The Woman Of THREE CROWN PRINCES

The Woman Of THREE CROWN PRINCES
THE GEISHA AND MOMIJI DREAM Part 39. About Me 6



"Hmm... baiklah. Aku mengerti maksudmu...." Sekarang aku tersenyum padanya.


"Kau mengerti maksudku? Tapi kau masih belum bicara apa yang membuatmu tersinggung tadi siang."


Haruskah aku mengatakan padanya. Baik karena dia sudah jujur soal personalnya aku akan mengatakan padanya.


"Aku hanya tidak suka kau menyamakan semua orang. Kau mengatakan semua gadis menyukai hadiah, kenapa aku menolaknya. Aku adalah aku, aku bukan gadis yang sudah kau kenal. Jangan menyamakanku dengan gadismu ..."


Dia menatapku. Diam dan mencerna perkataanku, ... Sebelum bibirnya tersenyum kecil.


"Hmm... Setsuko-san kau memang seorang yang tinggi hati. Dan punya banyak pikiran buruk tentangku." Aku memang tinggi hati, mendengar dia menyamakan aku dengan gadis Roppongi itu aku tersinggung. Padahal dia mengatakan aku teman... Kenapa teman tak bisa duduk setara, aku tak perlu dibayar untuk menjadi teman.


Aku mengangkat bahuku.


Entahlah, kenyataannya memang begitu. Apa dia bisa membuktikan sebaliknya. Teman antara pria dan wanita itu sulit, jika dia berusaha berteman pasti ada maksud di belakangnya bukan?


"Setsuko-san, aku memberimu bukan meminta balasan darimu, aku hanya berpikir itu akan membuatmu senang. Aku menghargai bantuanmu. Tidak, aku tidak pernah bermaksud menyamakanmu dengan siapapun, cuma pengalamanku mengatakan banyak gadis suka hadiah. Maaf membuatmu tersinggung, aku lupa tak ada gadis yang suka dibandingkan satu sama lain. Tapi jika kau tak menyukai perkataanku lebih baik kau katakan saja, teman tak perlu menyembunyikan perasaan tak suka atas tindakanku plus alasannya satu sama lain. Aku minta maaf... Okay?"


"Kau bisa minta maaf?"


"Kau menganggapku seburuk itu, gara-gara aku salah bicara saja."


"Kau tak usah terlalu berusaha." Aku tertawa.


"Dan jika aku memberiku sesuatu aku tidak meminta kau harus membalasnya dengan sesuatu, jika itu yang ada dalam pikiranmu. Dari awal aku sangat buruk dalam pandanganmu karena champagne tower itu bukan, kau menyangka aku memberimu hadiah adalah untuk membelimu untuk tidur denganku. Sekarang aku mengerti sepenuhnya maksudmu." Dia mengamatiku dengan lekat.


"Aku hanya berharap kau bisa jadi pendamping yang jujur. Itu saja untuk sekarang... Untuk yang lain, entahlah... bukan aku tak pernah memikirkan itu, kita tidak pernah tahu masa depan bukan..." Dia melihatku sambil tersenyum, entah apa artinya itu. "Apa kau benar tak pacaran?" Dia tidak menjawabku malah mengajukan pertanyaan lainnya.


"Bukan urusanmu,..."


"Kau tak kesepian. Apa hidupmu tak membosankan."


"Geisha mengabdikan hidupnya untuk seni." Aku menjawab seenakku.


"Kau membuatku tertawa."


"Terserah anggapanmu."


Lain kali aku tak akan tinggal disini lagi. Terlalu berbahaya serumah dengan dia. Kami hanya berdiam diri sesaat kemudian, sibuk dengan pikiran kami masing-masing.


"Borther Derrick sekarang ada di Jakarta, dia cuma mengurus beberapa hal di Tokyo kemarin. Dia jarang berada disini..." Tiba-tiba dia bicara soal Tuan Tan lagi padaku. Tak usah Hisao katakan pun aku tahu, kesempatan bertemu dengannya adalah kecil. Setelah dia menolakku kesempatanku adalah hampir mendekati nol. Dia tak memberi kesempatan apalagi yang bisa kuusahakan.


"Kenapa kau membicarakan Tuan Tan padaku?"


"Entahlah mungkin kau tertarik mengejarnya, aku memberitahumu dimana dia berada."


"Hmm... tidak. Aku sudah merelakannya."