
Semua yang ada di lapangan tersebut terkejut ketika mendengar perkataan dari Prisca yang mengatakan bahwa ibunya masuk rumah sakit. Yang paling terkejut disini adalah Kimberly, keempat sahabatnya dan yang lainnya.
"Lo udah melewati batasan lo, Cherry! Selama ini gue diam karena keadaan Mommy baik-baik saja. Sejak gue dan Mommy pergi meninggalkan keluarga Girado. Sejak itulah hidup Mommy baik-baik saja. Mommy jauh dari yang namanya sedih. Mommy tidak merasakan hal itu lagi. Justru sebaliknya. Mommy sudah bahagia."
"Tapi gara-gara perbuatan lo yang sudah menyebarkan foto itu ke media sosial sehingga membuat Mommy....."
"Lo.....!"
Plak..
Plak..
Prisca sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Air matanya terus berlomba keluar membasahi wajahnya sehingga membuat Prisca kembali memberikan tamparan keras di pipi Cherry. Bisa dipastikan pipi Cherry saat ini sudah memar kebiruan.
Mendengar ucapan dari Prisca, walau Prisca tidak menyelesaikan perkataannya itu. Sherina, Kimberly, Aryan, Billy, Tommy serta yang lainnya sudah langsung paham. Begitu juga dengan murid-murid yang lainnya.
Sherina berjalan menghampiri Cherry. Diikuti oleh Riana, Talla dan Alea. Serta Aryan, Lian, Dylan, Raka, Jerry dan Evan.
Evan seketika memeluk tubuh Prisca dan berusaha memberikan ketenangan kepada Prisca sepupunya.
"Hiks... Van... Hiks... Mommy," isak Prisca dipelukan Evan.
"Tenanglah! Tidak akan terjadi terhadap tante Vilya. Aku yakin tante Vilya akan baik-baik saja," hibur Evan.
Mereka kembali terkejut. Dan kali yang membuat mereka semua terkejut adalah ketika melihat Evan yang tak lain adalah sahabatnya Aryan memeluk tubuh Prisca.
"Jadi lo yang menyebarkan foto itu, Cher?" tanya Sherina yang sudah berdiri di hadapan Cherry.
Cherry seketika terkejut ketika mendengar pertanyaan dari Sherina. Dia menatap wajah Sherina yang kini menatapnya marah. Begitu juga dengan Riana, Talla, Alea dan Aryan.
"Dengarkan gue baik-baik, Cherry! Sudah cukup gue selalu ngalah sama lo. Gue ngelakuin ini semua semata-mata untuk melindungi Mommy. Hanya Mommy yang gue punya, walau gue masih punya keluarga dari pihak Mommy yang sangat sayang sama gue. Gue udah kehilangan kakak Arka dan gue juga udah kehilangan Daddy. Dan gue nggak mau kehilangan Mommy. Jika dalam dua hari Mommy nggak sadar juga. Jika dalam dua hari Mommy tidak membaik seperti sedia kala. Gue bersumpah akan buat hidup lo hancur, Cherry! Gue akan balik ke keluarga Girado. Lalu mengambil alih semuanya. Setelah itu, gue akan usir lo dari rumah itu!" ancam Prisca.
"Tidak! Lo nggak bisa ngusir gue dari rumah itu. Lo nggak punya hak!" bentak Cherry.
Mendengar ucapan dan bentakkan dari Cherry membuat Prisca langsung tertawa mengejek.
"Apa lo melupakan sesuatu, hah?! Lo pasti ingat dan lo nggak lupa kalau semua kekayaan milik keluarga Girado sudah menjadi milik Revano Girado selaku putra pertama dari Refaldi Girado dan Patricia Girado yang tak lain adalah Daddy gue. Dan lo nggak lupakan silsilah keluarga Girado secara turun temurun? Apa perlu gue ingatkan lagi, hum?!"
Mendengar ucapan dan tatapan meremehkan yang diberikan oleh Prisca membuat Cherry seketika bungkam.
Cherry tahu bagaimana silsilah keluarga Girado. Semua kekayaan milik keluarga Girado akan diwariskan kepada anak tertua di dalam keluarga. Jika dulu kakeknya yang mendapatkan warisan tersebut, karena kakeknya itu putra pertama. Kemudian sang Kakek mewariskan kekayaan itu kepada putra pertamanya yang tak lain adalah Pamannya yaitu Revano Girado. Dan seharusnya kekayaan keluarga Girado jatuh ke tangan putra pertama sang Paman yaitu Arka Revano Girado.
Namun dikarenakan sang putra pertama telah meninggal maka diberikan kepada putri keduanya yaitu Prisca Revano Girado.
Dikarenakan Prisca masih kecil. Dan usianya belum memasuki 20 tahun, maka diberikan kepada sang Bibi. Dan Bibinya itu yang bertanggung jawab untuk sementara waktu sampai Prisca berusia 20 tahun.
Melihat keterdiaman Cherry. Seketika terukir senyuman di sudut bibirnya Prisca.
"Bagaimana? Sudah ingat sekarang? Lo sudah ingat bahwa semua kekayaan milik keluarga Girado adalah milik gue, Prisca Revano Girado!"
Cherry menatap tajam kearah Prisca tanpa mengeluarkan komentar apapun.
"Dan satu lagi. Lo jangan lupakan hal ini. Ini penting sekali. Misalkan gue belum membuatkan daftar nama ahli waris. Jika gue sampai meninggal. Baik meninggal dalam kecelakaan, meninggal dalam keadaan baik-baik saja atau meninggal karena dibunuh. Maka semua kekayaan keluarga Girado akan jatuh ke dinas sosial. Lain ceritanya, jika gue sudah mencantumkan satu atau dua ahli warisnya, maka kekayaan keluarga Girado akan aman. Dan lo juga akan aman tinggal disana."
Setelah mengatakan itu, Prisca pergi meninggalkan Cherry untuk menuju kelasnya ditemani oleh Evan.
Hari ini Prisca memutuskan untuk izin pulang. Dia tidak akan bisa konsentrasi mengikuti pelajaran jika pikirannya tertuju pada ibunya yang dirawat di rumah sakit.
Sementara Sherina dan Aryan menatap tajam kearah Cherry. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Jawab pertanyaan gue yang beberapa menit yang lalu, Cherry Girado!" bentak Sherina.
"Iya. Gue yang sudah nyebarin foto itu ke media sosial," jawab Cherry tanpa ada rasa bersalah sama sekali.
Plak..
Sherina memberi tamparannya di wajah Cherry.
"Gue benar-benar nggak habis pikir sama lo, Cherry! Kita teman satu kelas. Gua dan sahabat-sahabat gue nggak pernah ganggu lo. Tapi kenapa lo ganggu gue dengan menyebarkan foto itu!" teriak Sherina.
"Gue juga nggak nyangka sama lo, Cher! Lo hidup di dunia bikin semua orang susah," ucap Talla
"Kalau bukan kita yang maksa Sherina buat cerita tentang foto itu. Bahkan kita yang maksa buat Sherina memperlihatkan foto itu kekita. Kita nggak akan pernah tahu akan foto itu. Gue nyesal telah maksa Sherina buat lihatin foto itu sama gue. Kalau seperti ini kejadiannya. Mending gue suruh Sherina buat hapus tuh foto. Dan gue akan suruh Sherina cari cara lain buat dapetin hatinya Aryan!" teriak Alea.
Sherina menatap kecewa kearah Cherry teman sekelasnya. "Demi dendam lo terhadap Prisca. Demi rasa iri lo terhadap Prisca. Dan demi tidak suka nya lo terhadap Prisca. Lo hancurin perasaan orang lain! Sama hal dengan pertanyaan Prisca. Salah gue apa sama lo?! Gara-gara lo nyebarin foto itu. Aryan marah sama gue. Aryan nampar gue! Lo tahu nggak Cherry. Tamparan dari Aryan itu adalah tamparan pertama yang gue terima selama hidup gue. Tamparan dari laki-laki yang gue sukai!"
Cherry hanya menatap wajah Sherina dengan tatapan tak kalah marah. Apalagi ketika Sherina mengatakan bahwa Sherina suka sama Aryan.
"Hahahaha. Lo mau marah sama gue, hah?! Lo mau tahu alasan gue nyebarin foto itu ke media sosial dan berakhir lo ditampar sama cowok yang lo sukai? Alasan gue ada dua kalau lo ingin tahu. Alasan pertama Lo sudah tahu kan? Dan alasan kedua adalah gue marah sama lo karena lo suka sama cowok yang gue sukai!" teriak Cherry.
Deg..
Sherina terkejut ketika mendengar pengakuan dari Cherry yang mengatakan bahwa Cherry menyukai Aryan. Begitu juga dengan Aryan dan yang lainnya. Mereka semua terkejut.
"Lo tahu nggak? Sejak gue tahu bahwa Aryan sudah punya cewek dari sekolah lain. Sejak itulah gue berusaha melepaskan Aryan. Dan lo juga ngelakuin hal yang sama kan kayak gue. Lo mundur ketika tahu bahwa Aryan telah punya cewek. Bahkan saat itu lo menghilang tanpa kabar sehingga lo nggak tahu kabar terbaru dari Aryan bahwa Aryan sudah putus sama ceweknya!"
"Dan lo mau tahu nggak apa yang gue lakuin ketika tahu Aryan sendirian, belum ada cewek mana pun yang dekatin Aryan. Dari situlah gue balik mengejar Aryan. Dan menjadikan Aryan milik gue. Tapi ketika gue sedang memperjuangkan cinta gue. Lo datang dan merusak semua!"
Cherry menatap nyalang Sherina. "Sekarang gue tanya sama lo. Yang jahat itu siapa? Gue atau lo?!"
Mendengar ucapan demi ucapan dari Cherry membuat Sherina dan ketiga sahabatnya terkejut. Begitu juga dengan Aryan dan yang lainnya.
"Lo nggak jauh beda dengan gue. Jadi jangan sok menyalahkan gue!"
Setelah mengatakan itu, Cherry pergi meninggalkan Sherina. Dan diikuti Asena, Caria, Elnara, Aiyla, Jihan, Dilara dan Tsamira.
Sementara Aryan sejak tadi hanya diam mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Sherina dan juga dari mulut Cherry. Dirinya tidak menyangka jika Sherina dan Cherry sama-sama memiliki perasaan terhadap dirinya.
Aryan menatap wajah Sherina. Di dalam hatinya Aryan saat ini, dia teramat menyesal karena sudah menampar Sherina. Seharusnya dia bertanya baik-baik dulu kepada Sherina tentang foto itu. Bukan langsung menamparnya.
"Maafkan aku, Sherina!" batin Aryan yang tatapan matanya menatap punggung Sherina.
Setelah itu, Aryan pergi begitu saja. Dan diikuti oleh sahabatnya, keempat sepupunya serta yang lainnya.