THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Kekesalan Kimberly Terhadap Andhika



Jason dan Rica saat ini sedang jalan-jalan di mall yang terkenal di Jerman. Keduanya menghabiskan waktu bersama untuk menggantikan hari-hari kencan mereka karena sibuk dengan pekerjaan dan keluarga.


Jason maupun Rica sama-sama memiliki sifat yang mana sifatnya itu adalah keluarga, kekasih dan pekerjaan. Jadi keluarga adalah prioritas utama. Namun bukan berarti mereka tidak saling berkomunikasi. Baik Jason maupun Rica saling berkomunikasi dan bertukar informasi mengenai keluarga dan pekerjaan. Bahkan sering menanyakan keadaan masing-masing.


Hubungan percintaan mereka tak sama seperti hubungan percintaan pada umumnya yang mana setiap hari selalu menempel dan selalu mengumbar kemesraan. Bagaimana pun Jason dan Rica memiliki urusan pribadi masing-masing, salah satunya berkumpul dengan keluarga atau teman-temannya.


Kini Rica tengah mengitari susunan baju wanita. Dirinya ingin mencari tiga pasang baju yang sama alias couple. Tiga pasang baju itu dibeli untuk dirinya, untuk adik perempuannya Luna dan untuk calon adik iparnya Kimberly.


Setelah mendapatkan tiga pasang baju. Dan ketiganya begitu cantik, nyaman dan bagus. Rica pun membawanya. Dan pergi ke tempat lain.


Selesai mendapatkan tiga baju untuk dirinya dan kedua adiknya. Kini Rica beralih di bagian pakaian laki-laki.


Ya! Rica ingin membelikan setelan jas untuk calon suaminya Jason Aldama. Bukan hanya setelan jas saja yang akan dibelikan oleh Rica. Dirinya juga akan membelikan jam tangan untuk Jason.


Sementara Jason berada di toko sebelah yaitu toko perhiasan. Jason berada disana hendak membelikan kekasihnya sebuah perhiasan satu set yang terdiri dari kalung berlian, cincin berlian, gelang berlian dan anting berlian.


Jason membelikan kekasih satu set perhiasan mewah yang harganya lumayan 'waw' untuk Rica kenakan di acara ulang tahun perusahaannya sahabatnya tiga hari lagi.


Setelah selesai dengan urusan masing-masing. Baik Jason maupun Rica kini telah berada di luar dengan menentang paper bag.


Jika Rica menenteng empat paper bag. Sementara Jason menentang satu paper bag berukuran kecil.


"Mau kemana lagi?" tanya Jason.


"Makan. Kamu kan belum makan ketika meninggalkan perusahaan," jawab Rica.


Jason tersenyum. "Baiklah. Kita makan di restoran yang ada di mall ini saja."


"Hm! Baiklah," jawab Rica.


Ketika mereka hendak melangkah, tiba-tiba seorang wanita cantik tak sengaja menabrak Rica sehingga membuat wanita cantik itu dan juga Rica sama terjatuh.


"Aduh!" keduanya mengeluh kesakitan bagian pantatnya.


"Sayang."


Jason langsung membantu kekasihnya untuk berdiri. Dirinya terlihat khawatir ketika melihat wajah kesakitan Rica.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Jason kepada Rica.


"Aku nggak apa-apa. Kamu nggak perlu khawatir," jawab Rica.


Jason melihat kearah wanita yang nasibnya juga sama seperti Rica. Dirinya juga khawatir terhadap wanita itu.


Jason tidak seperti laki-laki pada umumnya yang langsung memarahi seseorang jika sudah menabrak dirinya atau kekasihnya. Itu bukanlah sifatnya. Begitu juga dengan keempat adiknya, saudara dan saudari sepupunya.


Wanita itu berusaha pelan-pelan untuk berdiri. Melihat itu, Jason pun berinisiatif untuk membantu.


"Anda tidak apa-apa. Mari saya bantu," ucap Jason.


"Ach, maaf! Terima kasih," balas wanita itu.


Seketika Jason terkejut ketika melihat wajah wanita yang tak sengaja menabrak kekasihnya.


"Vina! Kamu Vina Adelia Gustavo, bukan!" seru Jason.


Wanita yang bernama Vina itu terkejut ketika pemuda di hadapannya menyebut namanya lengkap dengan marganya. Seketika Vina langsung memberanikan diri untuk melihat wajah pemuda itu karena sejak tadi Vina hanya memejamkan matanya sembari mengusap-usap pantatnya yang sakit.


Sama halnya dengan Jason. Vina juga terkejut ketika melihat salah satu kakak laki-laki dari sahabatnya Riyan.


"Ka-kakak Jason, kakaknya Riyan?" tanya Vina yang saat ini sudah posisi berdiri.


Jason tersenyum mendengar jawaban dari Vina sahabat adik keempatnya.


"Iya, saya Jason. Kakak dari sahabat kamu Riyan. Kamu kenapa? Kenapa lari-lari seperti tadi?"


"Aku tadi dikejar orang gila," jawab Vina asal.


Mendengar jawaban dari Vina membuat Jason dan Rica saling memberikan tatapan. Setelah itu, keduanya kembali menatap kearah Vina dengan tatapan bingungnya.


"Masa sih ada orang gila di dalam mall? Kan di mall ini banyak penjagaannya. Bagaimana bisa orang gila masuk kesini?" tanya Rica yang masih bingung dengan jawaban dari Vina.


Vina seketika tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari wanita yang Vina tahu adalah kekasih dari kakak laki-laki sahabatnya. Apalagi ketika melihat wajah bingung dan tak percaya keduanya.


Ketika Vina ingin menjelaskan maksud dari jawabannya barusan tentang orang gila, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara teriakan dari beberapa wanita yang mengarah kearah mereka.


"Itu dia. Perempuan itu bersama dengan kedua temannya!"


Vina langsung melihat keasal suara. Begitu juga dengan Jason dan Rica.


"Nah, itu yang aku maksud! Mereka itu orang gilanya, kak Jason!" ucap Vina.


Jason dan Rica kembali memberikan tatapan. Setelah itu, kembali melihat sekitar 4 orang yang melangkah menghampiri Vina.


"Ketangkep lo," ucap salah satu wanita itu.


"Vina, siapa mereka?"


"Kalau untuk ketiga kacungnya. Aku tidak kenal. Tapi kalau untuk perempuan yang bermake up tebal itu. Yang lisptiknya menor itu, aku tahu. Dia perempuan yang menabrak aku beberapa hari yang lalu di restoran yang ada di mall ini juga. Dia nabrak aku, malah dia yang marah-marah."


"Terus?" tanya Jason.


"Kak Jason tahulah apa yang terjadi jika sudah mendapatkan lawan yang mulutnya tidak bisa diam. Ditambah lagi yang tidak mau mengalah. Alias merasa dirinya benar."


"Ketika terjadinya perang mulut. Dia ingin melakukan sesuatu padaku. Tapi untung segera dihentikan oleh Kimberly. Mungkin hari ini adalah hari sialku. Aku kembali bertemu dengan dia. Dan lebih parahnya, dia tidak sendirian melainkan bersama para kacungnya."


"Dari pada terjadi perang mulut lagi sama dia. Bahkan bisa lebih parah. Aku mengambil jalan yang terakhir saja."


"Kabur!" seru Jason dan Rica bersamaan.


"AHA!" Vina menari-narikan ibu jarinya di udara dengan bermaksud membenarkan apa yang dikatakan oleh Jason dan Rica.


Jason seketika menarik tangan Vina agar mundur dan berdiri di sampingnya. Bagaimana pun Vina adalah sahabat SMP, SMA dan sahabat kuliahnya Riyan. Dan ditambah lagi cerita yang disampaikan oleh adik perempuannya yang mengatakan tentang pertemuannya dengan Vina. Jason sangat yakin jika adik perempuannya itu mengetahui tentang perasaan sesungguhnya Vina terhadap Riyan, adik laki-lakinya itu.


"Ada urusan apa kalian dengan wanita ini?" tanya Jason kepada perempuan yang memiliki masalah dengan Vina.


"Kau tidak perlu tahu aku punya urusan apa terhadap perempuan murahan itu!" bentak perempuan itu sembari menunjuk kearah Vina.


Rica yang mendengar jawaban serta perkataan kasar dari perempuan itu hanya geleng-geleng kepala.


"Hei, nona. Apa begini cara berbicara anda. Dan apa begini sikap anda jika bertemu dengan seseorang di jalan?" tanya Jason yang masih berusaha untuk sabar.


"Aku katakan sekali lagi. Ini semuanya bukan urusanmu. Jangan kau ikut campur permasalahanku dengan wanita murahan itu!" bentak perempuan itu lagi.


Mendengar perkataan perempuan tersebut untuk dirinya, Vina tak terima. Vina menatap marah kearah perempuan itu.


Ketika Vina hendak menjawab perkataan kejam dari perempuan itu, Jason sudah terlebih dulu menahannya sehingga membuat Vina mau tak mau menurutinya.


Jason menatap kearah perempuan tersebut dengan sorot matanya yang tajam. Dirinya sudah berusaha bersikap ramah dan bahkan berbicara lembut, namun nyatanya perempuan yang ada di hadapannya tak bisa diajak kerjasama.


"Anda sepertinya tipe perempuan yang tidak bisa diajak bicara baik-baik ya. Saya sejak tadi sudah berusaha menghormati anda. Saya berbicara lembut dan juga sopan ketika bertanya. Tapi nyatanya anda sama sekali tidak menunjukkan sikap ramah dan sopan santun kepada saya."


Jason menatap wajah perempuan itu. Lalu menatap tiga perempuan lainnya yang berdiri di samping perempuan tersebut.


"Dikarenakan anda tidak bisa diajak bicara baik-baik. Baiklah! Hanya ada satu cara untuk menghentikan anda dan ketiga teman-teman anda agar berhenti mengganggu perempuan yang berdiri di samping kiri saya ini."


Setelah mengatakan itu, Jason mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Ketika ponselnya sudah ada di tangannya. Jason mengetikkan sesuatu disana.


Selesai mengetiknya, Jason pun mengirimkan tulisan itu kepada salah satu tangan kanannya.


Hanya butuh beberapa menit, tiga laki-laki datang menghampiri dirinya yang saat ini bersama dengan dua perempuan cantik.


"Bos," sapa tangan kanannya itu.


Baik perempuan itu maupun ketiga teman-temannya terkejut ketika mendengar sapaan dan ucapan dari salah satu laki-laki berpakaian hitam kepada laki-laki yang ada di hadapannya. Begitu juga dengan beberapa pengunjung mall yang melihat kejadian itu.


"Joe, kau perhatikan keempat perempuan itu."


Mendengar perkataan dari Bos nya. Laki-laki yang bernama Joe langsung memperhatikan keempat perempuan yang ditunjuk oleh Bos nya.


"Kau cari tahu keluarga mereka. Setelah kau mendapatkan nama keluarga mereka. Aku mau kau hancur keluarga mereka. Dan sisakan saja rumahnya. Selebihnya kau hancurkan."


Mendengar perkataan dari laki-laki yang ada di hadapannya membuat keempat perempuan itu seketika terkejut.


"Baik, Bos!"


"Kau sudah mencari masalah denganku dan juga calon adik iparku. Maka terimalah hukumanmu dengan hancurnya keluargamu," ucap Jason.


Setelah mengatakan itu, Jason pergi dengan menggandeng tangan Rica dan diikuti oleh Vina.


***


"Sudah cukup bermain-mainnya Tommy Alexander!" seru Andhika.


Deg!


Mendengar perkataan dari Andhika membuat Ivan, Lisa, Alisha dan Triny terkejut.


"Apa?! Tommy?!"


Mereka semua melihat kearah laki-laki berpakaian hitam yang duduk di sofa.


Sementara laki-laki berpakaian hitam yang memang adalah Tommy mengumpat kesal.


"Sial! Dari mana Andhika bisa tahu kalau aku ini Tommy," batin Tommy.


Triny yang saat ini masih dalam keadaan disandera oleh laki-laki berpakaian hitam seketika langsung melepaskan tangan laki-laki itu.


Setelah terlepas, Triny langsung menarik penutup wajah dari laki-laki yang ada di hadapannya.


Seketika Triny membelalakkan matanya ketika melihat wajah orang itu.


"Billy!"


Triny menatap dengan wajah super kesal kearah Billy yang menjadi tersangka penyanderaan dirinya.


Sementara Billy hanya memperlihatkan senyuman manisnya di hadapan Triny.


Melihat Billy sudah ketahuan. Terpaksa Tommy serta yang lainnya membuka penutup wajah masing-masing.


"Tommy, Billy, Henry, Lionel, Satya, Mirza, Andry!" seru Lisa, Alisha , Nathan dan Ivan bersamaan. Mereka menatap tajam kearah Tommy dan yang lainnya.


"Kalian benar-benar ya," ucap Lisa kesal.


"Dimana yang lainnya? Nggak mungkin hanya kalian saja?" tanya Ivan.


Tepat setelah Ivan mengatakan itu, Kimberly masuk bersama Aryan, keempat sahabatnya, kelima sahabatnya Aryan dan kedua sahabatnya Triny yaitu Dania dan Danela.


"Aish! Belum apa-apa penyamaran kalian sudah terbongkar. Cemen kalian!" ucap Kimberly yang melangkahkan kakinya langsung menuju sofa yang ada di ruang tengah.


Kimberly langsung duduk di samping Tommy dan disusul oleh Aryan, kelima sahabatnya, keempat sahabatnya Kimberly, Dania dan Danela.


Tak!


Triny memberikan satu jitakan di kening Billy sehingga membuat Billy meringis.


Setelah memberikan jitakan gratis di kening Billy. Triny melangkah menuju sofa dan duduk disana.


Detik kemudian, Billy, Henry, Lionel, Satya, Mirza dan Andry juga ikut menduduki pantatnya di sofa. Mereka duduk di samping kekasihnya masing-masing.


"Wah! Kalian benar-benar berniat ngerjain kita-kita ya!" ucap Nathan.


"Ide siapa?" tanya Andhika dan Triny bersamaan dengan menatap satu persatu orang-orang yang ada di hadapannya kecuali Lisa, Alisha, Nathan dan Ivan.


"Mereka!"


Aryan Lian, Dylan, Raka, Jerry, Evan, Dania, Danela, Billy, Henry, Lionel, Satya, Mirza, Andry, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine secara kompak menunjuk kearah Kimberly dan Tommy.


Sementara Kimberly dan Tommy membelalakkan matanya ketika semuanya menunjuk kearah dirinya.


Triny, Andhika, Nathan, Ivan, Lisa dan Alisha memberikan pelototan kepada Kimberly dan Tommy.


"Jadi lo udah rencanain ini dari awal ya anak kelinci," ucap Triny menatap kesal Kimberly. Tapi tidak benar-benar kesal.


Mendengar perkataan kejam dari kakak sepupunya itu membuat Kimberly memberikan tatapan mautnya.


"Kenapa? Mau marah? Sini, marahin aku sekarang?" tanya Kimberly dengan memasang wajah menantangnya.


Mendengar pertanyaan dari Kimberly. Ditambah lagi ketika melihat wajah menantangnya membuat Triny seketika menarik nafasnya panjang-panjang lalu membuangnya secara pelan-pelan.


Sementara Billy, Tommy, Andhika dan yang lainnya tersenyum geli ketika melihat Triny yang berusaha untuk sabar di hadapan Kimberly yang menurut mereka super menyebalkan.


"Kenapa kamu bisa memiliki ide gila seperti itu Kim? Dan kamu juga Tommy! Kenapa kamu malah ikut-ikutan anak kelinci itu?" tanya Andhika.


Kimberly menatap horor Andhika ketika mendengar Andhika yang menyebut dirinya anak kelinci.


Sementara Andhika menatap kearah lain. Dirinya tidak ingin melihat kearah Kimberly karena tidak ingin melihat wajah menyebalkannya itu.


Andhika dan Tommy memiliki sifat yang sama yaitu sifat yang setia dan bucin terhadap pasangannya. Andhika dan Tommy begitu mencintai Triny dan Kimberly. Mereka tidak ingin berpisah bahkan berjauhan dan kekasihnya itu.


Jadi intinya, Andhika tidak ingin melihat wajah Kimberly karena dirinya akan kalah berdebat dengan Kimberly hingga nanti berakhir dirinya dilarang untuk bertemu dengan Triny. Jika hal itu terjadi, bisa hancur dunia seorang Andhika.


"Kenapa? Mau marah sama aku dan Tommy? Terus, tuh kenapa nggak lihat kearah aku setelah menyebut aku anak kelinci. Justru malah lihat kearah lain. Ngumpatin aku di dalam hati ya dengan terus menyebut anak kelinci?" tanya Kimberly dengan tatapan matanya memicing kadang membesar. Dan jangan lupakan bibirnya yang cemberut seperti anak kecil.


Sementara Triny, Tommy, Billy dan yang lainnya berusaha untuk tidak tertawa melihat wajah menggemaskan Kimberly ketika sedang marah karena bagi mereka situasinya saat ini tak mengenakkan.


Sedangkan Andhika sudah kelabakan ketika mendengar pertanyaan serta tuduhan dari Kimberly. Apalagi melihat wajah tak mengenakkan yang diberikan oleh Kimberly kepadanya.


"Hehehehe. Nggak kok! Aku nggak marah sama kamu. Aku cuma nanya doang tadi. Tadi itu aku kelepasan. Jangan marah ya. Ntar cantiknya hilang loh," ucap Andhika yang berusaha membujuk Kimberly.


Ketika Kimberly ingin menjawab perkataan dari Andhika, tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan panggilan masuk.


Kimberly mengambil ponselnya yang ada di saku jaketnya. Setelah ponselnya di tangannya. Kimberly melihat panggilan video call dari kedua orang tuanya.


Tanpa menunggu lama lagi, Kimberly menjawab panggilan video call itu. Dirinya tidak ingin membuat kedua orang tuanya terlalu lama menunggunya.


Sementara Andhika seketika menghela nafas pasrahnya ketika ponsel Kimberly berbunyi. Sedangkan yang lainnya tersenyum geli melihat wajah Andhika yang tengah menghela nafas pasrahnya.


"Hallo Mom, Dad!"


"Hallo sayang. Sudah sampaikah?"


"Sudah Mom. Ini aku sama yang lainnya sudah berada di Villa calon menantu curut Mommy itu."


Mendengar jawaban dari Kimberly membuat Fathir dan Nashita saling melempar pandangan. Setelah itu kembali menatap ke layar ponselnya.


"Siapa?"


"Apa Tommy?"


"Bukan!"


"Lalu siapa? Bukankah calon menantu laki-lakinya Daddy dan Mommy adalah Tommy?"


Seketika Kimberly tersipu malu ketika mendengar ucapan dari ayahnya. Dirinya tidak menyangka jika kedua orang tuanya akan berbicara seperti. Apalagi perkataan orang tuanya itu didengar oleh Tommy dan yang lainnya.


"Ciee! Yang lagi salting nih," goda Nashita.


"Ih! Apaan sih Mom! Aku matiin nih!"


"Jangan!" Fathir dan Nashita berteriak bersamaan.


"Sekarang katakan pada Daddy dan Mommy. Siapa yang kamu maksud calon menantu curut Mommy dan Daddy?" tanya Fathir.


"Sepupunya Tommy," jawab Kimberly santai.


Mendengar jawaban dari Kimberly membuat Fathir dan Nashita langsung paham dan langsung mengetahui siapa orang yang dimaksud oleh kesayangannya itu. Begitu juga dengan Tommy, Billy dan yang lainnya.


Sedangkan Andhika seketika membelalakkan matanya ketika mendengar jawaban dari Kimberly. Bisa-bisa kekasih dari sepupunya sekaligus calon adik iparnya mengatakan hal kejam itu untuknya.


Triny yang duduk di sampingnya tersenyum sembari tangannya mengusap-usap lembut punggung tangan kekasihnya.


"Sabar," ucap Triny.


"Yah, memang harus seperti itu! Apa ada pilihan lain selain sabar, hum?" tanya Andhika dengan menatap wajah cantik Triny.


Triny tersenyum mendengar ucapan dan pertanyaan dari Andhika. Di dalam hatinya berkata 'tidak ada kata lain selain sabar jika sudah berhadapan dengan Kimberly'.