
Di kediaman Odelia tampak berisik dan heboh. Padahal jumlah anggota keluarga hanya ada ayah, ibu dan dua gadis cantik. Serta empat pelayan yang bekerja di rumah tersebut. Di tambah dengan beberapa laki-laki berpakaian hitam yang tak lain adalah para penjaga alias security.
Anggota keluarga Odelia tampak sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang sedang berkutat di dapur, ada yang sedang bersiap-siap di dalam kamar dengan seragam sekolah dan pakaian kantor.
Setelah beberapa menit berperang dengan urusan masing-masing. Kini semuanya sudah berada di meja makan untuk melakukan sarapan pagi.
"Bagaimana hari pertama kamu kemarin di perusahaan sayang?" tanya Raditya kepada putri sulungnya.
"Lancar, Pi! Bahkan ketika hari pertama memimpin perusahaan. Semua karyawan dan tiga tangan kanan Papi menyambutku dengan sangat baik."
Mendengar jawaban dari putri sulungnya membuat Raditya tersenyum bahagia. Begitu juga dengan Emma dan Luna.
"Papi sangat yakin kamu bisa memajukan perusahaan itu lebih maju lagi dari sebelumnya."
"Mudah-mudahan ya, Pi!"
Raditya menatap putri keduanya. "Kamu juga sayang. Perusahaan yang Papi pimpin sekarang ini nantinya akan menjadi milik kamu. Jadi Papi minta sama kamu belajar dengan sungguh-sungguh. Dan jadilah seperti Papi dan kakak kamu."
"Baik, Papi!" Luna menjawab perkataan ayahnya dengan tulus.
"Papi meminta kalian mengikuti jejak Papi hanya karena Papi ingin kalian menjadi perempuan yang kuat, perempuan yang tangguh, perempuan yang tidak gampang ditindas oleh siapa pun. Papi tidak rela jika kalian disakiti oleh orang-orang diluar sana."
Mendengar ucapan dari ayahnya membuat Rica dan Luna menatap wajah ayah sedih dan juga tersentuh.
"Baik, Pi!" seru Rica dan Luna bersamaan.
"Dan satu lagi pesan Papi. Jadilah perempuan yang baik, perempuan yang penyayang, perempuan yang peduli, perempuan yang lemah lembut dan perempuan yang perhatian. Yang paling penting sekali adalah jadilah perempuan yang setia."
Raditya menatap lekat wajah kedua putrinya secara bergantian.
"Jika nanti kalian menikah dengan orang yang kalian cintai. Jangan pernah sekali pun kalian mengkhianati pasangan kalian hanya karena pasangan kalian itu sudah tidak memiliki apa-apa. Jangan pernah lepaskan pasangan kalian ketika pasangan kalian dalam keadaan terpuruk. Tetap dampingi pasangan kalian. Jika ada perpisahan diantara kalian yaitu satu, kematian! Hanya kematian yang memisahkan kalian. Bukan karena harta atau pihak ketiga!"
Raditya seketika menangis mengatakan hal itu di hadapan kedua putrinya. Bayangan-bayangan ketika dirinya di khianati dan disakiti terlintas di pikirannya.
Mengingat kejadian itu membuat hati Raditya sesak, sakit, terluka dan dendam.
Ya! Raditya begitu dendam dengan orang yang sudah mengkhianati cinta dan kesetiaannya selama 9 tahun. Dan apa yang terjadi padanya. Dan apa yang dilakukan oleh orang tersebut tidak terjadi pada orang lain dan tidak dilakukan oleh kedua putrinya. Raditya ingin kedua putrinya menjadi sosok wanita yang baik serta tulus.
Melihat wajah sedih dan mendengar ucapan demi ucapan dari ayahnya membuat Rica menangis.
Rica langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri sang ayah. Lalu Rica memeluk tubuh ayahnya dari belakang.
"Aku berjanji pada Papi. Aku Rica Adisti Odelia akan menjadi wanita yang baik, tulus dan penuh cinta. Aku akan menjadi seperti Mami Emma."
Mendengar janji tulus dari putri sulungnya, seketika terukir senyuman manis di bibir Raditya. Begitu juga dengan Emma.
Melihat sang kakak yang memeluk tubuh ayahnya membuat Luna juga berdiri. Dia ingin memeluk tubuh ayahnya itu.
"Luna juga janji sama Papi akan menjadi wanita seperti yang Papi inginkan."
"Kami sayang Papi!" seru Rica dan Luna bersamaan.
"Papi juga sayang kalian. Kalian berdua adalah harta berharga Papi. Kalian harus saling menyayangi dan saling menjaga satu sama lain."
"Pasti Papi. Kami janji!"
Raditya dan Emma tersenyum ketika mendengar jawaban kompak dari Rica dan Luna.
***
Kimberly sudah berada di gerbang sekolahnya. Pagi ini Kimberly diantar oleh Riyan.
Ketika Kimberly ingin membuka mulutnya hendak melayangkan aksi protesnya. Riyan sudah terlebih dulu mematahkan aksinya itu.
"Ingat! Jangan sampai telat makan. Kalau sudah waktunya istirahat, kamu harus langsung ke kantin dan makan. Awas kalau kakak sampai dengar maag kamu kambuh lagi."
Riyan berbicara sembari menatap wajah cantik adik perempuannya. Dan tak lupa tangannya mengusap lembut kepalanya.
Sementara Kimberly yang mendengar ceramah dari kakak keempatnya hanya memperlihatkan wajah kucelnya.
Keempat sahabatnya yang sejak tadi berdiri di gerbang sekolah tersenyum geli melihat wajah merengut Kimberly ketika diceramahi oleh salah satu kakak laki-lakinya.
Baik Rere, Santy maupun Sinthia dan Catherine memang sengaja menunggu kedatangan Kimberly di pintu gerbang
Riyan yang mengetahui keempat sahabat adik perempuannya yang berdiri tak jauh darinya dan adik perempuannya tersenyum.
"Untuk kalian!"
Riyan berseru sembari langsung menatap kearah dimana keempat sahabat adiknya itu. Begitu juga dengan Kimberly.
Seketika Kimberly membulatkan kedua matanya ketika melihat keempat sahabatnya yang berdiri di gerbang sekolah. Dan lebih parahnya lagi, keempat sahabatnya itu tersenyum manis menatap dirinya sehingga membuat Kimberly mengumpat kesal.
"Kalian awasi anak kelinci ini. Pastikan anak kelinci ini mengisi perutnya," ucap Riyan seenaknya.
Kimberly yang mendengar perkataan kejam dari kakak laki-lakinya langsung memberikan pelototan kepada kakaknya itu.
"Kakak Iyan! Aku ini manusia bukan anak kelinci."
"Iya, kamu memang anak manusia. Tapi hanya setengah. Dan setengahnya lagi kamu siluman kelinci. Tuh lihat gigi besar kamu yang bertengger di depan. Seratus persen mirip gigi kelinci." Riyan menjawab perkataan dari adiknya dengan terus menyebut adiknya itu sebagai kelinci.
"Hahahahaha."
Seketika tawa Rere, Santy, Sinthia dan Catherine pecah ketika mendengar perkataan anarkis dari Riyan untuk Kimberly.
"Wah, kak Riyan! Kata-kata kakak benar-benar bagus!" seru Rere.
"Kata-kata yang penuh pujian dan sanjungan," sela Sinthia.
"Tidak ada kakak yang sebaik kak Riyan terhadap adik perempuannya," ucap Santy.
"Kakak Riyan terbaik," ujar Catherine menambahkan.
"Terima kasih," jawab Riyan tersenyum sambil melihat wajah tak mengenakkan dari adik perempuannya.
Kimberly menatap wajah kakaknya dengan wajah cemberutnya. Dan jangan lupa mulutnya yang berkomat-kamit mengeluarkan sumpah serapah untuk sang kakak.
"Kak Iyan benar-benar menyebalkan," ucap Kimberly.
Setelah mengatakan itu, Kimberly pergi meninggalkan kakaknya di depan gerbang sekolah sembari mulutnya terus mengeluarkan sumpah serapah untuk kakaknya itu.
Melihat Kimberly yang pergi begitu saja tanpa menghiraukan keberadaannya membuat Rere, Santy, Sinthia dan Catherine mendengus kesal.
"Yak, Kimberly!" seru Rere, Santy, Sinthia dan Catherine bersamaan.
Rere, Santy, Sinthia dan Catherine langsung mengejar Kimberly. Sedangkan seketika Riyan tersenyum melihat Rere, Santy, Sinthia dan Catherine yang ditinggal pergi oleh Kimberly.
Setelah melihat adik perempuannya dan keempat sahabatnya telah memasuki gerbang sekolah dan kemungkinan sudah berada di kelas. Riyan pun memutuskan pergi meninggalkan sekolah adiknya untuk segera menuju perusahaan miliknya.
Di dalam perjalanan, Riyan menghubungi seseorang dan meminta orang itu selalu mengawasi adiknya, saudara dan saudari sepupunya beserta orang-orang terdekat adik perempuannya. Bahkan Riyan menanyakan perkembangan penyelidikan terhadap orang yang sudah berbuat buruk terhadap Valen.