
Lupakan masalah Yamasaki.
Dua minggu telah berlalu lama dan aku tak menghubunginya. Dia pasti tahu aku mementahkan tawarannya yang sangat meremehkan itu. Dan menghajarnya dengan membayarku sepuluh jam sebagai bayaranku untuk mendengarkan kata-katanya yang tidak berguna itu.
"Jika tidak mendapat persetujuan kakek-ku Yamasaki-san tidak bisa memaksakan apapun. Dia tidak punya kekuasaan apapun mengaturki. Kakekku berjanji tidak akan menyetujui perjodohan apapun sekarang sebagai ganti dia belum memberikan keputusan apa dia menyetujui permintaanku."
"Ahh begitu. Baiklah anggap saja Yamasaki-san itu bukan masalah. Jika Kimiko membawa kue lagi kau tidak boleh memakannya. Berikan saja kepada pegawaimu."
"Hmm jadi kau bisa cemburu juga Hanii bee?"
"Kau hanya berdiri 50 meter dari rumahnya."
"Sana teleponlah Nanao jika kau tak percaya apa aku pernah menerimanya."
"Hmm... kau memang manis." Aku senang punya seseorang yang bisa kupercaya. Benar kata Paman Tan, dia memang bisa dipercaya.
"Paman Tan bilang kau kekasih yang loyal, aku berusaha mendengarkan apa yang dikatakannya."
"Paman Tan, maksudmu Derrick?!"
"Dia menganggapku keponakannya. Tapi dia memang baik."
"Bukankah kau menyukainya sebelumnya."
"Hmm...." Hisao tersenyum melihatku hanya menggumam.
"Jadi aku harus berterima kasih padanya juga untuk ini."
"Iya, dulu saat aku masih muda, masih suka mencari masalah yang tak perlu untuk membuktikan diri. Kemampuan masih kurang tapi suka membual, aku pernah dimaki habis-habisan oleh Derrick. Tapi akhirnya dari pengajarannya aku sadar aku melalukan hal-hal bodoh, dan menjadi fokus pada apa yang diharapkan keluargaku. Kakekku menganggap dia keluarga walaupun sebenarnya dia tidak bekerja pada Kakek. Tapi orang kepercayaan Kakek keluargaku di Hongkong. Sekarang dia menganggapmu keponakan..."
"Mungkin dia hanya merasa bersalah padaku soal kematian Ayah."
"Makanya jangan terlalu gampang jatuh cinta ke Paman-paman dan Kakek-kakek. Seleramu memang unik."
Jadi yang harus kulakukan adalah bekerja sebaik-baiknya, di pekerjaanku maupun di jadwal pekerjaanku yang lain. Dalam satu Minggu ini aku berada di Tokyo, ada jadwal syuting iklan pariwisata baru dan membantu tamu pemerintah.
Jadwal musim panas dan musim gugurku penuh, aku tak bisa mengambil libur banyak. Hanya dua hari di sela bulan ini. Sekarang aku harus membawa satu assisten untuk membantuku juga, tapi karena jadwalnya sangat padat aku juga tidak punya kesempatan bertemu Hisao. Jadwalku tidak ada yang bisa dibatalkan atau diselipkan sama sekali.
Akhir minggu pekerjaan akhirnya selesai. Assistenku bisa pulang ke Kyoto dan hari terakhir aku bisa punya waktu libur sehari bersama Hisao, aku merasa bersalah tak punya waktu untuknya sekarang. Sudah hampir tiga minggu kami tak bertemu. Tapi akhir minggu depan aku sudah berjanji akan mengikutinya ke Hongkong sebagai gantinya.
Aku sampai jam 10 masih memakai kimonoku. Nanao masih menungguku ternyata.
"Nanao-san, Tuan sudah pulang? Mobilnya sudah ada?"
"Tentu saja, ada Nona mau datang." Nanao menggodaku. "Lama sekali aku tak melihat Nona."
"Banyak perkerjaan Nanao, seminggu ini sebenarnya aku di Tokyo tapi terlalu banyak yang harus kulakukan. Aku ke atas dulu...." Akhirnya aku segera naik ke kamar Hisao untuk menemuinya, rasanya aku benar-benar hari ini cepat berakhir agar aku bisa memeluknya segera.
Aku membuka pintunya ternyata tak dikunci. Dia melihatku, rambutnya masih basah, dia baru mandi tapi sudah memakai pakaian rumah yang terlihat nyaman.
"Kekasihku yang cantik sudah pulang ke rumah." Sapaannya membuatku menghambur ke pelukannya dan memeluknya seerat yang kubisa.