
Akhir pekan yang longgar, beberapa orang menikmati musim gugur bersama kami, daun-daun yang menguning dan memerah ini romantis juga. Sementara ada sepetak bunga matahari yang tidak terlalu jauh dari bangunan kantorku, sudah layu dan bijinya siap dipetik... Beberapa tamu yang baru kali ini melihat panen bunga matahari terlihat antusias mencoba membantu panen kami bersama anak-anak mereka...
Banyak tamu kami adalah keluarga dan aku selalu mengatakan kepada pegawai kami perlakukanlah tamu sebagai keluarga, karena itulah mereka selalu kembali pada kita, kadang melewati generasi, dari Ayahku, kemudian mereka membawa anak-anak mereka kemari...
Anak-anak itu mereka seperti mempelajari banyak hal disini, tapi melihat anak-anak itu aku memimpikan anakku sendiri, kapan aku bisa mengajarinya seperti Ayah dan Ibuku memegang tanganku dan menunjukkan dunia padaku.
Hatiku sedih seperti musim gugur yang penuh daun menguning ini. Aku melihat pemandangan
Tiba-tiba di depan mataku ada sebuket bunga tulip warna warni, membuatku tersentak dan menoleh ke samping. Fabian datang siang akhir pekan ini, dan dia membawakanku buket bunga?
“Ini untuk apa...” Aku menerimanya dengan senyum lebar, tapi langsung bertanya kenapa dia membawakanku bunga.
“Untukmu... untuk siapa lagi.” Dasar Don Juan perayu, dia pasti punya alasannya membawakanku bunga. Tapi lihatlah dia, dengan hanya kaus lengan panjang itu dia terlihat begitu menawan.
“Kenapa kau membawakanku bunga?” Aku meneliti wajahnya.
“Kenapa kau harus bertanya alasannya?”
“Laki-laki sepertimu punya alasan di setiap tindakan.” Aku meringis lebar.
“Baiklah, terima kasih Fabian. Ini sangat cantik,...” Aku langsung membawanya ke kantor, menemukan vas yang pas. Tulip ini terlihat sangat cantik. Dia tersenyum mendengar aku berterima kasih sementara aku mengagumi tulip itu.
“Ini sudah siang, kau sudah makan? Sudah hampir jam dua, pergilah ke restoran...”
“Nanti malam, kau mau makan malam bersamaku.” Dia mendekatiku, aku menatapnya.
“Tidak. Aku harus pergi ke sebuah acara.” Sekarang aku bertekad menghindarinya. Acaraku adalah pergi ke supermarket bersama Ibu, tapi aku tak perduli, aku tak boleh jatuh cinta padanya. Tak ada yang baik dari jatuh cinta padanya. Seperti tulip ini awalnya sangat indah, akhirnya aku harus membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali...
“Monica,...” Dia memanggil namaku, membuat aku melihatnya...
“Apa?”
“Kau membenciku?” Sekarang aku mengerutkan alis. Kenapa aku harus membencinya?
“Tidak, kenapa kau berpikir begitu... Kau tidak melakukan kesalahan apapun padaku.” Dia diam mendengar tanggapanku. Don Juan ini kenapa? Bukankah dia tak punya perasaan? Kenapa dia perduli apa perasaanku sekarang. “ Seperti katamu, kita cuma teman. Aku tinggalkan kau oke. Aku mau mengecek sesuatu, orang-orang disini sudah tahu kau bos mereka. Mintalah bantuan apapun pada mereka.”
Aku segera pergi dari depannya. Lebih tepatnya lari,... akhir pekan minggu ini aku tak ingin jatuh ke pelukannya. Tidak demi bunga tulip manapun atau buket mawar manapun di dunia.
Tapi itu manis... apakah sebenarnya dia yang merasa bersalah telah membawaku ke ranjangnya kemarin? Don Juan bisa merasa bersalah juga ternyata? Well, itu sebuah keanehan atau aku yang terlalu mengecapnya sangat buruk. Atau itu hanya tebakanku saja?