The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
THE GEISHA AND MOMIJI DREAM Part 103. Beautiful Momiji Dream in the Autumn 3



Tomesode  peach ini sangat cantik, aku menyukai warnanya. Aku berdebar-debar sekarang, aku takut ini pertama kali aku bertemu  keluarga besar, semua keluarga inti diperintahkan datang dua jam sebelum acara. Tapi aku dan Hisao menuju kerumah Ibunya terlebih dahulu sebelumnya. Ini perkenalan resmi pertamaku ke keluarga inti Hisao. Tanganku dingin digengaman Hisao, tak dianya aku sangat  gugup.


“Sayang, kau akan baik-baik saja, kenapa kau gugup sekali. Bukan  pertama kali kau bertemu Ayah dan Kakek, apalagi Yukio, dia juga datang bersama tunangannya, Ibuku dan adikku ramah. Dia tak pernah memarahi orang seenaknya, kau pikir dia akan memarahimu.” Aku mencoba tersenyum, tapi aku masih takut. Ini rasanya seperti penampilan tari pertamaku diatas panggung, semua tanganku dingin dan gemetar.


“Maaf, aku hanya sangat gugup.”


“Mereka akan jadi  keluargamu. Kau disana untuk bertemu keluargamu, dimasa depan kau akan resmi menjadi bagian keluarga. Ayahku dan Ibuku juga akan menjadi orangtuamu. Kau bukan menghadapi interview boss menakutkan, kau datang menemui keluargamu, jangan terlalu gugup. Kau mengerti.” Dia menepuk tanganku, hatiku sedikit tenang sekarang,walaupun aku masih jauh dari kata tidak takut.


“Aku akan berusaha...” Hisao tersenyum.


“Ada aku disampingmu kau tak perlu takut apapun.” Dia memegang erat tanganku.Aku menghela napas panjang  sembunyi-sembunyi untuk menenangkan diriku.


Aku melihat Yukio datang bersama kami. Aku menyapanya dengan  kekasihnya, ternyata hari ini masing-masing dari anak laki-laki   keluarga ini membawa kekasihnya, kecuali adik Hisao perempuan terkecil masih berusia 23 tahun dan belum memiliki kekasih. Kami masuk bersama-sama dan kegugupanku berkurang karena ada satu juga calon menantu yang lain bersamaku.


Ibu Hisao tersenyum melihatku, aku membuat bungkukan dalam padanya, saat Hisao mengenalkanku padanya.


“Kau memang cantik seperti kata Hisao, aku sudah sering melihatmu di banyak banner,  dan iklan, aslinya ternyata lebih cantik lagi. Pantas saja dia terpesona denganmu.” Dia memujiku, kali ini aku menghela napas  legaku. Ternyata dia menerima kehadiranku dengan baik.


“Bibi, aku senang bisa diizinkan bertemu dengan Bibi. Terima kasih sudah memberikan izin untukku berkunjung dan mengucapkan salam ke Bibi dan Paman.”


“Kau sopan sekali. Sayang tak perlu terlalu sopan  padaku.” Ibu Hisao tertawa.


“Kau tak tahu betapa sopannya dia saat bertemu denganku Ibu. Aku marah-marahpun nampaknya dia tetap tersenyum ramah tanpa dosa padaku. Kesopanannya itu  tanpa cela.” Hisao langsung menyindirku, aku menatapnya dengan heran, sementara  Ibunya tertawa senang.


“Setsuko-san, Hisao pernah cerita bagaimana kau menjaga sikap sopanmu dan menendangnya  pergi. Bibi percaya  kau punya reputasi hebat.” Ibu Hisao tertawa, dan aku tak tahu bagaimana menanggapi ini.


“Ibu, kau jangan terlalu memujinya, nanti dia besar kepala.” Ternyata benar  Hisao bisa meyakinkan Ibunya, aku mulai bisa tersenyum sekarang.


“Ahh ini Ayah Hisao, kau sudah pernah bertemu dengannya kurasa.”


“Paman, senang bertemu denganmu lagi.”


“Setsuko-san, akhirnya kau bisa kesini. Yukio memuji kerja kerasmu untuk keluarga ini. Aku harusnya membawamu lebih awal kesini. Paman  baru selesai meninjau tempat untuk investasi di Vietnam  dan Thailand, Jepang sudah terurus saatnya memperluas investasi. Dimasa depan kau punya bakat nampaknya untuk terlibat di bisnis ini, bagaimanapun bantuan keluarga selalu  diperlukan.”


“Saya akan berusaha Paman.” Diluar  perkiraanku aku diterima dengan baik. Mereka semua tidak mempermasalahkan latar belakangku. Keluarga yang hangat dan menerimaku dengan tangan terbuka.


“Setsuko.” Selanjutnya aku bertemu dengan Kakek Hisao. Orang yang mengenalkan kami.


“Kalian akhirnya bisa datang bersama. Aku senang melihat Hisao sekarang, dia terlihat lebih bahagia.”


“Aku memang bahagia Kakek, ini karena Kakek juga.” Kakeknya tertawa atas  jawaban Hisao. “Berarti Setsuko memang bisa membantumu. Kau akan belajar menjadi kepala keluargamu sendiri nanti. Sebelum memimpin lebih tinggi lagi, Setsuko, bantulah dia semampumu dimasa depan.”


“Saya akan berusaha melakukan yang terbaik. Yamada-san bisa mengandalkan saya...”


“Bagus-bagus, ... Ayo ini hari gembira, ada anggota keluarga baru yang akan masuk ke keluarga kita. Kita semua adalah satu kesatuan keluarga Yamada.” Dan dengan begitu aku telah dikenalkan senagai calon menantu secara resmi. Tak kusangka akan secepat ini. Malam itu penuh kegembiraan, Hisao dengan pengertian menemaniku berkenalan secara pribadi dengan banyak anggota keluarga dan tamu. Walaupun menegangkan semua bisa kulewati tanpa hambatan berarti.


Aku terlalu banyak minum, pipiku panas sekarang. Banyak yang mengajakku bersulang malam ini, dan aku tak bisa menolaknya.


“Hanii Bee, mukamu merah sekali.” Dia melihatku saat aku kembali bersamanya ke hotel.


“Panas...” Aku  mengipasi diriku sendiri, efek minuman ini membuatku ingin berganti pakaian segera dari kimono tebal ini. Kepalaku pusing dan badanku panas.


“Kau terlalu banyak minum.” Dia mengambil kesempatan melingkarkan tangannya di pinggangku  dan menciumku.


“Hisao, buka tolong,...” Aku mendorongnya, aku tak bisa mencapai sendiri ikatan  bagian belakang kimonoku. “Ini panas sekali...” Dia tersenyum dan  membuka ikatan belakangnya, aku bernapas lega ketika aku bisa melapaskan ikatan  obinya dan melemparnya ke kursi.  Tapi kemudian aku melihatnya melepas kemejanya juga dibelakangku. Tato itu membuatku lebih pusing lagi, malam ini terlalu menegangkan dan satu-satunya yang kuinginkan hanyalah membuang ketegangan ini. Aku membantu  membuka dua kancing terakhirnya, melepas kemejanya dia melihatku pipiku yang memerah gabungan  antara terlalu banyak sake dan membayangkan tanganku  menyentuhnya ...


“Hisao, tatomu keren sekali, kenapa itu tidak kebawah  sedikit, itu akan lebih ****y...”  Aku yakin aku tak akan sadar apa yang aku sudah katakan malam ini. Dia meringis menatapku.


“Hanii...kau benar-benar kebanyakan minum hari ini. Kau mabuk.” Aku tak perduli, tanganku menyentuh tato   itu, dan merasakan kulit panasnya nya begitu  menggoda sekarang. Dan sekarang lapisan kimono itu jatuh begitu saja di lantai, udara sejuk menerpa kulitku membuatku lega.  Tapi rasa panas yang lain  menerpa kulitku, panasnya tato harimau yang menyentuh kulitku dan ciuman kami yang terlalu menuntut.


“Hisao,...” rengekanku membuatnya tak sabar, dia menempatkanku dibawah kekuasaannya dan sang harimau yang sudah  melekat di kulitku menancapkan taringnya padaku.


“Lain kali jangan minum terlalu banyak.” Aku tertawa  antara menganggap itu lucu atau s*exy. Goncangannya membuatku bertambah mabuk dan aku melepaskan suaraku tak terkendali. Aku  tak peduli, aku lupa kesopananku, aku menginginkannya segera, memintanya membuatku mendapatkan apa  yang kuinginkan. Ketika itu datang, kurasa pelepasan itu membuat mataku begitu berat, alkohol beredar begitu cepat diseluruh pembuluh darah tubuhku.


“Hisao,...” Aku memanggilnya dengan mata tertutup, merasakan kulitnya yang bisa kusentuh.


“Tidurlah Hanii Bee...”Tak butuh lama suara tenangnya dan tangannya yang terasa merapikan rambutku  membawaku ke alam mimpi dan membuatku merasa berbahagia. Udara musim semi ini selalu membuat siapapun mabuk dan tertidur dengan mimpi indah.


\===============


Besok aku bikin the Endnya


Akhirnya Season 1 selesai 1 bulan yeeeeeee