
"Tommy, dengarkan aku dulu. Foto itu tidak benar. Kamu jangan percaya." Kimberly berusaha terus untuk meyakinkan Tommy bahwa foto tersebut tidak sesuai dengan kenyataan.
"Tapi di foto itu terlihat kamu begitu senang bahkan kamu tidak memberontak ketika bajingan itu memegang tangan kamu, Kim!" Tommy membalas perkataan dari Kimberly tanpa melihat wajah Kimberly.
Kimberly dan Tommy saat ini berada di sebuah Cafe. Mereka duduk sambil berhadapan. Kimberly menatap Kimberly, sedangkan Tommy hanya menatap kearah ponselnya. Sesekali menatap kearah lain.
Tanpa Kimberly dan Tommy ketahui. Di tempat yang sama terlihat seorang pemuda yang sejak tadi menatap kearah dimana Kimberly dan Tommy duduk. Pemuda itu tersenyum sembari menggumam.
"Ini yang aku inginkan."
***
[Pabrik]
Hilda dan beberapa anggota keluarga Fidelyo saat ini berada di Pabrik, lebih tepatnya berada di sebuah ruangan khusus berkumpul para pekerja ketika bersama atasan.
Duagh..
"Aakkhhh!"
Jason memberikan satu tendangan tepat di perut Aiden sehingga membuat pria itu tersungkur ke belakang disertai dengan teriakannya.
"Berani sekali lo mengkhianati keluarga gue!" bentak Jason.
Duagh..
"Aakkhhh!"
Kini Uggy yang memberikan tendangan terhadap Aiden. Bahkan tendangan Uggy lebih kuat dibandingkan dengan tendangan Jason.
"Dan seenaknya lo melimpahkan semua perbuatan lo kepada Barry!" bentak Uggy.
"Jika bukan karena kepintaran adik perempuan gue. Masalah ini tidak akan pernah terungkap. Dan lo akan selamanya menjadi benalu di dalam pabrik ini!" bentak Enda.
"Dan untuk pertama kalinya lo bertemu dengan adik perempuan gue di Pabrik. Lo seenaknya memandang rendah adik perempuan gue dan mengatakan bahwa adik perempuan gue membuat keributan sehingga anak buah lo menyerangnya!" bentak Riyan.
Jason, Uggy, Enda dan Riyan benar-benar marah atas perbuatan curang yang dilakukan oleh Aiden dan beberapa anggotanya di Pabrik milik keluarganya. Mereka tidak terima Aiden dan anggotanya mencurangi keluarganya.
Saat ini kondisi Aiden dan para anggotanya dalam keadaan yang tak baik-baik saja. Wajah terlihat sudah babak belur. Mereka saat dalam keadaan menahan sakit di seluruh tubuhnya, terutama perut. Jason, Uggy, Enda dan Riyan terus menargetkan perut Aiden dan para anggotanya.
Hilda maju beberapa langkah mendekati Aiden dengan tatapan matanya begitu kecewa dan marah.
"Bawa dia berdiri!" perintah Yuki kepada dua anak buahnya.
Kedua anak buahnya langsung menuruti perintahnya dengan langsung menarik paksa Aiden untuk berdiri.
Plak..
Hilda seketika memberikan tamparan keras di wajah Aiden sehingga membuat sudut bibir Aiden berdarah.
"Kau keterlaluan Aiden! Apa salahku dan keluargaku padamu sehingga kau berani bermain curang di dalam Pabrik? Bahkan kau dengan keji melimpahkan kejahatanmu itu kepada Barry."
Sementara Aiden hanya diam dengan kepala yang menunduk. Dia tidak berani menatap wajah Hilda dan anggota keluarga Fidelyo lainnya.
Aiden saat ini masih tampak syok atas apa yang dia alami. Dia bahkan tidak menyangka bahwa keturunan dari Huliya begitu kejam dan mengerikan ketika memberikan hukuman kepada musuhnya.
"Apa alasan kamu sehingga tega mencurangi kami? Apa gaji yang diberikan padamu kurang?" tanya Nashita.
Tidak ada jawaban dari Aiden. Saat ini dirinya masih setia menundukkan kepalanya. Begitu juga dengan anggotanya.
Melihat keterdiaman Aiden membuat Jason kembali emosi. Jason hendak melayangkan tendangan ke perut Aiden, namun ditahan oleh sang ayah.
"Cukup, Jason!"
"Kamu bisa bicarakan? Atau kamu ingin aku melakukan sesuatu terhadap keluarga kamu," ucap Nashita dengan nada mengancam.
Seketika Aiden langsung mengangkat kepalanya dan menatap wajah Nashita. Begitu juga dengan anggota-anggotanya.
"Jangan sakiti keluarga saya, Nyonya!"
Ketika Nashita hendak menjawab perkataan dari Aiden, tiba-tiba terdengar suara yang membuat Aiden dan anggotanya terkejut.
"Sayang sekali, Tuan Aiden! Semua anggota keluarga anda sekarang ini sudah hidup menggembel!"
Deg..
Semua melihat keasal suara termasuk Aiden dan anggotanya. Sedangkan orang tersebut menatap tajam kearah Aiden dan anggotanya.
"Kim!" sapa ketiga kakak laki-lakinya.
Yah! Orang yang bersuara tersebut adalah Kimberly.
Kini Kimberly sudah berdiri di hadapan Aiden dan anggotanya dengan tatapan matanya yang tajam.
"Sudah cukup selama ini kalian dan anggota keluarga kalian hidup bergelimang harta dengan cara menipu keluargaku. Kalian selama ini sudah banyak mengambil keuntungan dari Pabrik. Dan sudah waktunya aku dan keluargaku mengambilnya kembali."
Aiden dan anggotanya terkejut ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Kimberly. Mereka semua tidak menginginkan hal itu terjadi.
"Nona, kami mohon. Jangan lakukan itu. Nona boleh hukum kami. Tapi jangan usik keluarga kami," ucap Aiden sembari memohon kepada Kimberly.
Kimberly tersenyum di sudut bibirnya ketika mendengar ucapan serta permohonan dari Aiden. Begitu juga dengan anggotanya.
"Tapi sayangnya seorang Kimberly tidak menerima permohonan dari orang yang sudah berkhianat, apalagi menipu!"
Aiden melihat kearah Hilda. Dan diikuti oleh anggotanya. Aiden berharap Hilda mau menimang-nimang dan memikirkan keputusan.
"Nyonya, saya mohon. Hukum saja saya dan anggota saya. Jangan libatkan keluarga kami."
"Benar, Nyonya! Jangan libatkan keluarga kami" salah satu anggota Aiden ikut bersuara mewakilkan rekannya.
Hilda melirik kearah Kimberly yang saat ini menatap tajam kearah Aiden dan anggotanya. Hilda sangat paham akan tatapan tersebut.
Setelah melihat kearah Kimberly. Hilda kembali menatap kearah Aiden dan anggotanya.
"Maafkan aku, Aiden. Semua keputusan ada ditangan cucuku Kimberly. Dia yang akan memutuskan hukuman tersebut. Jadi, jika cucuku sudah mengatakan A, maka keputusan itu yang akan terjadi."
Bruukk..
Aiden seketika menjatuhkan tubuhnya di hadapan Kimberly bersamaan dengan kedua tangannya dilipat. Begitu juga dengan anggotanya.
"Nona, kami mohon."
"Jangan libatkan keluarga kami."
"Hukum kami saja, Nona!"
"Disini kami yang bersalah."
Kimberly tersenyum di sudut bibirnya ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Aiden dan beberapa anggotanya.
"Maafkan aku, Tuan Aiden! Keputusan tetaplah keputusan. Kalian sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Anggap saja semua itu untuk mengganti semua kerugian yang kami rasakan selama ini."
Setelah mengatakan itu, Kimberly langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut dan disusul oleh ketiga kakaknya dan para sepupunya. Dan kini tinggal para orang tua serta Hilda.