
Kimberly sudah berada di rumah. Dan saat ini Kimberly tengah duduk di sofa ruang tengah sembari memeluk boneka kelinci kesayangannya.
Kimberly saat ini tengah memikirkan sesuatu. Sesuatu yang berhubungan dengan salah satu kakak kesayangannya yaitu Riyan.
Flashback On
Kimberly berada di sebuah ruangan private bersama dengan dua pasangan manusia. Tatapan matanya menatap tajam kearah wanita yang kini tengah bergelayut manja dengan laki-laki di sampingnya.
"Sayang, kapan kau meminta kepada Riyan untuk segera menikahimu. Jangan terlalu lama menunggu. Kalau perlu kau paksa saja dia buat menikahimu secepatnya."
"Tidak bisa sayang. Bagaimana pun aku harus terlihat sebagai wanita baik-baik dimata Riyan sehingga nantinya Riyan dan keluarga besarnya beranggapan bahwa aku perlu yang baik serta tulus mencintai Riyan. Setelah nanti aku menikah dengan Riyan, kita berlahan-lahan akan menguras semua uangnya. Bahkan kita akan merebut perusahaan miliknya."
Mendengar ucapan demi ucapan dari Aruna membuat sang kekasih tersenyum bahagia.
Sementara Kimberly mengepal kuat kedua tangannya. Dirinya benar-benar marah mendengar perkataan dari kekasih sekaligus tunangan kakaknya.
"Ide yang bagus. Setidaknya dengan kita memiliki satu perusahaan milik keluarga Aldama. Orang-orang tidak akan mudah melawan kita. Tidak apa jika kita tidak bisa menyaingi keluarga Aldama. Setidaknya kita memiliki satu perusahaan milik keluarga Aldama."
"Hm! Kau benar sekali sayang. Maka dari itu, kau harus bersabar. Tidak perlu buru-buru. Kita bermain cantik. Dengan kita bermain cantik, kehidupan kita berdua dan keluarga kita akan terjamin. Kita tidak perlu bekerja susah payah. Cukup dengan aku memperlihatkan sisi lemahku dan sisi polosku di depan Riyan. Riyan pasti akan luluh."
Laki-laki itu memeluk tubuh kekasihnya lalu memberikan ciuman di bibir sang kekasih.
"Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu. Hanya kau laki-laki yang aku cintai di dunia ini."
Flashback Off
Tes!
Seketika air mata Kimberly jatuh membasahi wajah cantiknya ketika mengingat adegan tersebut. Dirinya tidak terima kakaknya yang begitu tulus mencintai Aruna justru dibalas dengan kebohongan.
"Kau benar-benar jahat kak. Aku bersumpah akan membalasmu. Kau sudah berani membohongi kakakku," batin Kimberly.
Tanpa Kimberly ketahui, keempat kakaknya sejak tadi memperhatikan dirinya di ruang tengah. Keempat kakaknya itu memang berniat ingin menemuinya untuk membahas soal video yang dikirim oleh Deryl kepada Uggy.
Namun ketika mereka keluar dari kamar masing-masing dan hendak menuju ruang tengah, mereka melihat adik perempuannya sudah berada disana.
Mereka tidak langsung menghampiri sang adik. Justru mereka memperhatikan sang adik yang sibuk dengan pikirannya.
Ketika melihat adik perempuannya menangis. Jason, Uggy, Enda dan Riyan memutuskan untuk menghampiri adik perempuannya.
^^^
Kini Jason, Uggy, Enda dan Riyan sudah duduk di sofa ruang tengah. Mereka menatap wajah kearah adik perempuannya yang saat ini masih melamun. Adik perempuannya itu sama sekali tidak menyadari kedatangannya.
Riyan yang memang memilih duduk di samping adik perempuannya langsung menepuk pelan bahu adik perempuannya itu.
Puk!
Mendapatkan tepukan di bahunya membuat Kimberly terkejut. Dirinya tersadar dari lamunannya.
Kimberly seketika melihat kearah samping dimana kakak keempatnya tersenyum padanya. Lalu Kimberly menatap ketiga kakaknya yang lain. Sama hal seperti kakak keempatnya itu. Kakak pertama, kakak kedua dan kakak ketiganya itu juga tersenyum padanya.
Riyan mengusap lembut kepala belakang adiknya sehingga membuat Kimberly menolehkan wajahnya menatap wajah tampan kakaknya itu.
"Ada apa, hum? Kenapa kamu nangis?" tanya Riyan.
Tanpa diminta, air matanya kembali jatuh membasahi wajahnya. Kimberly menangis ketika mendengar pertanyaan dari kakaknya.
"Ada apa, hum? Katakanlah," jawab Riyan sambil menghapus air mata adiknya.
"Apa... Apa kak Iyan beneran cinta sama kak Aruna?"
"Kenapa? Apa kamu sudah tidak sabaran untuk melihat kakak menikah, hum?" goda Riyan.
"Jawab saja pertanyaanku, kak!" ucap Kimberly.
Jason, Uggy dan Enda memperhatikan raut wajah dan tatapan mata adik perempuannya. Dapat mereka lihat bahwa adik perempuannya itu menyimpan sesuatu. Dan itu berhubungan dengan Riyan dan Aruna.
"Iya. Kakak benar-benar mencintai Aruna. Rencananya bulan keempat kakak akan bertunangan dengan Aruna."
Kimberly seketika membuang pandangannya ke depan. Dan lagi-lagi air matanya kembali jatuh membasahi wajahnya.
"Kak, seandainya saja aku meminta kakak buat mutusin hubungan dengan kak Aruna. Apa kak Iyan mau mengabulkannya?" tanya Kimberly.
Mendengar perkataan sekaligus pertanyaan dari adik perempuannya membuat Riyan terkejut. Begitu juga dengan Jason, Uggy dan Enda.
"Kakak akan mengabulkan keinginan kamu itu asal kamu memberikan satu alasan kuat meminta kakak untuk memutuskan hubungan dengan Aruna," ucap Riyan.
Seketika Kimberly langsung melihat wajah kakaknya, tepatnya di manik hitam sang kakak. Dan dapat dilihat oleh Kimberly ada kesungguhan disana. Kakaknya itu benar-benar akan mengabulkan permintaannya jika dirinya memberikan satu alasan kuat kepada kakaknya.
Kimberly berdiri dari duduknya dengan tatapan matanya menatap wajah tampan kakaknya itu.
"Aku tidak bisa memberikan satu alasan atau bukti kepada kakak jika nanti aku meminta kakak untuk mutusin kak Aruna karena aku tidak mau kakak sedih dan terluka. Aku hanya ingin menjaga senyuman kakak itu."
"Tapi kalau aku boleh jujur sama kakak. Aku tidak menyukai kak Aruna. Dan jika boleh aku mengatakan sesuatu tentang kak Aruna di hadapan kakak, aku akan katakan bahwa kak Aruna itu bukan perempuan baik-baik. Kak Aruna tidak pantas bersanding dengan laki-laki sebaik kakak."
Setelah mengatakan itu, Kimberly pergi meninggalkan keempat kakaknya menuju kamarnya di lantai dua.
Jason, Uggy, Enda dan Riyan menatap kepergian Kimberly dengan hati yang sedih, terutama Riyan.
"Pasti Kimberly mengetahui sesuatu tentang Aruna? Kalau tidak, Kimberly tidak mungkin berbicara seperti itu kepada Riyan. Aku tahu bagaimana sifat dan watak Kimberly jika ada orang baru yang masuk ke dalam kehidupan kakak-kakaknya." Jason berbicara di dalam hatinya.
Jason menatap kearah adik ketiganya. Dapat dilihat oleh Jason bahwa adiknya itu tampak sedih setelah berbicara dengan adik perempuannya.
"Riyan," panggil Jason.
Riyan langsung melihat kearah kakak tertuanya. "Iya, kak!"
"Kamu pasti memikirkan perkataan Kimberly barusan kan?"
"Iya, kak! Aku juga tidak menyangka jika Kimberly tidak menyukai Aruna. Padahal saat pertama kali mereka bertemu. Kimberly begitu antusias dan juga terlihat bahagia. Sama seperti ketika Kimberly menerima kak Rica," sahut Riyan.
"Riyan." kini Uggy yang memanggil Riyan.
"Iya, kak Uggy."
"Biar tidak ada yang tersakiti. Dan sebelum terlambat. Ada baiknya kamu cari tahu semuanya tentang Aruna. Cari tahu juga latar belakang keluarganya," saran Uggy.
"Jika Kimberly berbicara seperti itu sama kamu. Berarti Kimberly sudah mengetahui sesuatu tentang Aruna. Kimberly tidak ingin mengatakannya sama kamu karena tidak ingin membuat kamu sedih," ucap Enda.
Mendengar ucapan demi ucapan dari ketiga kakaknya membuat Riyan memutuskan untuk mencari tahu lebih dalam lagi tentang kehidupan Aruna dan keluarganya. Riyan tidak ingin terjadi sesuatu terhadap adik perempuannya, karena Riyan tahu bagaimana nekat adik perempuannya itu untuk membalas orang-orang yang sudah mencari masalah dengan keluarganya.
"Baiklah. Aku akan mencari tahu tentang Aruna dan keluarganya," ucap Riyan.
"Kakak akan bantu kamu," sahut Uggy.