The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
NON POSSO VIVERE SENZA DI TE Part 19. Two Business Partner 3



Berbicara dengan Casanova dan Don Juan ini soal bisnis memberi banyak perfektif baru, aku mengatakan ideku, mereka mengoreksi dan memberi pandangan mereka sehingga kami punya banyak penyesuaian yang bisa dilakukan. Sejam sebelum makan malam kami sudah memiliki kesepakatan tak tertulis kami, aku mencatat semuanya, segera setelah lahan resmi berpindah tangan kami akan mencatatkan ini secara legal.



“Baiklah, semuanya sudah kita bicarakan, kita harus makan, aku sudah  kelaparan.”


“Ayo pindah ke depan.”


“Kedepan? Disini tak apa? Ini akhir pekan, sulit mendapatkan meja didepan.”


“Ohh kupikir kalian mau mengedipkan mata ke gadis-gadis.” Aku meringis lebar ke dua pria itu.


“Astaga, di otakmu itu tak ada yang bagus yang terjadi Monica, kau tahu brother Bova, dia  selalu mengecap temannya sendiri ini bastardo absolute. Bisakah kau berpikir sedikit positive Monica.” Aku meringis lebar, duduk disampingnya dan merangkulnya.


“Guilio sayang,  kau terlalu cepat tersinggung. Kurasa kau terlalu lama selibat sekarang. Jika kau  keluar ke sana kau bisa mendapatkan seseorang malam ini.” Aku menggodanya untuk mengakhiri puasanya yang dia bilang untuk mendapatkan  pencerahan itu. Sementara Fabian tertawa lebar melihat bagaimana kami seperti saudara yang selalu bertengkar.


“Monica,  aku tak semurah yang kau pikirkan.” Aku ganti tertawa karena  dia menggunakan  kata-kataku tadi sore.


“Baiklah, diamlah  disini, seseorang akan membawakan kalian makan malam.” Aku meninggalkan  mereka untuk melihat kondisi café, menyapa beberapa tamu penginapan kemudian.


“Monica, aku pulang dulu. Ayah menungguku  dirumah. Dua minggu lagi aku ke Hongkong. Kau benar  tidak mau ikut?” Aku masuk ke ruangan mereka kemudian. Mereka masih berbincang disana, nampaknya banyak yang mereka bicarakan.


“Aku sibuk Guilio, sudah berapa kali kukatakan padamu.”


“Baiklah, kalau begitu aku kembali. Brother Bova, jika kau ke Milan, sihlakan telepon aku.”


“Tentu. Senang bisa berdiskusi panjang lebar denganmu.”


“Iya, dia didepan.”



Guilio menghilang, Fabian meregangkan tangannya keatas, dia memperhatikanku yang duduk didepannya, membawa piring pastaku dan steakku.


“Kalian benar-benar seperti saudara kelihatannya, ... memang sahabat.”


“Hmm...  sudah kubilang  padamu. Dia membayar  jasa contekan selama kami di high school.” Fabian hanya tersenyum, sementara aku menghabiskan pastaku dan steakku sambil bercerita sedikit soal masa-masa high school kami dan betapa parah reputasi Guilio casanova itu.


“Berapa lama kau bercerai?” Aku melihat ke arahnya, dia ingin tahu soal Raoul.


“Sudah mungkin hampir tiga tahun.”


“Kenapa jika boleh aku tahu?”


“Hmm, dia benalu. Sehingga semua orang di pertanian ini pun memandang rendah padanya, bahkan Ibu yang jarang bersikap memusuhi orang, memusuhinya, aku sebenarnya tak masalah jika dia bekerja di pertanian ini ikut membantuku dan ikut bisnisku mengembangkan pertanian ini, tapi kenyataannya dia hanya membantu di makan malam, membantu mengobrol dengan gadis-gadis.”


“Hmm... bisa dibayangkan. Maaf bertanya, ...”


“Tak apa, semua orang tahu kisahku dengan Raoul. Bukan sebuah rahasia... Dulunya  kupikir dia sempurna. Setidaknya dia punya pekerjaan yang lumayan, tapi ternyata itu kamulfase, dia melebih-lebihkan semuanya, dia menganggapku statusnya denganku sebagai cek  berjalan.” Aku mengangkat pundak. “Aku tak sanggup hidup seperti itu, hanya setahun kami bersama, kadang aku menyesalinya, kadang aku menyesali aku terlalu bodoh, Guilio dari awal mengatakan padaku Raoul laki-laki pembual, aku tak mempercayainya, tapi akhirnya apa yang dia katakan terbukti. Untungnya Guilio  menyelamatkanku dengan membuatku melakukan pre-marital aggrement. Jika tidak mungkin aku  akan  lebih sakit hati lagi.”


“Tak heran kau sangat berhati-hati.” Dia tersenyum.