
"Huuu!" teriak para pengunjung mall kearah Ashilla dan ibunya.
Yah! Ashilla dan ibunya berada di mall. Keduanya sedang berbelanja keperluan untuk persediaan di rumah.
Namun ketika Ashilla dan ibunya sedang asyik melihat-lihat, tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan kedatangan tiga perempuan. Ketiganya langsung mencari masalah dengan Ashilla dengan menghina Ashilla di depan para pengunjung Mall lainnya.
"Nggak nyangka jika perempuan itu tega melakukan hal serendah itu terhadap perempuan lain," sahut pengunjung perempuan.
"Hei, nyonya! Apa nyonya tidak mendidik putri nyonya dengan benar sehingga putri nyonya bisa melakukan hal rendah itu?"
"Mi, jangan dengarkan apapun yang mereka katakan. Mami sudah tahu kan siapa perempuan yang berdiri di hadapan kita ini?"
"Kamu jangan khawatir sayang. Mami tidak akan terpancing akan ucapan dari para pengunjung Mall. Palingan nanti mereka akan menangis setelah ini dan memohon ampun kepada kita terutama kepada kamu."
"Iya, Mi! Mami benar. Jadi untuk saat ini kita cukup ikuti saja permainan tiga perempuan busuk itu.
"Ashilla, aku mohon padamu. Kembalikan Zivan padaku. Kenapa kau merebut suamiku, Ashilla!"
Kalina terus memainkan peran antagonisnya di depan semua para pengunjung Mall. Dirinya melakukan semua itu agar semua pengunjung Mall akan memihak padanya dan menghina bahkan mencaci maki Ashilla di depan ibunya.
Tujuan Kalina melakukan semua ini adalah dirinya tidak akan membiarkan Zivan bahagia dengan perempuan lain. Jika dia tidak bisa mendapatkan Zivan kembali, maka perempuan manapun tidak akan bisa hidup bahagia dengan Zivan. Dia akan buat perempuan itu menderita sama seperti dirinya.
"Suami?! Apa kamu yakin jika Zivan adalah suami kamu nona Kalina? Bisa buktikan bahwa Zivan adalah suami kamu di hadapanku dan di hadapan semua orang yang ada disini." Ashilla berbicara sambil menatap wajah Kalina dan dua teman perempuannya.
Mendengar perkataan sekaligus pertanyaan dari Ashilla membuat Kalina menggeram marah di dalam hatinya, namun Kalina berusaha untuk bersikap lembut dan manis di hadapan semua orang yang saat ini tengah menonton adegan yang dia mainkan bersama kedua temannya.
"Apa kau masih tidak percaya jika kedua wanita bersamaku ini?" tanya Kalina menunjuk kearah dua temannya itu. "Mereka berdua adalah kakak perempuannya Zivan!"
"Maaf ya nona Kalina. Bukan aku tidak mau mempercayai ucapanmu itu. Tapi yang aku dengar dari pengakuan Zivan sendiri bahwa dia tidak memiliki kakak perempuan, karena dia adalah putra pertama dari keluarga Fidelyo dan keluarga Sheehan. Zivan justru berstatus sebagai kakak laki-laki yang memiliki tiga adik. Dua adik laki-laki dan satu adik perempuan. Bahkan nona Kalina sudah bertemu dengan salah satu adik laki-laki dari Zivan beberapa hari yang lalu di sebuah toko baju."
Ashilla berbicara sembari memperjelas tentang status Zivan dan juga tentang adik-adiknya Zivan sembari tersenyum manis menatap wajah Kalina yang saat ini memerah karena malu.
Kalina menatap marah kearah Ashilla. Begitu juga dengan kedua temannya itu. Mereka tidak terima akan sikap santai Ashilla. Sedikit pun Ashilla tidak bersedih apalagi ketakutan.
Sementara sebagian dari para pengunjung Mall yang mendengar ucapan demi ucapan dari Ashilla seketika berubah memihak kepada Ashilla. Bahkan mereka mulai mempercayai semua perkataan Ashilla. Bahkan mereka bisa melihat Ashilla yang begitu tenang ketika menghadapi Kalina. Berbeda dengan Kalina yang selalu berkata ketus dan selalu menyerang Ashilla.
"Nona Ashilla," panggil salah satu pengunjung wanita.
Ashilla langsung melihat kearah pengunjung wanita itu. "Iya, ada apa?"
"Maaf sebelumnya. Tadi nona Ashilla mengatakan bahwa laki-laki yang bernama Zivan itu adalah kekasih sekaligus calon suami nona. Bahkan perempuan itu menyebut laki-laki bernama Zivan itu adalah suaminya adalah putra dari Liana dan Nirvan?" tanya pengunjung wanita itu.
Ashilla tersenyum manis menatap wajah muda dan cantik pengunjung wanita itu.
"Iya, Nyonya! Zivan itu adalah putra pertama dari Nirvan Fidelyo dan Liana Sheehan," jawab Ashilla.
Mendengar jawaban dari Ashilla seketika membuat pengunjung wanita itu langsung terkejut. Pasalnya pengunjung wanita itu tak lain adalah sahabat dari ibunya Zivan yaitu Liana Sheehan.
"Kalau saya boleh tahu, dari mana anda tahu tentang nama kedua orang tua dari kekasih saya? Padahal saya tidak menyebutkan nama mereka berdua?" tanya Ashilla dengan menatap wajah pengunjung wanita itu.
Wanita itu tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Ashilla. "Pertama, bagi yang mengenal keluarga Fidelyo, walau tidak mengenal keluarga Sheehan. Mereka sudah pasti tahu siapa saja anggota keluarga dari keluarga Fidelyo! Sekali pun mereka jarang terekspos di depan umum seperti tuan Fathir Aldama dan nyonya Nashita Fidelyo yang menyembunyikan tentang identitas putri bungsunya di depan umum. Mereka melakukan itu atas permintaan putri mereka. Kedua, saya adalah sahabat dari Liana Sheehan."
Deg..
Semua orang yang melihat kejadian dimana Ashilla dan ibunya dihina seketika terkejut ketika mendengar pengakuan dari salah satu pengunjung Mall yang mengatakan bahwa dia adalah sahabat dari keluarga berpengaruh. Sebelas dua belas dengan keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo bahkan Ravindra.
Ashilla seketika tersenyum lebar ketika mendengar ucapan terakhir dari wanita itu.
"Berarti nyonya tahu dong siapa saja anak-anaknya dari tuan Nirvan dan nyonya Liana?"
"Tentu."
"Bisa beritahu saya siapa anak-anak dari tuan Nirvan dan nyonya Liana. Kalau perlu nyonya mengatakannya sambil menatap mereka semua!"
Ashilla berucap sambil menunjuk kearah para pengunjung yang masih mengeluarkan hinaan dan cacian untuknya dan ibunya. Dan berakhir kearah tiga perempuan yang sejak awal sedang memainkan perannya masing-masing.
Mendengar pertanyaan dari Ashilla membuat wanita paruh baya itu tersenyum. Sejak awal wanita itu tidak ikut menghina atau pun mencaci Ashilla dan ibunya. Wanita itu hanya menyimak dan memperhatikan saja. Dan dari situ, wanita paruh baya itu tahu mana yang wanita baik dan mana wanita yang jahat.
Wanita itu kemudian menatap satu persatu wajah para pengunjung mall yang masih melihat kearah Ashilla dan ketiga perempuan busuk itu.
"Saya Indah Lestari. Saya adalah sahabat dari Liana Sheehan. Dan saya sangat mengenal sahabat saya itu. Bahkan saya tahu Liana memiliki anak berapa?"
"Berarti nyonya tahu tentang laki-laki yang bernama Zivan?" tanya pengunjung wanita yang lain.
"Tentu saya tahu," jawab wanita itu.
"Apa kedua perempuan itu adalah kakak perempuan dari laki-laki yang bernama Zivan?"
Wanita itu melihat kearah dua perempuan yang mengaku sebagai kakak perempuan Zivan.
"Tidak. Mereka bukan kakak perempuan dari Zivan karena Zivan adalah putra sulungnya Liana dan Nirvan. Seperti yang sudah dikatakan oleh nona Ashilla bahwa tuan Nirvan dan sahabat saya Liana memiliki tiga anak laki-laki dan satu anak perempuan!"
Mendengar pengakuan dari wanita tersebut membuat semua pengunjung Mall tersebut terkejut.
"Jika kalian masih tidak percaya dengan perkataan saya. Silahkan kalian cari tahu kebenarannya. Jangan terlalu mempercayai apa yang kalian dengar dan apa yang kalian lihat."
Setelah mengatakan itu, wanita itu berpamitan dengan Ashilla dan ibunya untuk pergi. Dirinya tidak ingin berlama-lama berada disana.
"Bagaimana? Apa masih mau lanjut untuk dramanya, hum?"
Kalina mengepal kuat kedua tangannya ketika mendengar ucapan serta ejekan dari Ashilla. Dirinya tidak terima akan sikap Ashilla padanya.
"Dikarenakan aku dan ibuku ingin menghibur diri dengan berbelanja di Mall ini. Jadi aku dan ibuku mohon undur dir. Bye!"
Setelah mengatakan itu, Ashilla menggandeng tangan ibunya untuk pergi meninggalkan Kalina, kedua temannya dan para kerumunan.
Namun ketika Ashilla pergi, tiba-tiba Kalina nekad hendak menyerang Ashilla dari belakang.
Sreekk..
Plak..
Bruukk..
"Aakkhhh!"
Seketika semua orang terkejut ketika melihat seorang pemuda langsung menahan tangan Kalina dengan kuat lalu menampar keras wajahnya dan berakhir pemuda itu mendorong kuat tubuh Kalina hingga tersungkur di lantai.
Ashilla dan ibunya langsung membalikkan badannya ketika mendengar suara teriakan dari arah belakang.
Seketika Ashilla terkejut ketika melihat kekasihnya yang tengah menatap penuh amarah kearah Kalina yang saat ini tersungkur di lantai dalam keadaan terluka di sudut bibirnya.
"Zivan," ucap Ashilla.
Pemuda yang datang langsung menyerang Kalina adalah Zivan Fidelyo.
Zivan melihat kearah Ashilla kekasihnya dan juga calon ibu mertuanya. Setelah itu, Zivan kembali menatap kearah Kalina.
"Dasar perempuan menjijikkan dan juga rendahan! Aku sudah cukup sabar melihat kelakuan busukmu Kalina!" teriak Zivan.
"Mau apalagi kau, hah?! Apa tidak cukup kau dulu menyakitiku dengan bermain di belakangku?! Apa tidak cukup kau memberikan luka di hatiku selama kita menjalin hubungan dulu?! Kenapa kau masih saja menggangguku Kalina!" teriak Zivan menggema di dalam Mall tersebut.
Mendengar ucapan demi ucapan serta teriakan dari Zivan membuat Kalina seketika ketakutan. Begitu juga dengan para pengunjung yang menghina Ashilla dan ibunya.
"Kau yang mengkhianatiku dulu. Kau yang mencampakkanku dulu. Kau juga yang lebih memilih selingkuhanmu itu dari pada aku kekasihmu. Dan sekarang apa?!" teriak Zivan.
"Setelah aku bahagia dengan Ashilla. Kau kembali dan ingin menyakiti Ashilla. Kau ingin menghancurkan hubunganku dengan Ashilla. Apa kau sudah bosan hidup, hah?!"
Zivan menatap kearah Kalina dengan tatapan penuh amarah dan juga dendam.
Zivan kemudian melangkah mendekati Kalina yang kesakitan di lantai. Dirinya hendak kembali menyakiti Kalina.
Namun langkahnya seketika terhenti karena mendapatkan sebuah pelukan dari depan.
"Hiks... Zivan, cukup. Jangan sakiti Kalina. Bagaimana pun Kalina itu perempuan."
Mendengar isakan dan ucapan dari Ashilla seketika emosi Zivan sedikit mereda. Tangannya kemudian melingkar ke belakang punggung Ashilla.
"Maafkan aku yang sudah membuatmu takut."
"Janji tidak akan main tangan dengan Kalina?"
"Baiklah, aku janji. Tapi aku tidak janji untuk membebaskan dia dan juga kedua temannya itu. Mereka akan tetap mendapatkan balasan dariku dan juga dari keluargaku."
"Iya, itu hak kamu dan keluarga kamu. Aku tidak akan ikut campur."
Zivan tersenyum lalu mengeratkan pelukannya bersamaan dengan ciuman di pucuk kepala Ashilla.
Melihat bagaimana perlakuan lembut Zivan kepada putri satu-satunya membuat Salima tersenyum bahagia. Dirinya benar-benar bahagia dan bersyukur putrinya bertemu dengan laki-laki baik dan perhatian seperti Zivan.
Setelah puas memeluk Zivan. Ashilla pun melepaskan pelukannya lalu kembali bersama ibunya.
Zivan menatap penuh dendam kearah Kalina dan kedua temannya Kalina.
"Aku rasa sudah cukup aku memberikan kebebasan padamu Kalina. Aku diam bukan aku tidak tahu apa yang kau lakukan di belakangku. Sudah waktunya kau menerima hukuman atas kelakuan burukmu terhadapku dan juga terhadap Ashilla. Sebentar lagi kau dan keluarga besarmu akan menjadi gembel di jalanan. Dengan kata lain kau dan keluarga besarmu akan kehilangan segalanya."
Deg..
Kalina terkejut ketika mendengar ucapan dari Zivan. Dirinya tidak menyangka jika apa yang dirinya lakukan akan berimbas kepada seluruh anggota keluarganya.
Zivan menatap kearah dua teman Kalina dan beralih menatap kearah para pengunjung mall yang ikut menghina dan mencaci maki Ashilla dan ibunya.
"Dan untuk kalian juga!" teriak Zivan menunjuk kearah dua teman Kalina dan para pengunjung mall.
"Apa yang aku lakukan kepada perempuan busuk itu beserta seluruh anggota keluarganya. Itu juga yang akan aku lakukan kepada kalian semua! Bersiaplah! Sebentar lagi kalian akan menjadi gembel di jalanan!"
"Jika kalian masih berani mengusikku dan orang-orang terdekatku, maka ucapkan selamat tinggal kepada dunia ini!"
Setelah mengatakan itu, Zivan membawa Ashilla dan ibunya untuk berbelanja keperluan kedua wanita itu. Dan tidak mempedulikan wajah ketakutan Kalina, kedua temannya Kalina dan para pengunjung Mall tersebut.
Mereka semua saat ini tengah ketakutan ketika mendengar ucapan dan ancaman dari Zivan.