
Aku baru saja menginjakkan kaki ke apartment siang itu. Menjemput Valentina untuk melakukan visum ke rumah sakit sesuai dengan rekomendasi pengacara Bova, bernama Franco. Dan menceritakan kepada Valentina siapa yang menolongku dan apa yang harus kulakukan.
"Syukurlah Kak, entah bagaimana tiba-tiba kau bertemu dengan Tuan Bova ini. Kita punya seseorang yang bisa membantu kita berpikir."
"Tapi segera setelah Ayah bisa keluar rumah sakit, kau harus ke Catania, dan aku akan mengungsikanmu ke tempat lain. Dia mengatakan dia bisa mengatur pengamanan untuk Ayah di Catania, karena itu wilayah yang tak bisa di sentuh oleh Gianni."
"Syukurlah kak, benar-benar ada yang membantu kita."
"Kurasa Mama di surga sana mengirimkan bantuan buat kita. Tiba-tiba aku mendapatkan seseorang yang ingin membantuku." Aku bisa sedikit tertawa sekarang.
"Ayo kita pergi kalau begitu..."
"Iya Kakak." Sama sepertiku sekarang Valentina melihat kami bisa melewati ini. Kami berdua optimis sekarang kami tak akan kehilangan toko kami atau rumah kami.
Tapi aku membeku ketika tiba-tiba pintu terbuka dan kulihat Adriano Gianni berada di muka pintu. Valentina meremas tanganku dengan cemas saat dia melihat siapa yang berdiri didepan kami. Dia berdiri saja disana melihat kami bergandeng tangan.
"Kenapa kau disini. Kalian mau kemana..." Pertanyaannya membuatku membeku dan melihat ke arah Valentina yang shock sama sepertiku, dia berdiri di depan pintu saat melihatnya membuat kami mundur. Kenapa dia bisa ada disini, bukankan minggu depan dia baru kembali ke Milan kata Valentina.
"Aku mau bersama Valentina melihat Ayah tentu saja."
"Ohh? Aku mau membawanya ke Monaco untuk liburan sekarang. Pesawat berangkat dalam 4 jam kedepan." Kata-kata membuat kakiku lemas, Valentina menghela napas berat. Tiga hari lagi Natal. Bahkan ternyata Natal ini kami tak bisa merayakannya bersama.
Dalam dua hari mungkin Ayah akan bisa kubawa ke Catania ke tempat Bibiku. Dan aku bisa membawa Valentina pergi. Ternyata tidak sesederhana itu bahkan aku tidak dapat melakukan visum sekarang.
"Dia merayakan Natal bersama kami, kau tidak dapat membawanya pergi." Andriano Gianni tertawa menakutkan sekarang.
"Dia sedang bersamaku. Bagaimana aku tak boleh membawanya..."
"Tidak boleh!"
"Kalau begitu kau mau memilih memenjarakan Ayahmu selama Natal ini, baiklah. Itu pilihanmu. Kita lakukan saja sesuai keinginanmu."
"Aku akan ikut denganmu. Kau puas... Kakak aku akan ikut dengannya. Sudahlah... tak apa Kak."
"Kau! Apa yang kau lakukan dengan adikku! Kau memukulnya..." Adriano langsung tertawa dan maju ke depanku.
"Itu hanya sedikit permainan Nona, dia juga memukulku. Itu sama-sama memuaskan. Dia tak protes kenapa kau yang protes?!" Pria kejam berwajah tampan itu melihatku dengan dingin. "Kau mau melihat hasil cambukannya padaku." Dasar masokis gila, dia tak malu pamer orientasinya yang menyimpang itu sama sekali.
"Valentina, kau ikut atau tidak? Pilihanmu?! Putuskan sekarang, siapa yang harus pergi, aku tak punya waktu melayani ocehan kakakmu." Dia membentak adikku. Valentina menarikku keluar dari apartmentnya.
"Kakak, kau harus pergi... Sebentar lagi kau akan memasukkan gugatannya. Setelah aku pulang Ayah sudah bisa dipindahkan, semua tuntutan sudah dimasukkan, aku akan bisa meloloskan diri. Tak apa aku bisa menghadapi ini." Aku langsung menangis karena harus meninggalkan adikku seperti ini. Dia malah yang harus memelukku sekarang.
"Kakak, aku tak apa. Aku akan kembali, kau harus melewati ini. Kesehatan Ayah taruhannya, jika seperti yang kau bilang kita bisa mengirimnya ke penjara diatas dua puluh tahun, maka beberapa hari ini masih bisa kutanggung, lagipula paling banter ....dia hanya kau tahu, itu tak bisa dilakukan sering-sering, dia cukup lemah untuk soal itu. Kebanyakan dia yang minta aku mencambuknya bukan sebaliknya, aku bisa menghadapi ini. Kakak... kau dan aku bisa, kita bisa melewati ini..."
Aku masih menangis, merasa tak berguna meninggalkan adikku ke laki-laki macam itu, Valentina malah yang harus menenangkanku.
"Kakak, kau harus pergi. Kau yang bisa menyelesaikan ini, mengurus restoran lagi, aku mengambil bagianku, kau akan mengambil bagianmu. Aku tidak menyalahkanmu, tidak sekalipun, kau sudah melakukan semuanya yang kau bisa... Kumohon berhentilah menangis."
"Bagaimana aku bisa melihatmu dengan laki-laki gila itu..."
"Kakak aku akan baik-baik saja. Kau harus melihat gambaran besarnya, jika kita tak menghadapi ini kita tak punya bantuan." Aku sangat kesal tak bisa berbuat apapun.
"Kau harus pergi Kak..." Dia mengantarku ke lift.
"Kau harus berjanji kembali." Bagaimana aku bisa menyerahkan adikku pergi ke laki-laki gila itu.
"Kakak tak usah khawatir. Aku akan kembali, akan kukirimkan kabar. Oke. Semuanya tèrgantung padamu disini. Jika aku bisa bermain peran jadi anak baik, aku akan aman. Kau harus mengurus yang disini, memastikan Ayah sembuh dan bisa ke Catania. Kau sudah mengatur semuanya dengan baik Kakak,...."
"Pergilah..." Sekarang dia mendorongku ke pintu lift yang terbuka. Mau tak mau aku harus pergi dengan hati hancur.
"Mr. Franco, ..." Aku terpaksa menelepon pengacaraku kemudian untuk mengabarkan ini. "Iya Nona, kau sudah mendapatkan hasilnya."
"Adikku dibawa Adriano sialan itu ke Monaco..."
"Kau bilang kau mungkin bisa membawanya, bukankah kau bilang dia baru kembali Minggu depan."
"Dia tiba-tiba muncul di pintu apartment saat kami akan pergi. Dia mengancam akan membuat masalah jika aku tak menghalanginya."
Pengacara itu terdiam.
"Ayah Anda harus sembuh lebih dahulu. Dia masih dalam observasi, titik aman Anda sebenarnya Ayah Anda. Persiapan kita sama sekali belum matang, saya juga berpikir jika Ayah dan adik Anda sudah bisa diungsikan Minggu depan kita sebenarnya siap untuk memulai apapun, sayang sekali . Tuan Saya juga masih mengumpulkan bukti dan saksi yang akan bersama dengan kita. Walaupun kasus Anda bisa masuk duluan."
"Saya bisa menjanjikan itu, Tuan Bova juga sedang menghubungi temannya untuk bisa mendapatkan cara mengeluarkan adik Anda secepatnya.
"Baiklah, ... Jika ada yang kau inginkan aku lakukan lagi Tuan Franco?"
"Tidak sebenarnya saat ini belum ada, seperti saya bilang saya belum bisa melapor. Tapi begitu saya mulai melapor saya akan memakai media, disitu akan banyak hal terjadi."
"Baiklah jika begitu." Aku memang tidak bisa berbuat apa-apa sekarang.
Aku akhirnya ke rumah sakit menjenguk Ayah dengan perasaan campur aduk. Aku perlu bertemu dokternya apa dia sudah yakin Ayah bisa dirawat dirumah saja.
Sebuah telepon masuk kemudian saat aku di lobby rumah sakit. Ternyata itu dari Bova.
"Kau baik-baik saja? Kudengar apa yang terjadi dari Franco..."
"Apa yang bisa kulakukan sekarang. Dia tiba-tiba datang begitu saja ketika kami akan ke rumah sakit." Aku bercerita jelasnya apa yang terjadi.
"Ini memang bukan salahmu, kau harus bersabar. Jika kau menampakkan kau bisa melawannya dia akan langsung curiga. Dimana kau sekarang..."
"Aku menjenguk Ayahku di rumah sakit. Biasanya Velentina yang mengunjunginya, sekarang dia ada. Aku harus mencari alasan."
"Rumah sakit mana?" Aku memberitahu tempat Ayah dirawat. "Bagaimana jika aku ikut mengunjunginya. Kurasa dia masih ingat padaku. Aku akan mengatakan akan membantu kalian, mungkin dengan begitu kita bisa membuatnya lebih bersemangat."
Dia baik sekali. Sampai bersedia menjenguk Ayahku.
"Kau sudah banyak membantu."
"Tak apa, aku tak jauh dari sana. Tunggu aku sebentar." Dia langsung mematikan telepon. Aku langsung berpikir, mungkin proyek melenyapkan Gianni ini sangat penting bagi posisi politik keluarganya.
Aku tak mengerti dengan dunia politik ini tapi baguslah, mungkin Ayah bisa lebih bisa menyerahkan semuanya padaku dan lebih bisa beristirahat di Catania sementara aku fokus disini.
Dia melambai begitu melihatku di lorong rumah sakit. Don Juan ini tidak menarik perhatianku lagi sekarang, yang kupikirkan hanya adikku.
"Jangan memasang muka menderita begitu, dia akan tahu kau dalam masalah. Aku akan bilang padanya kita sahabat di tempat kuliah sebelumnya. Dan aku punya sedikit koneksi untuk membantumu. Aku juga punya bisnis restoran di Catania, jadi aku tahu kesulitanmu. Dan nanti akan ada pemberitaan tentangmu jika kasus ini sudah masuk ke pelaporan dan persidangan. Tapi aku pastikan akan mendampingimu disini untuk menenangkannya...." Dia bicara panjang lebar, mengatur semuanya. Bahkan menyiapkan apa yang harus dikatakan pada Ayah.
"Baiklah..." Masih berusaha menjadi biasa-biasa saja. Tapi aku dari tadi memikirkan Valentina. Bagaimana aku bisa berpura-pura ini baik-baik saja.
"Baru dua hari ini aku bisa tidur karena bangsat Gianni itu sedang di luar negeri. Sekarang aku akan melewatkan setiap harinya sampai Natal dengan penuh rasa kuatir menunggu dia kembali sampai tahun baru..." Aku akhirnya bicara karena tak tahan lagi.
"Dia akan kembali,... setelah dia kembali kita akan mengirimnya keluar Italia segera. Kau harus menenangkan dirimu. Dia tak mungkin terbunuh, itu liburan tak mungkin dia membawanya untuk mencelakainya, lagipula masokis itu lebih mendapatkan kepuasan saat dia dipukul, bukan sebaliknya. Dia tak mungkin mencelakainya lebih jauh..."
"Aku mendengarkan itu dari Valentina juga, tapi bagaimana jika keadaan berubah di Monaco ke siapa dia meminta tolong." Pikiranku berada di kemungkinan terburuk. Sekarang dia melepasku.
"Monaco. Aku punya teman,..."
"Kau punya teman?!"
"Aku akan meneleponnya, kebetulan dia pengacara, dia bisa diandalkan." Dia benar-benar menelepon orang itu didepanku.
"Sekarang kau kirim kontak temanku ini ke adikmu." Aku dengan cepat mengirimnya ke Valentina, dan memastikan dia menerimanya, untungnya dia belum masuk pesawat. Aku sedikit lega dia bisa menghubungi seseorang, walaupun tetap saja...
"Tenanglah, dia akan kembali." Tiba-tiba dia memelukku melihat wajahku yang masih kuatir dan air mataku tumpah begitu saja sekarang.
"Maaf, aku benar-benar merasa tak berguna. Membayangkan dia terpaksa harus..."
"Aku tahu. Duduklah..." Dia membuatku duduk di bangku rumah sakit itu. " Dengarkan aku jika kau membuat Ayahmu khawatir sekarang dan dia tambah sakit kau tak akan bisa maju kemana-mana. Kau harus fokus menyelesaikan satu-satu dulu. Kalau kondisi Ayahmu memburuk karena dia tahu masalah ini maka kita tak punya saksi kunci di pengadilan. Semua yang dilakukan adikmu akan sia-sia. Dia akan kembali...kalian akan melewati ini." Aku mengerti kebenaran kata-katanya sekarang. Aku berusaha berhenti menangis. Menghapus air mataku, dan membuatnya menghela napas lega.
"Baiklah. Tersenyumlah..." Aku mencoba tersenyum tapi hanya sesaat. "Mau kubelikan permen..." Aku tertawa kecil dan tersenyum lebih lepas.
"Terima kasih."
"Kau bisa... Aku sudah berjanji akan mendukungmu. Kita satu tim oke..."
Aku mengangguk. Rasanya aku punya seseorang lagi dibelakangku yang bisa kupercaya. Dia mengatakan kami satu tim.
"Ayo kita temui Ayahmu."
----- bersambung besok