
Still...POV Guilio
Aku memandang mereka berdua yang bertukar senyum, sangat tidak bisa dipercaya, bagaimana mungkin aku didahului seperti ini.
“Aku mau mengajak Mamma kesana, Mama mau pamer.” Monica tertawa bahagia, Bova mendapatkan pertanian itu untuknya. Dia sangat senang. Andai aku yang melakukannya, aku sudah kalah langkah kemana-mana.
“Minggu depan mungkin, saat ini sudah masuk atas namamu?” Laki-laki ini memang punya pesona tak terbantahkan. Aku tahu kenapa Monica mungkin juga jatuh, seperti dia jatuh dengan Raoul yang disangkanya luar biasa itu.
“Hmm baiklah, aku akan menunggu minggu depan. Minggu mungkin, aku akan mengajak Roberto dan beberapa orang untuk ikut ke penilaian. Secepatnya aku mau pertanian berjalan dengan standart kami. Lucas kurang bagus mengelola pertaniannya.”
“Tentu saja, hal seperti ini lebih cepat dimulai akan lebih baik.”
“Ohh Lucas masih tidak tahu kau mengambil pertaniannya?” Aku bertanya padanya.
“Tidak, aku mau ingin membuatnya sebagai kejutan.”
“Kau di Palermo terus sekarang Tuan Bova?”
“Kebanyakan, aku memegang bagian Selatan. Dana investasiku disini banyak di restoran dan pub, beberapa hotel, pembiayaan membuka cabang-cabang baru, baru kali ini aku mengambil yang ada pertaniannya, jika bukan Monica aku tak akan mengambilnya. Sebelum bertemu dengan dia aku tak yakin, tapi dia punya hati disini.” Bova memujinya, lihat bagaimana dia tersenyum kecil. Dia selalu senang dipuji karena pekerjaannya bagus.
“Siap Boss! Aku akan lakukan yang terbaik. Kau tahu dia membantuku begitu banyak Fabian aku berhutang banyak padanya. ” Monica membalasku sambil memberi hormat. Aku tersenyum, kenapa aku melewatkan banyak hal selama ini dan mencari terlalu jauh. Tak menyadari bahwa dia selalu menjadi tempatku bicara. Sangat bodoh!
“Tuan Benetti, saya harus banyak belajar dari Anda. Perjalanan kami masih jauh...”
Makanan datang kemudian. Aku harus menahan diri melihat Monica tersenyum kepada Bova, dan bagaimana Bova memandangnya dengan memuja. Bagaimana dalam tiga Minggu situasi sudah berubah. Tuhan memang berniat menghukumku, wanita yang benar-benar kuinginkan tak bisa kubiarkan jatuh ke tangan orang lain.
“Aku jadi sangat menantikan Minggu depan. Ayo kita makan, ohh ya kalian mau cuccia, Ibu sudah membuatnya untuk perayaan St. Lucy pekan ini. Ini sudah Desember lagi, tak terasa...”
“Boleh... “
Waktu penganan manis itu datang padaku, aku diam. Cuccia yang manis ini selalu membuatku merasa pulang kerumah di Desember, saat perayaan Natal sudah dekat, aku merasa begitu menyia-nyiakan waktuku bertahun-tahun ini, akhirnya aku selalu kembali ke Catania.
Ironis. Aku berkelana ke seluruh dunia, tapi sadar oleh sebuah perkataan sederhana. Pulanglah kerumah, kau akan menemukan orang tempatmu duduk menghabiskan waktu tanpa kau merasa terganggu.