesal dengan pembicaraanmu?"
"Kau ingin aku membuatmu kesal, aku bisa melakukannya, dan kemudian kau akan memasang topeng ramahmu lagi." Dia meringis sambil mendorong keningku dengan jarinya.
"Jadi itu alasannya?" Aku meneliti wajahnya sambil mengelus keningku sendiri.
Dia tidak menjawab. Hanya melihatku sebentar dan kembali ke ponselnya.
Tapi ada lagi yang berubah. Kadang Hisao kadang menelepon saat jam istirahat makan siang. Karena tentu saja malam aku bekerja, kadang mendapatkan pesannya di siang hari sekarang seperti bukan hal yang mengagetkan sekarang, kadang dia bicara sesuatu soal jadwal perkerjaan kami kadang hanya percakapan remeh.
Aku takut sebenarnya soal kebiasaan ini. Aku dan dia hanya pendamping. Aku takut mulai mengharapkan pesannya, karena aku tak boleh punya perasaan padanya ... dan ini terasa seperti kami benar-benar menjadi teman lebih dari hanya teman pendamping.
Seperti biasa akhir pekan dia dalam baju training latihannya. Aku bisa sedikit cuci mata hari ini.
"Kau nampak mengantuk, sudah kubilang agar kau datang hari sebelumnya?"
Dia selalu menawariku membayar dua hari saat dia memintaku datang akhir pekan yang tak pernah kuterima karena kurasa tak perlu.
"Semalam tamu pulang lumayan cepat. Jam satu aku sudah bisa kembali. Tetap saja aku harus me stasiun jam lima. Tak apa ... nanti malam aku bisa istirahat."
"Setsuko, lain kali terimalah tambahan hari liburmu di Tokyo, bagaimana kalau aku memberimu tambahan dua hari libur per bulan." Dia berubah jadi baik hati sekarang.
"Kenapa kau baik sekali." Aku mau tak mau tersenyum mendengar kebaikan hatinya itu.
"Aku kasihan melihatmu bekerja begitu padat. Okay? Kau bisa bilang ke Mayumi kapan kau mau libur."
"Kau serius? Apa benar tak apa." Aku tentu saja gembira ada jadwal lebih longgar, walau aku ragu menerimanya.
"Kenapa kau masih bertanya. Aku akan bilang ke Mayumi nanti." Akhirnya aku mendapatkan dua hari libur yang dibayar dari 'danna-ku'. Kurasa istilah itu bisa dipakai buat dia. Walaupun ada beberapa kondisi yang tidak cocok. Tidak, aku tak akan pernah menyebutkan panggilan itu didepannya, bisa-bisa dia salah tanggap.
"Terima kasih Hìsao-san." Aku tersenyum lebar padanya dan membungkuk padanya. Dia hanya tersenyum kecil dan menghilang lagi ke gym-nya.
"Nona, sudah sarapan?" Nanao yang sudah terbiasa denganku langsung menawariku makanan.
"Belum..." Aku bergerak ke meja makan.