
Mio tertawa. Aku memukulnya, aku memang tersanjung Ryohei-san menyukaiku, iya aku berbunga-bunga dan menjadi terlalu banyak memikirkannya.
"Tapi jika benar Ryohei-san menyukaimu begitu jauh dia seharusnya sedikit berani memperjuangkanmu Setsuko. Tapi dia langsung mundur, tidakkah kau berpikir sebenarnya yang lebih menyukaimu itu sebenarnya Hisao-san. Ryohei-san tak berani menantang Hisao sama sekali, tapi Hisao berani mengancamnya sendiri." Yang Mio katakan padaku sekarang juga aku tak pernah memikirkannya.
"Soal itu dia hanya tersinggung kurasa. Bagaimana membuktikan kebenaran dari kata-katamu ini."
"Hmm...mintalah bertemu dengannya, ajaklah dia makan siang, dia pasti akan langsung menurutimu. Bersikap baik dan jujurlah padanya Setsuko-san, bukankah dia selalu menyuruhmu bersikap jujur. Dia tak suka, dia marah padamu karena dia tahu kau menganggapnya menjadi bagian dari pekerjaan, klien, harus bersikap ramah terus menerus. Dia ingin kau bisa menjadi dirimu sendiri di sampingnya. Jika kau tak suka katakan tak suka padanya, karena dia perduli denganmu, dia juga ingin melihat siapa kau dan tidak menebak-nebak isi pikiranmu. Dan yang terpenting dia putus asa kau hanya menganggapnya klien yang tak boleh dibuat marah. Itu sangat sederhana Setsuko..."
Benarkah. Tapi kami tidak punya masa depan. Buat apa dia berusaha terlalu jauh menyukaiku.
"Kami tidak punya masa depan Mio, kenapa dia menyukaiku. Selama ini kupikir dia hanya tersinggung karena aku menyukai rivalnya. Kami hanya teman..."
Mio merangkulku sekarang.
"Setsuko-san, cinta tak butuh alasan, selama sedikit banyak kalian bersama, dia pasti sudah mengenalmu juga. Cinta itu tak butuh status, yang ada hanyalah jika kau menyukai seseorang kau nyaman akan keberadaannya dan akan merindukannya. Dia laki-laki, dia akan menemukan jalan untuk kalian. Dan kita geisha, kita hidup untuk seni kata Okasan (Ibu okiya), kita tak perlu status resmi untuk mencintai seseorang. Apa yang kau inginkan Setsuko-san, kau ingin keluarga? Bukankah hubunganmu dengan Ryohei-san juga sama?"
"Aku hanya menyangka dia melakukannya sebagian besar karena tersinggung."
"Mungkin kau benar, mungkin juga kau salah bukan. Kenapa kau tak buka matamu lebar-lebar dan mencari tahu kebenarannya. Jangan menyangka terlalu banyak hal buruk padanya, beri dia kesempatan untuk membuktikannya...."
Jadi aku memberanikan diri mengirimkan pesan padanya Kamis siang itu.
"Hisao-san, apakah kau masih di Kyoto.' Tak menunggu lama sebuah jawaban masuk ke ponselku.
'Tidak, aku sudah di Tokyo. Ada apa?'
'Baiklah. Tidak aku hanya ingin mengajakmu makan siang jika kau masih di Kyoto.'
Lama dia tidak menjawabku. Mungkin bertanya kenapa aku bisa mengajaknya makan siang. Kali ini adalah pertama aku mengambil inisiatif mengajaknya makan siang duluan.
'Nanti saja jika kau di Tokyo. Besok liburmu, tak udah datang terlalu pagi. Istirahatlah yang cukup.' Jawabannya membuatku sedikit tersenyum.
Apa dia tidak kesal lagi padaku. Jadi semua yang dikatakan Mio ini benar? Dia cuma putus asa dan merindukanku? Benarkah?
Aku meringis, ... kenapa membayangkan boss Yakuza jatuh cinta padaku dan putus asa mengharapkan cintaku, kelihatan itu cerita yang sangat lucu. Kejadian di gym-nya ciuman memaksa itu karena dia benar-benar cemburu? Bukan karena dia merasa tersinggung? Mungkin aku harus melihat kebenarannya?
Aku akhirnya sampai ke Tokyo lagi jam dua siang, memanfaatkan waktuku untuk istirahat seperti katanya. Acara kami juga baru untuk besok.