The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
YOUR SUGAR DADDY WANNA BE Part 56. Psycho War 3



Serangan lanjutan dimulai, anak berkat informasi Guilio tentang sebuah pesta yang menghadirkan gadis-gadis  yang terlalu muda,pelanggan dalam pesta itu diciduk, Antonio Segni yang mempunyai jaringan dan menguasai media tentu saja tak melewatkan berita besar seperti ini, ini adalah sekali tepuk, beberapa lalat didapatkan.


Sekali lagi nama Gianni tersangkut, kali ini anak pertama dari Giovani Gianni bernama Leonardo yang ditargetkan Guilio, mulai berpendapat tak ada yang benar jika menyangkut nama keluarga Gianni.  Nathan  yang menargetkan saham salah satu perusahaan Gianni, mulai menyebarkankan  isu tentang kejatuhan keluarga Gianni ke beberapa  trader besar yang memegang investasi di perusahaan Gianni.


Karena CEO perusahaan ini masih dipegang anak pertama Gianni yang ditangkap, maka efek ini langsung terasa di pasar modal, nilai saham tergerus, walau pengacaranya mengajukan penanguhan penahanan, Nathan yang belum mengerahkan uangnya masih  menunggu kejatuhan lebih dalam lagi. Langsung muncul wacana mengganti CEO, kemenangan kecil untuk Nathan dan orang yang berada di belakangnya yang ingin mengambil alih kontrol perusahaan Gianni.


Kebijakan pemerintah yang tidak lagi mendukung  perkembangan signifikan bisnis keluarga Gianni di munculkan di surat kabar yang di kuasai Antonio Segni, bantuan untuk Nathan untuk mengerus harga saham. Boom paling besar belum jatuh tapi Giovani Segni sudah mencak-mencak di kantornya, dia merasa ditargetkan dari berbagai sisi. Dan dia menyangka semua ini  adalah ulah Bova. Walaupun dia tahu, tampaknya tak  mungkin keluarga Bova punya kemampuan cukup besar mempengaruhi pasar dan membuat rentetan kejadian ini. Tapi dia tetap menelepon Vittorio Bova.


“Vittorio, kau  jangan  macam-macam denganku. Kau pikir kau sudah hebat?!” Dia membuka dengan satu bentakan yang cukup membuat Vittorio harus menjauhkan  speakernya.


“Macam-macam denganmu? Aku tak pernah macam-macam denganmu, kau yang mengirim orang mebunuh keponakanku, kekasihnya, mengirim orang untuk menggangu usahanya, dia membalasmu dengan mempertahankan dirinya. Apa sangkutannya denganku? Kau gila!?kau sendiri yang membuat masalah dengan keponakanku sampai sekarang, dia hanya mempertahankan dirinya sekuat tenaga dari orang bayaranmu! Tapi sebentar lagi juga tak ada yang berani lagi sepertinya, kau mau adu fisik, sudah kubilang ”


“Kau pikir kau bisa menjatuhkanku hah? Aku tahu kau dibantu Segni.”


“Dibantu Segni? Dibantu apa, saat melawan adikmu? Itu urusanku  dengan adikmu. Kau tidak puas? Aku menyelamatkan hidupnya dari membusuk  di penjara, dia setuju, kau keberatan?! Jika begitu aku akan kembalikan dia  ke penjara bersama anaknya.” Vittorio Bova  tidak mengaku tentu saja. Dia meringis lebar ditelepon, senang bisa membuat Antonio yang sombong selangit itu sakit kepala.


“Kau bermain pura-pura bodoh bukan?!”


“Ohhh maksudmu anakmu yang ditangkap karena terlibat dengan anak dibawah umur. Mungkin kau harusnya memarahi anakmu yang punya feti*sh lo*li muda\, bukan aku\, mana kutahu wanita  mana yang sakit hati dan melaporkannya ke wartawan. Menyedihkan! Apa kau sedang mencari kambing hitam dengan mencoba menuduhku memasukkan anakmu dalam berita?!” Vittorio Bova  mementahkan semua tuduhannya sambil tertawa.


“Jangan berpura-pura bodoh,...”


“Aku tidak bodoh, aku malas jadi kambing hitammu?! Tanya ke polisi sana siapa yang menjebakmu, bukannya kau banyak kenalan.” Vittorio Bova menutup teleponnya dengan senyuman sinis, belum apa-apa sudah kebakaran jenggot. Belum dihadapkan dengan boom sebenarnya.”


“Antonio Paman? Dia sudah naik darah?” Ada Fabricio, keponakannya yang ada didepannya sekarang.


“Sudah bertahun-tahun dia tak ada yang berani mengganggu, dia jadi terlalu sombong. Sekarang ada yang berani mencari masalah dia langsung sakit  kepala.”


“Dia masih menggangu tempat usahamu?”


“Tak ada yang berani bertaruh membantunya lagi, Luca sudah mengurus semuanya. Dia sakit kepala sekarang. Pilihannya sangat terbatas, karena kalau soal intimidasi lapangan orang kita sekarang tak bisa dikalahkan. Apalagi Guilio Berutti sekarang membantu kita.”


“Bukankah Berutti yang menjebak anaknya?”


“Iya, informasi pesta itu mereka yang mendapatkan.”


“Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?”


“Karena dia tak punya backup lagi sekarang.  Guilio dan aku akan menargetkan satu-satunya kelompok  yang loyal padanya sekarang. Sacra Corona Unita, Pasquale Condello di Puglia.”


“Kau harus berhati-hati dengan orang itu, dia nekat tak sayang nyawa, bastard itu gila, kelompoknya pun sama dengan dia.”


“Lawannya adalah keluarganya sendiri. Kami menemukan orang dalam untuk membereskannya.”


“Orang Luca akan membantunya membuat seperti kekacauan di bar di saat yang tepat, dan perkelahian tak terkendali, tapi target  sebenarnya adalah dia. Mereka sudah merencanakannya dengan baik. Jika kekuatan ini dikendalikan Gianni tak akan punya kekuatan lagi di wilayah kita. Dia hanya sapi  ompong dengan uang banyak tapi tak ada yang berani berkelahi untuknya.”


Tak butuh lama bagi Fabricio Bova mewujudkan apa yang dia katakan, jika dia membidik seseorang dia akan mulai mempereteli kekuatan pendukungnya sebelum menyerang orang itu sendiri.


“Tuan! Tuan Condello katanya terkena tembakan di perkelahian geng di Puglia, dan meninggal semalam.” Sebuah pagi yang mengejutkan diantara masalah yang bertumpuk-tumpuk belakangan ini.


“Apa?! Pasquale meninggal?!”


“Kalau begitu kita harus kesana.” Tentu saja dia harus memastikan wahwa orang yang  memegang Sacra Corona Unita selanjutnya juga harus loyal padanya.


Dia sampai ke rumah duka sore hari, seorang keponakan memimpin pemakaman keluarga. Karena istrinya sudah meninggal, dan Pasquale Condello hanya punya satu anak perempuan.


“Zio Gianni, terima kasih kau datang.” Anak perempuan Pasquale yang menyambutnya pertama.


“Apa yang terjadi? Kenapa begitu tiba-tiba.”


“Ayah sedang berada di salah satu bar kami. Entah bagaimana ada dua kelompok saling bertengkar dan saling  menembak. Ayah terkena peluru nyasar di dadanya.  Sementara yang lain juga luka-luka tapi hanya Ayah yang kritis.”


“Begitu tiba-tiba?”


“Ayah sempat masuk rumah sakit, dia sempat koma, tapi tubuhnya tak bisa bertahan.” Wanita itu menangis dengan sedih.


“Kenapa dia pergi begitu cepat, beberapa  hari sebelumnya kami masih bicara begitu panjang.”


“Aku juga tak menyangka Zio. Ayah bisa pergi begitu cepat.”


“Bagaimana mereka yang menembaknya apa mereka di amankan polisi?”


“Sudah Paman, tapi itu kecelakaan karena mereka mabuk. Mereka akan dihukum tapi apapun  itu tak bisa  mengembalikan Ayah.”


“Ayahmu sudah lama menjadi teman Paman, tak menyangka dia akan pergi secepat ini. Jika ada yang bisa Paman bantu jangan sungkan menelepon Paman. Biarkan Paman memberi penghormatan terakhir pada ayahmu.”Gadis itu mengantar teman Ayahnya itu. Banyak orang yang berada di rumah duka itu. “Siapa yang memimpin pemakaman?”


“Ohh, sepupu dari Ayah. Diego.” Diego, harusnya pimpinan yang disiapkan adalah suami putrinya Juannito, tapi yang maju sekarang adalah Diego? Ada apa? Tapi dia tidak berani bertanya karena ini adalah masih hari duka. Mungkin karena sepupunya itu memang orang tertua dalam keluarga. Masalah pimpinan pemakaman jelas  saja tidak bisa ditentukan oleh orang asing seperti dirinya. Dia mengenyahkan kekhawatirannya.


Dia menyampaikan rasa hormatnya kepada mendiang temannya. Kemudian bergabung menyapa dengan beberapa orang yang dia kenal terutama Juannito, tangan kanan Pasquale. Sampai satu ketika pandangannya membentur kepada sosok yang sangat menggangunya. Fabricio Bova  dan seorang lagi yang nampaknya dia pernah lihat tapi dia  tidak ingat siapa.


“Siapa orang yang bicara  dengan Fabricio Bova itu?” Dia menunjuk seorang yang  mungkin seumur dirinya.


“Ohh itu sepupu Ayah, Diego Condello, semua kepemimpinan Sacra Corona Unita dipegang olehnya sekarang melalui pemilihan Ketua tadi pagi.” Sekarang Giovanni terkejut.  Bagaimana mungkin ada Fabricio Bova disini?! Pasti ada yang tidak benar dengan kehadirannya disini. “Bukankah pimpinan harusnya diserahkan padamu, karena kau tangan kanannya. Pasquale pernah mengatakan itu padaku.”


“Benarkah, pimpinan ditentukan melalui pemilihan para ketua, karena kepergian Ayah sangat mendadak, sedangkan banyak masalah yang perlu diurus, Ayah tak pernah meninggalkan kata siapa yang akan memimpin selanjutnya, jadi kebanyakan para Ketua setuju bahwa Diego Condello yang paling  senior dan masih keluarga Ayah memimpin kami.” Dan Diego Condello sekarang bicara begitu akrab dengan Fabricio Bova!? Kesialan apa lagi yang akan menimpanya sekarang, kenapa yang seharusnya sekutunya malah akrab dengan musuhnya.


Dia tak akan membiarkan ini terjadi. Dia menghampiri group tiga orang itu.


“Diego Condello,... saya sangat berduka cita atas kepergian sepupu Anda yang juga sahabat saya.”


“Ah, Tuan Gianni, maaf saya tidak melihat Anda tadi. Terima kasih, sungguh disayangkan kepergian Kakak sepupu saya begitu cepat dan dengan  cara yang tragis, rasanya saya sendiri tak percaya kami sekarang kehilangan sosok yang sangat kami perlukan. Terima kasih sekali lagi...”


“Saya tak tahu  Anda kenal dengan Fabricio Bova?” Bova tersenyum sinis melihatnya,  sungguh berhadapan dengan anak muda ini kadang membuat perasaannya tidak enak.


“Ohh Tuan Bova, saya baru setahun belakangan mengenalnya, dia teman Tuan Guilio Berutti. Saya mengenalnya dari dia.” Berutti, salah satu kekuatan  kuat di Selatan. Dia punya pernah punya masalah dengan Berutti,  lebih tepatnya anaknya  yang punya masalah dengan orang ini.


“Tuan  Gianni senang bertemu Anda disini, bagaimana kesehatan Anda belakangan.” Bova menyindirnya sambil tetap tersenyum. Sekarang Gianni merasa sekutunya benar-benar bersekutu dengan musuh-musuhnya


------------- bersambung besok yaaa\,


Ohh ya bagi gift dan votenya dong. Bolehkah mak minta sedikit.