
“Monica, ayolah pergi makan malam bersamaku.” Dia mengatakan itu setelah aku menutup pintu ruangan. Aku melihat padanya. “Aku bersumpah tak akan mencoba menggodamu lagi. Mencoba cara semalam...Apa kau mengecapku seburuk itu.” Ada apa dengan Don Juan ini, kemarin dia berusaha membuatku ikut bersamanya dalam liburan, sekarang dia mengajakku makan malam.
“Ada apa denganmu...” Aku melipat tanganku didepan dada. Memasang pertahanan. Pertanyaanku membuatnya tertawa.
“Aku ingin mencoba punya hubungan jujur denganmu, dan sebagai jaminannya aku tak akan menyentuhmu. Aku tahu kau menyalahkanmu menggodamu malam itu.” Ini sebenarnya aneh kenapa dia merasa bersalah. Bukankah dia Don Juan yang tak punya perasaan.
“Tidak. Aku tak bisa. Sudah kubilang, aku tak menyesal atau menyalahkanmu soal itu, aku hanya tak mau terlibat denganmu. Aku hanya mau jatuh ke pelukan seorang pria penyayang yang bisa kucintai... Ide teman dekat ini tak berjalan di pikiranku, aku akan patah hati. Aku tak mau.” Aku bicara pelan dengannya.
“Pria sederhana penyayang itu tak ada di levelmu yang sekarang. Yang ada Raoul yang kemarin menipumu, kau tahu itu... Kita bisa memberi diri kita kesempatan bukan, ...” Aku tertawa karena dia menyinggung Raoul.
“Fabian, kau dan aku tak tinggal di kota yang sama. Aku akan selalu berpikir jelek karena aku tahu siapa kau. Dari sisi manapun hubungan kita tak akan berhasil, kita harusnya jadi teman saja seperti katamu...”
“Kota Palermo dan Catania cuma tiga jam perjalanan sebagai catatanmu.”
“Kau tahu siapa aku?” Dia tertawa. “ Bagaimana dari beberapa kali bertemu kau tahu siapa aku.” Dia maju kedepanku. Aku kaget dan mundur,tapi dia menarik tanganku membuat aku mendekat. “Kau senang sekali melarikan diri.”
“Fabian...” Jantungku berdebar keras, aku menarik tanganku cepat.
“Aku cuma ingin makan malam, nonton film,...setelah itu aku tak akan mencoba apapun. Aku bersumpah demi apapun yang kau inginkan. Jangan berlari kabur seperti anak kecil. Maafkan aku karena menggodamu, aku merasa bersalah padamu...”
“Kenapa kau memaksa sekali. Sudah kubilang itu pilihanku. Kau sudah minta maaf dengan bunga itu. Ini bayaran buat bunga tulipnya?”
“Aku akan jujur, aku memikirkanmu dua minggu ini, aku tak tahu kenapa aku merasa bersalah padamu sampai sekarang, aku merasa jadi orang jahat memposisikanmu seperti itu. Bisakah kau tak berprasangka padaku... Aku bersumpah tak akan mencoba menyentuhmu lagi. Jangan menghindariku selayaknya aku seorang penjahat yang punya kesalahan padamu. Aku minta maaf sudah mengucapkan itu seolah aku hanya memanfaatkanmu.”
Aku tak yakin dengan ini sama sekali tak yakin. Kenapa dia tiba-tiba ingin punya hubungan denganku.
“Monica...”
“Aku mau pergi dengan Ibu, bagaimana kalau akhir pekan minggu depan saja.” Aku tersenyum kecil. Jika benar yang dia katakan. Kita lihat apa dia benar-benar bersedia datang setiap akhir Minggu dari Palermo. Kita akan buktikan sesuatu.
“Minggu depan?”
“Iya, minggu depan. Datanglah kita bisa menonton dan makan malam.”
“Baiklah. Asal kau tak menghindariku lagi...” Dia tersenyum. “Kau boleh pergi kalau begitu.”
Sekarang aku tak yakin apa yang terjadi disini.