
POV Guilio
Dia terlihat cantik dengan gaun merah maroon itu. Rambutnya yang halus yang biasanya lurus dibiarkan mengembang malam malam ini. Aku menahan napas saat melihatnya berjalan ke mobil. Kenapa aku baru menyadari sebenarnya dia bisa terlihat begitu cantik... Hanya karena dia sering memakai kemeja pertanian.
Pesta ini aku tak akan biarkan dia membuat laki-laki lain terpesona, Luca itu dari mana lagi dia datang. Tahu Monica akan punya winery langsung berniat menjadikannya pendamping di pestanya. Trik murahan yang memuakkan, kulihat apa dia berani mencuri Monica malam ini. Jika iya aku akan menyindirnya lagi sampai dia mundur.
"Selamat malam cantik,..." Dia masuk dan duduk disampingku. Bibirnya tersenyum kecil menerima pujianku. Kuakui ini pertama aku keluar dan mengajaknya di acara pesta seperti ini.
"Malam Guilio, aku melayang kau memujiku cantik sekarang..." Sebenarnya tidak dia tidak menganggap pujianku serius. Dia mengangapku terlalu ahli memuji wanita cantik seperti ucapan selamat pagi.
"Ada hadiah Natal kecil untukmu." Aku memberinya sebuah kotak kado.
"Hadiah Natal?" Dia melihat kotak kecil itu ditangannya dengan terkejut. "Kau sudah menolak aku membayar liburan kita, kau memberiku hadiah lagi." Sekarang dia terlihat gembira, aku rela menukar apapun untuk melihatnya tersenyum seperti itu.
"Apa aku boleh membukanya sekarang..."
"Tentu saja."
"Baiklah kubuka,..." Dia kertas kado merah itu dan menemukan kotak hitam beludru didalamnya. Sudah jelas itu kotak perhiasan. "Ini apa Guilio..." Dia melihatku dengan heran.
"Bukalah..." Aku menunggu reaksinya. Matanya melebar melihat isi kotaknya, itu kalung liontin teardrop bersusun tiga.
"Ini..."
"Kau suka..." Menurut penglihatanku itu cantik, tapi tak tahu apa dia menyukainya atau tidak.
"Ini cantik sekali, tapi ini sepertinya terlalu...mahal."
"Guilio, ini sangat cantik. Apa yang kau minta untuk balasannya." Aku tertawa kecil.
"Tetaplah disampingku untuk malam ini, jangan kemana-mana.Itu saja" Dia menatapku.
"Kau ini benar-benar aneh sejak kau selibat. Ini harusnya untuk pacarmu, aku hanya temanmu, kenapa kau sangat berusaha."
"Aku tak aneh, kau temanku yang berharga. Kita sudah sangat lama berteman, kau tak pernah memikirkan itu? Jika aku ada masalah kadang aku kembali ke tempatmu, bukankah itu aneh. Aku senang sekali menyusahkanmu..."
"Aku juga sering menyusahkanmu..." Dia tersenyum. "Ini berlebihan tapi terima kasih."
"Tentu..." Apapun yang bisa membuatmu tersenyum dan bahagia Cara Mio. "Kita pergi oke.."
"Iya..."
Dia diam, mungkin berpikir kenapa aku melakukan hal seperti ini, dua hari lagi kami akan punya banyak waktu bersama, banyak hal yang bisa dikatakan padanya. Walaupun aku tahu kemungkinan dia tak akan percaya padaku pada awalnya dan takut akan berakhir seperti gadis-gadis yang lain. Tapi aku akan membuktikan semuanya sampai dia percaya.
"Gandeng..." Aku menawarkan denganku dan membuatnya tersenyum dan dengan rela berjalan bersamaku. "Ingat tetaplah disampingku..."
"Hmm dasar, saat selibatpun kau menyusahkanku. Baiklah setelah tahun baru kau sudah kembali ke habitatmu." Aku tertawa, tampaknya dia masih berusaha menganggap semua ini normal.
Tak mau berpikir macam-macam dan berpikir aku ingin menggodanya. Aku memang tak pernah memggodanya, aku menempatkannya bukan untuk digoda tapi sahabat. Dia satu-satunya wanita yang tak pernah menganggapku sebagai godaan.
"Iya setelah tahun baru aku akan kembali ke habitatku." Jika aku kembali pun aku sudah berubah. Tak akan ada Guilio yang dulu, aku sudah berubah sejak seseorang menyadarkanku.