
"Dia sangat kurus." Seorang gadis di kelasku mengacungkan jari kelingkingnya menghinaku seperti lidi, terang-terangan padaku. Gadis cheerleaders itu punya badan yang sempurna dan wajah yang cantik tentu saja. Aku cuma kutu buku yang menggangu buat mereka.
Kelebihanku cuma satu, otakku encer. Bahkan Guilio Berutti yang tampan itu di duduk di belakangku untuk mendapatkan bantuanku di scuola secondaria di secondo gradoย (alias SMA). Aku tahu sebenarnya dia hanya memanfaatkanku, tapi lagi-lagi aku tak perduli. Sebagai balasan dia sering memanfaatkan ku untuk contekan dan mengajarinya, dia jadi temanku. Dan gadis-gadis cantik itu sangat iri padaku.
Itu hiburan buatku.
Karena aku juga tahu aku tak mungkin jadi gadisnya tentu saja. Aku memang beberapa ratusan mil jauh-nya dari kata cantik. Sangat jauh...
"Hei kurus, ... Aku benci kau."
"Kalian bisa tidak jadi penjahat." Anehnya Guilio selalu membelaku didepan gadis-gadis itu. Aku pasti assetnya yang berharga disini. Tentu saja, aku mempertahankan rankingnya setidaknya di papan tengah. "Mereka cuma sekelompok ular berbisa jangan perdulikan mereka, Monica..." Dia menarik tanganku menjauh dari kumpulan gadis cantik itu.
"Jangan memegang tanganku, nanti mereka tambah sebal padaku." Dan aku yang tahu dia manfaatkanku kadang sedikit kesal juga. "Kau sudah bodoh dan sangat menyusahkan hidupku." Aku terbiasa mengatainya seenakku, anehnya dia tidak pernah marah, padahal dia tukang berkelahi dan sering tersinggung. Tapi dia tidak masalah dengan keterusteranganku.
Kami menjadi teman kemudian, Guilio Berutti yang katanya menjadi playboy sejak umurnya 12 tahun, dia menyombongkannya padaku, dari 12 tahun dia sudah punya dua pacar. Entah itu kebenaran atau omong kosongnya aku tak tahu dan tak perduli.
Dan sampai belasan tahun kemudian, di umurku yang ke 33 ini aku tetap berteman dengannya. Benar-benar teman, karena aku tahu tipe-tipe gadisnya, aku jelas bukan salah satunya. Dan aku tidak menyediakan diriku menempel ke playboy.
Baiklah umur 33, apa yang harus dikatakan. Aku Monica Minetti pemilik generasi kedua sebuah perkebunan anggur dan zaitun di Sicily, Gambino Vidi, itu tempatku, bertahun-tahun yang lalu, sat aku berumur 28 tahun perkebunan ini hampir bangkrut, Ibu berniat menjualnya.
Aku menghentikannya, perkebunan ini tak begitu terurus sejak Ayah meninggal empat tahun sebelumnya, Ibu tak begitu baik dalam manajemen, dia hebat untuk memasak untuk tamu, tapi manajemen dia nol besar. Aku meninggalkan karier keuanganku di Milan, kembali ke Sicily menyelamatkan warisan Ayahku. Tapi keadaan terlalu parah saat itu, semua uang tabunganku ludes, dan assetku yang tak seberapa tak cukup untuk menyelamatkan pertanian kami.
Saat itulah Guilio membantuku. Dia membantuku tanpa bertanya apapun, dia mengirimkan uangnya dengan bantuan akuntannya memasukkan modalnya seperti itu hanya uang kecil baginya. Dengan persyaratan sangat longgar. Membuatku bisa bekerja kembali memperbaiki pertanian ini.
"Kembalikan saat kau punya uang Monica, kau bisa membeli sahammu kembali secara bertahap. Beri aku 20% saja setiap tahun sebagai pembagian keuntungan. Yang lainnya kau atur sendiri, aku tak menetapkan term pembayaran, anggap saja aku investor. Aku percaya padamu." Dia datang hanya untuk mengatakan itu padaku dan pergi 30 menit setelahnya setelah makan pasta dan memuji masakan Ibu habis-habisan.
Dan hari ini dia datang kesini, biasanya dia menginap di cottage. Kami tidak memiliki winery (pabrik pemprosesan anggur), kami memanfaatkan kebun ini sebagai perkebunan organic anggur untuk konsumsi, hanya sebagian menanam anggur yang diproses untuk wine dan tempat wisata, tamu-tamu datang untuk beristirahat dan menikmati pemandangan kebun anggur dan zaitun ini. Semua hasil kami jual ke winery lain yang masih ada di daerah ini. Kecuali perkebunan zaitun yang kami proses sendiri minyaknya.
wine farm in Sicily
olive(zaitun) farm in Sicily
----------------------------------
"Guilio?" Dia masuk dan duduk didepanku. Didepanku ada tumpukan bon yang diberikan assitenku dan harus kuurus. Aku hanya melihat sebentar padanya.
"Aku menginap di sini Monic." Itu pemberitahuan dia akan menginap akhir pekan ini.
"Hmm... Pengawalmu berapa orang?" Dia mengangkat tangan dua. Aku mengangkat telepon dan memerintahkan kamarnya yang biasa disiapkan. Dan kembali ke bonku. "Ada apa denganmu..." Asal dia kesini, pasti pikirannya sedang kusut.
"Kabur dari apa?"
"Pacarku yang minta dinikahi." Aku langsung tertawa ngakak.
"Kurasa kau terlalu memegang tegung prinsip Casanova, aku mencintai wanita, tapi yang paling aku cintai adalah kebebasanku." Aku mengutip prinsip playboy paling terkenal dari Italia.
"Sekarang dia pasti menyangkaku berada di Sicily, dan bersiap pergi ke rumah Ibuku. Ibuku dan dia sudah seperti teman akrab. Padahal aku dan dia baru pacaran enam bulan. Aku menyesal memberi tahu dimana rumahku di Sicily. Dia langsung melobi Ibuku..." Aku masih mengikik menertawakannya.
Guilio Berutti, keluarganya punya winery dan penyulingan olive terbesar di Sicily dan Tuscany, pertanianku kecilku tak bisa dibandingkan dengannya. Guilio yang sekarang mewarisi bidang usaha utama Berutti sebagai anak pertama, dia menguasai banyak jaringan hotel, pub dan restoran di Rome, Milan, Naples, Pelermo beberapa kota besar lainnya. Keluarga Berutti adalah raksasa di Sicily sampai Tuscany.
"Aku juga tak paham kenapa aku takut menikah, rasanya tak pernah ada yang benar dengan kata itu. Seperti memborgol tanganku ke penjara..."Aku meringis, karena dia sudah playboy sejak umurnya yang ke 12 nampaknya. Tak disangsikan... seumur hidupnya dia merasakan kebebasan absolut dari pemujaan gadis-gadis. Berganti dari satu hati ke yang lain.
"Aku banyak pekerjaan, nanti kita baru bicara. Jika kau lapar mau makan temui Ibu, dia pasti punya sesuatu." Aku meninggalkannya dengan masalahnya sendiri. Masalah tidak pentingnya.
"Monic, kau sedang mengurus panen?"
"Iya, ..."
"Boleh aku ikut membantu. Aku sedang butuh pengalihan pikiran sekarang. Acara makan malam baru jam delapan bukan." Aku biasa makan malam dengan tamu-tamuku.
Makan malam di Italia adalah makan besar, di meja panjang dimana tamu-tamu megobrol, tertawa dan saling bercerita satu sama lain dengan antusias, Ayah sering bergabung menjamu tamu-tamu kami yang datang menginap. Dan aku melakukan keramahan yang sama dengannya.
"Dengan kemeja dan sepatu mengkilat itu?" Dia melihat penampilannya.
"Hmm... aku bawa jeans dan t-shirt di mobil. Aku pinjam bootmu nanti."
"Baiklah, aku ada di sebelah utara nanti." Seperti biasa aku tidak menganggap dia seseorang yang menarik. Tugasku di meja makan nanti akan sedikit ringan, karena dia adalah spot center terbaik, ceritanya bisa mengalihkan perhatian siapapun di meja makan, apalagi gadis-gadis yang selalu terpesona pada rambutnya yang sedikit panjang itu.
Pertanyaaannya.
Semua gadis-gadis bertekuk lutut pada pesonanya, kenapa aku dari awal tak pernah tertarik padanya. Apa aku punya kelainan?
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Hai guys
Karena aku ngerjain dua novel bulan ini ( Satunya Alexa Blood of Love) aku gak crazy update yaaaa tapi tetap tiap hari update. Okay okay
Vote tetep semuanya di Guilio okay
See you tomorrow
Jangan lupa vote hadiah komen dan like nya