
Tomesode peach ini sangat cantik, aku menyukai warnanya. Aku berdebar-debar sekarang, aku takut ini pertama kali aku bertemu keluarga besar, semua keluarga inti diperintahkan datang dua jam sebelum acara. Tapi aku dan Hisao menuju kerumah Ibunya terlebih dahulu sebelumnya. Ini perkenalan resmi pertamaku ke keluarga inti Hisao. Tanganku dingin digengaman Hisao, tak dianya aku sangat gugup.
“Sayang, kau akan baik-baik saja, kenapa kau gugup sekali. Bukan pertama kali kau bertemu Ayah dan Kakek, apalagi Yukio, dia juga datang bersama tunangannya, Ibuku dan adikku ramah. Dia tak pernah memarahi orang seenaknya, kau pikir dia akan memarahimu.” Aku mencoba tersenyum, tapi aku masih takut. Ini rasanya seperti penampilan tari pertamaku diatas panggung, semua tanganku dingin dan gemetar.
“Maaf, aku hanya sangat gugup.”
“Mereka akan jadi keluargamu. Kau disana untuk bertemu keluargamu, dimasa depan kau akan resmi menjadi bagian keluarga. Ayahku dan Ibuku juga akan menjadi orangtuamu. Kau bukan menghadapi interview boss menakutkan, kau datang menemui keluargamu, jangan terlalu gugup. Kau mengerti.” Dia menepuk tanganku, hatiku sedikit tenang sekarang,walaupun aku masih jauh dari kata tidak takut.
“Aku akan berusaha...” Hisao tersenyum.
“Ada aku disampingmu kau tak perlu takut apapun.” Dia memegang erat tanganku.Aku menghela napas panjang sembunyi-sembunyi untuk menenangkan diriku.
Aku melihat Yukio datang bersama kami. Aku menyapanya dengan kekasihnya, ternyata hari ini masing-masing dari anak laki-laki keluarga ini membawa kekasihnya, kecuali adik Hisao perempuan terkecil masih berusia 23 tahun dan belum memiliki kekasih. Kami masuk bersama-sama dan kegugupanku berkurang karena ada satu juga calon menantu yang lain bersamaku.
Ibu Hisao tersenyum melihatku, aku membuat bungkukan dalam padanya, saat Hisao mengenalkanku padanya.
“Kau memang cantik seperti kata Hisao, aku sudah sering melihatmu di banyak banner, dan iklan, aslinya ternyata lebih cantik lagi. Pantas saja dia terpesona denganmu.” Dia memujiku, kali ini aku menghela napas legaku. Ternyata dia menerima kehadiranku dengan baik.
“Bibi, aku senang bisa diizinkan bertemu dengan Bibi. Terima kasih sudah memberikan izin untukku berkunjung dan mengucapkan salam ke Bibi dan Paman.”
“Kau sopan sekali. Sayang tak perlu terlalu sopan padaku.” Ibu Hisao tertawa.
“Kau tak tahu betapa sopannya dia saat bertemu denganku Ibu. Aku marah-marahpun nampaknya dia tetap tersenyum ramah tanpa dosa padaku. Kesopanannya itu tanpa cela.” Hisao langsung menyindirku, aku menatapnya dengan heran, sementara Ibunya tertawa senang.
“Setsuko-san, Hisao pernah cerita bagaimana kau menjaga sikap sopanmu dan menendangnya pergi. Bibi percaya kau punya reputasi hebat.” Ibu Hisao tertawa, dan aku tak tahu bagaimana menanggapi ini.
“Ibu, kau jangan terlalu memujinya, nanti dia besar kepala.” Ternyata benar Hisao bisa meyakinkan Ibunya, aku mulai bisa tersenyum sekarang.
“Ahh ini Ayah Hisao, kau sudah pernah bertemu dengannya kurasa.”
“Paman, senang bertemu denganmu lagi.”
“Setsuko-san, akhirnya kau bisa kesini. Yukio memuji kerja kerasmu untuk keluarga ini. Aku harusnya membawamu lebih awal kesini. Paman baru selesai meninjau tempat untuk investasi di Vietnam dan Thailand, Jepang sudah terurus saatnya memperluas investasi. Dimasa depan kau punya bakat nampaknya untuk terlibat di bisnis ini, bagaimanapun bantuan keluarga selalu diperlukan.”
“Saya akan berusaha Paman.” Diluar perkiraanku aku diterima dengan baik. Mereka semua tidak mempermasalahkan latar belakangku. Keluarga yang hangat dan menerimaku dengan tangan terbuka.
“Setsuko.” Selanjutnya aku bertemu dengan Kakek Hisao. Orang yang mengenalkan kami.
“Kalian akhirnya bisa datang bersama. Aku senang melihat Hisao sekarang, dia terlihat lebih bahagia.”
“Aku memang bahagia Kakek, ini karena Kakek juga.” Kakeknya tertawa atas jawaban Hisao. “Berarti Setsuko memang bisa membantumu. Kau akan belajar menjadi kepala keluargamu sendiri nanti. Sebelum memimpin lebih tinggi lagi, Setsuko, bantulah dia semampumu dimasa depan.”
“Saya akan berusaha melakukan yang terbaik. Yamada-san bisa mengandalkan saya...”
“Bagus-bagus, ... Ayo ini hari gembira, ada anggota keluarga baru yang akan masuk ke keluarga kita. Kita semua adalah satu kesatuan keluarga Yamada.” Dan dengan begitu aku telah dikenalkan senagai calon menantu secara resmi. Tak kusangka akan secepat ini. Malam itu penuh kegembiraan, Hisao dengan pengertian menemaniku berkenalan secara pribadi dengan banyak anggota keluarga dan tamu. Walaupun menegangkan semua bisa kulewati tanpa hambatan berarti.
Aku terlalu banyak minum, pipiku panas sekarang. Banyak yang mengajakku bersulang malam ini, dan aku tak bisa menolaknya.
“Hanii Bee, mukamu merah sekali.” Dia melihatku saat aku kembali bersamanya ke hotel.
“Panas...” Aku mengipasi diriku sendiri, efek minuman ini membuatku ingin berganti pakaian segera dari kimono tebal ini. Kepalaku pusing dan badanku panas.
“Kau terlalu banyak minum.” Dia mengambil kesempatan melingkarkan tangannya di pinggangku dan menciumku.
“Hisao, buka tolong,...” Aku mendorongnya, aku tak bisa mencapai sendiri ikatan bagian belakang kimonoku. “Ini panas sekali...” Dia tersenyum dan membuka ikatan belakangnya, aku bernapas lega ketika aku bisa melapaskan ikatan obinya dan melemparnya ke kursi. Tapi kemudian aku melihatnya melepas kemejanya juga dibelakangku. Tato itu membuatku lebih pusing lagi, malam ini terlalu menegangkan dan satu-satunya yang kuinginkan hanyalah membuang ketegangan ini. Aku membantu membuka dua kancing terakhirnya, melepas kemejanya dia melihatku pipiku yang memerah gabungan antara terlalu banyak sake dan membayangkan tanganku menyentuhnya ...
“Hisao, tatomu keren sekali, kenapa itu tidak kebawah sedikit, itu akan lebih ****y...” Aku yakin aku tak akan sadar apa yang aku sudah katakan malam ini. Dia meringis menatapku.
“Hanii...kau benar-benar kebanyakan minum hari ini. Kau mabuk.” Aku tak perduli, tanganku menyentuh tato itu, dan merasakan kulit panasnya nya begitu menggoda sekarang. Dan sekarang lapisan kimono itu jatuh begitu saja di lantai, udara sejuk menerpa kulitku membuatku lega. Tapi rasa panas yang lain menerpa kulitku, panasnya tato harimau yang menyentuh kulitku dan ciuman kami yang terlalu menuntut.
“Hisao,...” rengekanku membuatnya tak sabar, dia menempatkanku dibawah kekuasaannya dan sang harimau yang sudah melekat di kulitku menancapkan taringnya padaku.
“Lain kali jangan minum terlalu banyak.” Aku tertawa antara menganggap itu lucu atau s*exy. Goncangannya membuatku bertambah mabuk dan aku melepaskan suaraku tak terkendali. Aku tak peduli, aku lupa kesopananku, aku menginginkannya segera, memintanya membuatku mendapatkan apa yang kuinginkan. Ketika itu datang, kurasa pelepasan itu membuat mataku begitu berat, alkohol beredar begitu cepat diseluruh pembuluh darah tubuhku.
“Hisao,...” Aku memanggilnya dengan mata tertutup, merasakan kulitnya yang bisa kusentuh.
“Tidurlah Hanii Bee...”Tak butuh lama suara tenangnya dan tangannya yang terasa merapikan rambutku membawaku ke alam mimpi dan membuatku merasa berbahagia. Udara musim semi ini selalu membuat siapapun mabuk dan tertidur dengan mimpi indah.
\===============
Besok aku bikin the Endnya
Akhirnya Season 1 selesai 1 bulan yeeeeeee