THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Pembalasan Dari Dua Keluarga Kejam



Saat ini Kimberly bersama Tommy di Paviliun belakang. Keduanya duduk di taman bunga yang ada di samping Paviliun tersebut.


Tommy sekarang ini sedang mengupas buah apel untuk Kimberly. Dirinya tidak ingin kekasihnya itu kesakitan ketika menggerakkan tangannya.


"Ini makanlah," ucap Tommy sembari memberikan piring kecil berisi potongan buah apel kepada Kimberly.


Seketika terukir senyuman manis di bibir Kimberly ketika Tommy memberikan potongan buah apel kepada dirinya lalu tangannya mengambil piring itu.


"Terima kasih," ucap Kimberly.


"Sama-sama," jawab Tommy sembari mengusap lembut kepala Kimberly lalu menciumnya penuh sayang.


Detik kemudian, Kimberly menyenderkan kepalanya ke bahu kanan Tommy sembari mulutnya mengunyah buah apel.


Tommy tersenyum ketika Kimberly yang menyandarkan kepalanya di bahu kanannya.


"Ada apa, hum?" tanya Tommy.


"Nggak apa-apa. Aku hanya bahagia," jawab Kimberly.


"Apa yang membuatmu bahagia?" tanya Tommy.


"Banyak."


"Salah satunya apa?"


"Eemm... Karena ada kamu di samping aku," jawab Kimberly.


Tommy kembali tersenyum ketika mendengar jawaban dari Kimberly. Tangan kirinya mengusap lembut pipi kanan Kimberly.


"Aku akan selalu ada di samping kamu. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu apapun yang terjadi. Sekali pun nanti aku pergi. Kepergianku bukan karena perempuan lain, tapi karena memang Tuhan mentakdirkan aku untuk pergi."


Mendengar perkataan sekaligus janji dari Tommy membuat hati Kimberly menghangat. Dirinya benar-benar senang ketika Tommy mengatakan kata-kata itu untuknya.


"Jangan pernah khianati aku, jangan pernah tinggalkan aku demi gadis lain. Jika memang nanti Tuhan mentakdirkan kita untuk berpisah. Perpisahan itu bukan karena adanya gadis lain. Tapi memang Tuhan sudah mentakdirkan kita untuk pergi dari dunia ini."


"Jika hal itu terjadi, aku akan berusaha untuk ikhlas."


Mendengar perkataan dari Kimberly membuat Tommy tersenyum sembari memberikan ciuman di pucuk kepala Kimberly.


"Selama aku masih bernafas. Dan selama aku masih ada di dunia ini. Selama itu juga aku akan mencintaimu. Hanya kamu gadis yang aku cintai, hanya kamu gadis yang akan menjadi istri dan ibu dari anak-anakku kelak. Hanya Kimberly Aldama, gadis yang akan selalu ada di hatiku."


"Aku mencintaimu Tommy Alexander."


"Aku juga mencintaimu Kimberly Alexander."


Kimberly seketika mengangkat kepalanya dari bahu Tommy lalu matanya menatap wajah tampan Tommy.


"Namaku adalah Kimberly Aldama. Bukan Kimberly Alexander. Dan sejak kapan marga Alexander menempel di belakang namaku?" tanya Kimberly dengan mempoutkan bibirnya kesal.


"Hahahahaha."


Seketika tawa Tommy pecah ketika mendengar pertanyaan demi pertanyaan serta melihat wajah kesal Kimberly. Menurut Tommy, wajah Kimberly saat ini benar-benar lucu dan menggemaskan.


Tommy memegang kedua pipi Kimberly lalu membawanya untuk menatap wajahnya sehingga tatapan mata Kimberly menatap tepat di depannya.


"Nama kamu memang benar Kimberly Aldama. Kenapa aku menyelipkan marga Alexander di belakang namamu, itu dikarenakan bahwa kamu adalah kekasihku, pujaan hatiku, belahan jiwaku, calon istriku dan calon ibu dari anak-anakku. Bahkan Papi dan Mami sudah berulang kali mengatakan bahwa kamu adalah calon menantunya."


"Jadi mulai detik ini kau resmi menjadi nyonya Alexander. Dengan kau menyandang gelar nyonya Alexander. Tidak akan ada laki-laki manapun yang mengambilmu dariku. Apa kamu mengerti sekarang, hum?"


Tommy berbicara sembari tersenyum manis menatap wajah cantik Kimberly. Kemudian Tommy berlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Kimberly dengan memiringkan kepalanya hendak mencium bibir merah Kimberly. 


Ketika bibir sedikit lagi hendak menyentuh bibir Kimberly, tiba-tiba terdengar deheman yang kuat dari seseorang.


"Eeheeemm!"


Mendengar deheman tersebut yang menurut Tommy menyebalkan. Tommy kemudian menjauhkan wajahnya.


"Mengganggu saja," ucap Tommy kesal.


Sedangkan Kimberly tersenyum melihat wajah kesal dan mendengar ucapan dari Tommy.


Sementara sang pelaku tersenyum puas karena berhasil menggagalkan aksi ciuman dari Tommy.


***


Di sebuah cafe terkenal dan mahal terlihat beberapa orang memenuhi tempat itu. Baik di dalam maupun di luar. Di bagian luar terlihat begitu banyak laki-laki berpakaian hitam tengah berjaga-jaga.


"Sebelum kita masuk ke intinya. Terlebih dahulu saya akan memperkenalkan diri saya kepada tuan Arthur dan Tuan Ditmar terhormat," ucap Andrean dengan wajah dinginnya.


Mendengar perkataan dari pria di hadapannya membuat Ditmar dan Arthur terkejut. Mereka tidak tahu siapa pria yang duduk di hadapannya ini.


Andrean tersenyum ketika melihat wajah terkejut kedua musuhnya. Begitu juga dengan Fathir dan yang lainnya.


"Kenalkan saya adalah Andrean Alexander. Saya adalah putra pertama dari Gustavo Alexander, pendiri perusahaan Al'Xander Group!"


Deg..


Seketika Arthur dan Ditmar terkejut ketika mendengar nama putra sulung dari Gustavo Alexander.


"Dan ini!" Andrean menunjuk kearah dua adik laki-lakinya yang duduk di samping kanan putranya Arka.


"Hallo tuan Ditmar, tuan Arthur?" sapa Judika dan Jordy bersamaan.


"Mereka berdua adalah adik-adikku," ucap Andrean.


Judika dan Jordy tersenyum menatap wajah Ditmar dan Arthur. Lalu kemudian mereka memperkenalkan namanya masing-masing.


"Aku Judika Alexander."


"Aku Jordy Alexander."


"Senang bertemu dengan kalian berdua," ucap Judika dan Jordy bersamaan.


"Dan terakhir!" seru Andrean. "Di samping kananku ini adalah Arka Alexander, putra sulungku!"


Mendengar perkataan serta perkenalan diri dari keluarga Alexander membuat Ditmar dan Arthur terkejut dan syok. Mereka tidak menyangka jika akan bertemu dengan putra pertama, putra kedua dan putra bungsu dari keluarga Alexander.


Mereka juga tidak tahu kenapa keluarga Alexander ingin sekali bertemu dengan mereka. Bahkan mereka bisa melihat ada aura tak mengenakkan dari tatapan mata keluarga Alexander.


Andrean melirik sekilas kearah sahabatnya yaitu Fathir Aldama. Dirinya dapat melihat bahwa sahabatnya itu menatap tajam kearah Arthur dan Ditmar. Begitu juga dengan kedua putranya Jason dan Enda serta keponakannya Pasya.


"Fathir, apa kamu akan diam saja? Apa kamu tidak memperkenalkan dirimu, kedua putramu dan keponakanmu?" tanya Andrean dengan bersamaan mengalihkan perhatiannya menatap Arthur dan Ditmar.


Mendengar perkataan dari Andrean membuat Arthur dan Ditmar langsung melihat kearah Fathir.


"Sepertinya aku tidak perlu memperkenalkan diriku kepada mereka. Aku yakin mereka sudah tahu tentangku dan keempat putraku," Fathir menjawab pertanyaan dari sahabatnya Andrean dengan menatap tajam kearah Arthur dan Ditmar.


"Bukankah begitu tuan Arthur dan tuan Ditmar?" sindir Fathir.


Mendengar pertanyaan dari Fathir membuat Arthur dan Ditmar langsung menjawabnya.


"Iya, itu benar! Kamu berdua sudah kenal dengan tuan Fathir dan keempat putranya," jawab Ditmar dan diangguki oleh Arthur.


Seketika terukir senyuman manis di bibir Fathir, Jason dan Enda. Tapi tidak dengan Pasya.


"Lalu bagaimana denganku? Apa kalian mengenaliku?" tanya Pasya dengan tatapan nyalangnya.


"Anda.... Anda adalah Jenderal polisi Pasya," jawab Ditmar gugup.


Terukir senyuman di sudut bibirnya Pasya ketika mendengar jawaban serta nada gugup dari Ditmar.


"Ternyata anda tahu tentang saya. Namun sayangnya ada satu hal yang tidak anda dan rekan anda ketahui tentang saya. Saya adalah Pasya Fidelyo, putra dari pasangan Rafassya Fidelyo dan Helena Aldama. Dan kalian tahu kan siapa mereka berdua? Dan apa hubungannya dengan Fathir Aldama dan Nashita Fidelyo?"


Pasya menatap penuh amarah kearah Arthur dan Ditmar. Begitu juga dengan yang lainnya.


Brak..


Seketika Jason menggebrak meja dengan kuat sembari berdiri dari duduknya. Dirinya sudah tidak tahan lagi untuk menyelesaikan masalah yang menimpa adik perempuannya.


"Kalian benar-benar keterlaluan! Kalian sudah melewati batasan!" teriak Jason menunjuk kearah Arthur dan Ditmar.


Enda ikut berdiri dengan menatap marah kearah Arthur dan Ditmar.


"Keluarga kami tidak pernah mencari masalah dengan keluarga kalian! Keluarga kami tidak pernah mengusik keluarga kalian! Kenapa kalian justru mencari masalah dengan mengusik salah satu anggota keluarga kami, hah?!" teriak dan bentak Enda.


Mendengar perkataan dari Enda yang mengatakan bahwa mereka telah mengusik salah satu anggota keluarga Aldama menatap bingung kearah Jason dan Enda.


"A-apa maksud dari perkataan tuan Jason dan tuan Enda?" tanya Ditmar.


"Ka-kami tidak mengerti," sahut Arthur.


Mendengar pertanyaan serta tatapan bingung dari Ditmar dan Arthur membuat Andrean, Fathir dan yang lainnya tersenyum mengejek


"Tidak tahu apa pura-pura tidak tahu?" tanya Judika.


"Tahu tapi justru pura-pura tidak mengetahuinya," ucap Jordy.


"Kami benar-benar tidak tahu," jawab Arthur dan Ditmar bersamaan.


Andrean berdiri dari duduknya. "Apa anak perempuan kalian yaitu Linka dan Winda pernah mengatakan bahwa mereka ribut di toko kue?" tanya Andrean dengan menatap wajah Arthur dan Ditmar secara bergantian.


Mendengar pertanyaan dari Andrean membuat Arthur dan Ditmar berpikir sejenak tentang anak perempuannya yang mengadu akan keributannya di toko kue.


Seketika Arthur dan Ditmar teringat akan masalah yang dihadapi oleh anak perempuannya ketika di toko kue itu.


"Bagaimana? Kalian sudah ingat?" tanya Fazio.


"Su-sudah," jawab Ditmar.


"Lalu apa hubungannya dengan kalian dengan masalah anak-anak kami yang ribut di toko kue itu?" tanya Arthur.


"Ada!" Arka langsung menjawab perkataan dari Arthur. "Anak perempuan kalian ribut dengan kedua adikku," sahut Arka dengan tatapan amarahnya.


Judika mengeluarkan ponselnya. Setelah itu, Judika membuka galeri foto dimana disana tersimpan sebuah video.


Judika kemudian membuka video itu lalu memperlihatkannya ke hadapan Arthur dan Ditmar.


"Ini kalian lihatlah!" seru Judika dengan mengarah layar ponselnya kearah Arthur dan Ditmar.


Arthur dan Ditmar langsung melihat kearah layar ponsel milik Judika. Mereka melihat sebuah video kejadian di sebuah toko kue.


Seketika Arthur dan Ditmar terkejut dan juga syok ketika melihat adegan demi adegan di dalam video itu.


Setelah video berakhir, Judika mematikan ponselnya dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Kalian sudah lihat kan kejadian yang sebenarnya. Di dalam video itu yang memulai keributan terlebih dahulu adalah anak perempuan kalian. Sementara kedua adikku, mereka hanya membela diri!" bentak Arka.


"Dan untuk putraku, Tommy. Dia melakukan hal itu hanya semata-mata untuk melindungi kakak perempuannya. Tidak lebih! Dan seenaknya kalian ingin membalas atas sikap kedua anak-anakku!" bentak Andrean.


"Dan lebih parahnya lagi. Dan ini sangat menjijikkan. Kalian ingin membalas rasa sakit hati kalian akan anak perempuan kalian yang diperlukan buruk oleh Tommy dengan cara yang sangat murahan. Kalian menggunakan adik perempuanku!" teriak Enda sembari menunjuk kearah Arthur dan Ditmar.


Deg..


Arthur dan Ditmar terkejut ketika mendengar ucapan dari Enda tentang adik perempuan.


"Apa maksud tuan Enda?" tanya Arthur gugup.


Enda tidak langsung menjawab pertanyaan dari Arthur. Justru Enda mengambil ponselnya di dalam saku celananya.


Setelah ponselnya berada di tangannya. Enda membuka aplikasi Galeri. Kemudian mengklik satu foto yang tak lain adalah foto adik perempuannya.


Setelah mendapatkan satu foto adik perempuannya, Enda kemudian memperlihatkan foto adik perempuannya itu kepada Arthur dan Ditmar.


"Kalian lihat ini!" teriak Enda.


Arthur dan Ditmar langsung melihat kearah layar ponsel milik Enda. Dan seketika keduanya terkejut.


"Gadis itu....." perkataan Ditmar terpotong karena Fathir sudah terlebih dulu bersuara.


"Dia putri bungsuku. Namanya adalah Kimberly Aldama. Sementara untuk pemuda yang menurut kalian telah berbuat buruk terhadap anak perempuan kalian adalah calon menantuku." Fathir menatap marah kedua pria yang ada di hadapannya itu.


"Kalian menggunakan putriku demi membalaskan sakit hati kalian akan anak perempuan kalian yang diperlukan buruk oleh Tommy! Cara kalian benar-benar licik dan murahan!"


"Kalian mengerahkan para anak buah kalian untuk menculik putriku. Segala cara kalian lakukan agar rencana kalian tercapai. Kalian terus memerintahkan anak buah kalian untuk menculik putriku! Sebelum berhasil kalian belum berhenti!"


"Kalian menargetkan putriku bukan hanya karena putriku kekasih dari pemuda yang sudah berlaku buruk terhadap anak perempuan kalian. Kalian menargetkan putriku karena putriku telah membocorkan niat jahat kalian untuk menghancurkan perusahaan Al'Xander Group dengan cara memasukan sepuluh orang ke dalam perdagangan itu. Setelah itu, kalian akan menghancurkan perusahaan Al'Xander Group dari dalam lalu berakhir kalian merebutnya!"


Fathir berbicara dengan penuh penekanan. Dan tatapan matanya tak pernah lepas dari kedua pria tersebut. Fathir benar-benar marah dan dendam saat ini. Gara-gara kedua pria itu, putrinya harus kembali masuk rumah sakit dan kembali izin tidak masuk sekolah akibat cedera yang dideritanya.


Arthur dan Ditmar terkejut ketika mendengar ucapan dari Fathir. Mereka tidak menyangka jika semua rencana mereka diketahui oleh keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo.


"Cara balas dendam kalian benar-benar murahan. Pertama, kalian mengincar perusahaan Al'Xander Group. Dan yang kedua kalian menargetkan Kimberly," sahut Fazio.


"Aku kasih tahu kalian berdua. Hari ini seharusnya putraku Tommy ikut. Dia ingin sekali menghabisi kalian berdua karena telah menyakiti gadisnya, tapi demi memenuhi permintaan dari gadisnya. Putraku akhirnya mengalah. Putraku tidak jadi ikut demi menemani gadis kesayangannya."


Seketika Jason berteriak memanggil para anggotanya. Begitu juga dengan Arka. Mereka memanggil para anggotanya untuk masuk ke dalam lalu memberikan perintah untuk membawa Arthur dan Ditmar ke markas milik Jason dikarenakan disini Kimberly yang menjadi korban.


"Kalian!" seru Jason menatap kearah para anggotanya yang sudah berdiri tak jauh dari Arthur dan Ditmar duduk.


"Bawa mereka berdua ke markas. Setelah tiba disana. Kurung mereka!"


"Baik, Bos!"


"Kalian, bantu mereka untuk membawa kedua pria itu!" perintah Arka kepada anggotanya.


"Baik, Bos!"


Para anggota Jason dan para anggotanya Arka langsung menyeret paksa tubuh Arthur dan Ditmar untuk keluar meninggalkan cafe.


"Tidak tuan Fathir, tuan Andrean! Tolong maafkan saya!" teriak Arthur.


"Tuan Andrean, tuan Fathir. Maafkan saya. Saya berjanji tidak akan mencari masalah lagi dengan keluarga tuan. Begitu juga dengan orang-orang terdekat tuan!" teriak Ditmar.


Mendengar teriakan-teriakan dari Arthur dan Ditmar tidak membuat Fathir, Andrean dan yang lainnya luluh. Mereka tetap pada pendiriannya.


Mereka semua memutuskan untuk menghancurkan seluruh keluarga besar Mendosa dan keluarga besar Horlando.


Mereka tidak bisa memberikan kata damai untuk kedua manusia itu karena bagi mereka apa yang telah dilakukan oleh kedua pria itu sudah sangat keterlaluan. Apalagi sudah bermain-main dengan nyawa.


Beruntung Fathir, Andrean dan keluarganya tidak membunuh mereka dan diganti dengan kedua pria itu dan seluruh anggota keluarganya kehilangan segalanya.